Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Di Selembar Kain Batik Menyimpan Doa dan Harapan, Begini Pandangan Ketua Asosiasi Batik dan Wastra Tulungagung

Sandy Sri Yuwana • Jumat, 3 Oktober 2025 | 03:36 WIB

Ada banyak filosofi dan pembelajaran yang bisa diambil dari selembar kain batik. (SANDY YUWANA/RADAR TULUNGAGUNG)
Ada banyak filosofi dan pembelajaran yang bisa diambil dari selembar kain batik. (SANDY YUWANA/RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG - Pada momen Hari Batik Nasional yang jatuh hari ini ada baiknya merenungi makna di dalamnya.

Batik tak sekadar simbol kebanggaan, tapi juga menyimpan kisah panjang tentang doa, harapan, dan jati diri bangsa.

Hal itu disampaikan Ketua Asosiasi Batik dan Wastra Tulungagung, Prayogi S Gamawijaya. Dia menjelaskan bahwa sejak dulu batik tidak pernah hadir hanya sebagai pakaian biasa.

Motif-motif yang digoreskan pada selembar kain sarat makna, lahir dari doa si pembuat batik maupun pesan yang disampaikan pemesan kain.

“Batik sesuai dengan sejarah nenek moyang kita, penuh dengan filosofi. Di balik tiap motif ada doa, ada harapan. Itu yang membuatnya berbeda dengan sekadar kain bermotif,” tutur Prayogi.

Dia menyebut batik sebagai warisan leluhur yang harus dijaga selamanya. Dunia pun telah mengakui batik sebagai warisan budaya tak benda. Namun, menurut dia, pelestarian tidak bisa hanya lewat slogan.

Baca Juga: Tradisi Kirim Nasi Berkat di Tulungagung Pakai Tampah dan Kain Batik Estetika Syukuran yang Tak Lekang oleh Zaman

“Cara paling sederhana menjaga batik adalah dengan memakainya. Kalau dipakai, ia hidup. Kalau hanya disimpan, lama-lama orang melupakannya,” katanya.

Prayogi menekankan pentingnya inovasi bagi para pembatik. Batik harus terus melahirkan motif-motif baru agar tetap diterima masyarakat, terutama generasi muda.

“Kalau saat ini, batik harus bisa diterima mulai dari anak-anak TK hingga orang dewasa. Jadi, pembatik harus bisa menyesuaikan tanpa meninggalkan ruh aslinya,” jelasnya.

Baca Juga: Wisata Edukasi Pusat Batik Majan Tulungagung: Temukan Keindahan dan Filosofi Batik Asli Indonesia

Dengan begitu, batik tidak akan terjebak hanya sebagai busana seremonial, tetapi benar-benar menjadi bagian dari keseharian.

Lebih lanjut, Prayogi menegaskan pentingnya mengenalkan batik kepada anak sejak usia dini. Dia percaya, jika sejak kecil anak-anak sudah akrab dengan batik, mereka akan tumbuh dengan rasa bangga dan kecintaan yang mendalam terhadap warisan leluhur tersebut.

“Anak-anak harus tahu bahwa batik bukan sekadar kain bergambar. Ada nilai emosional, ada filosofi, ada doa di dalamnya. Itu yang membuat batik istimewa dan berbeda dari karya apa pun,” ujarnya.

Hari Batik Nasional tahun ini pun menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak hanya soal memakai busana, tetapi juga menanamkan pemahaman dan rasa cinta di hati generasi muda.

Seperti doa yang tersimpan dalam setiap goresan malam, batik akan terus hidup selama ia dirawat, dipakai, dan dicintai oleh bangsanya sendiri. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#batik #jati diri bangsa #hari batik nasional