RADAR TULUNGAGUNG - Indonesia dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi sopan santun dalam kehidupan bermasyarakat.
Salah satu tradisi yang melekat sejak lama adalah salim, yaitu menempelkan tangan orang yang lebih tua ke dahi atau bibir sebagai bentuk hormat.
Budaya ini bukan hanya simbol kesopanan, tetapi juga mencerminkan nilai kekeluargaan yang kuat di masyarakat.
Tradisi salim diyakini berkembang dari perpaduan budaya lokal dan pengaruh Islam. Dalam ajaran Islam, menghormati orang tua dan guru sangat dianjurkan, dan salim menjadi wujud nyata dari ajaran tersebut.
Selain itu, salim juga sudah ada dalam tradisi Nusantara sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua.
Makna Budaya Salim
-
Menghormati orang yang lebih tua – salim menjadi simbol kepatuhan anak kepada orang tua, cucu kepada kakek-nenek, atau murid kepada guru.
-
Menjaga nilai kekeluargaan – tradisi ini mempererat ikatan emosional antaranggota keluarga.
-
Mengajarkan sopan santun sejak dini – anak-anak terbiasa diajarkan salim sejak kecil sebagai bentuk etika pergaulan.
Baca Juga: Budaya Lokal Jadi Lifestyle Anak Muda Zaman Sekarang: Strategi Promosi atau Gerakan Kesadaran?
Salim di Era Modern
Di tengah gempuran budaya global, salim tetap bertahan dan mulai dilestarikan lagi sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia.
Meski sebagian anak muda lebih sering menyapa dengan “tos” atau “pelukan,” salim tetap digunakan di momen formal, hari raya, acara keluarga, maupun di sekolah.
Budaya salim bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, tetapi juga simbol nilai luhur bangsa. Dengan terus melestarikan salim, generasi muda tidak hanya menjaga etika, tetapi juga merawat jati diri budaya Indonesia di tengah perubahan zaman. ****
Editor : Dharaka R. Perdana