Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kecerdasan Buatan Menjadi Tantangan Bagi Pengrajin Batik Tulungagung, Desainer Aji Bram Bilang Begini

Sandy Sri Yuwana • Minggu, 5 Oktober 2025 | 03:27 WIB

Aji Bram, desainer batik asal Tulungagung yang berkarier di Swiss. (DOK PRIBADI)
Aji Bram, desainer batik asal Tulungagung yang berkarier di Swiss. (DOK PRIBADI)

RADAR TULUNGAGUNG - Peringatan Hari Batik Nasional 2025 pada Kamis (2/10/2025) lalu menjadi momen refleksi.

Bukan hanya soal pelestarian, melainkan juga adaptasi batik di era perkembangan teknologi digital yang semakin masif.

Baca Juga: Meresapi Makna Peringatan Hari Batik Nasional 2 Oktober, Simbol Identitas dan Kebanggaan Bangsa

Ditambah kehadiran kecerdasan buatan (AI), menjadi tantangan tersendiri bagi seniman batik di Indonesia, khususnya di Tulungagung.

Namun faktanya, karya seni batik sentuhan emosional manusia tetap belum bisa digantikan oleh AI.

Hal tersebut disampaikan oleh Aji Bram, desainer batik internasional asal Tulungagung yang kini berkarier di Swiss.

Baca Juga: Di Selembar Kain Batik Menyimpan Doa dan Harapan, Begini Pandangan Ketua Asosiasi Batik dan Wastra Tulungagung

Menurut dia, perkembangan zaman yang ditopang teknologi modern, termasuk kecerdasan buatan (AI), telah membawa banyak kemudahan bagi manusia dalam berbagai bidang. Tak terkecuali dunia desain batik.

“AI bisa dimanfaatkan untuk mempercepat karya, menekan biaya, hingga menghasilkan produksi lebih banyak,” ungkap Aji Bram.

Meski demikian, dia menegaskan bahwa kehadiran AI tidak bisa sepenuhnya menggantikan karya manusia.

Baca Juga: Hari Batik Nasional: Warisan Budaya Indonesia yang Diakui Dunia

Perbedaan halus antara batik hasil karya tangan dan desain berbasis mesin tetap nyata jika diperhatikan secara seksama.

“Bagaimanapun craftsmanship, the irreplaceable human touch, tidak bisa digeser oleh teknologi. Karena di dalam karya manusia ada nilai emosional, rasa, intuisi, ide, hingga prinsip yang berbeda-beda, dan itu tidak mungkin ditiru oleh AI,” jelasnya.

Bagi Aji Bram, batik bukan sekadar motif kain, melainkan representasi filosofi, identitas, dan karakter bangsa.

Oleh sebab itu, meskipun teknologi mampu menghadirkan inovasi, penghargaan terhadap sentuhan tangan manusia tetap harus dijaga.

Peringatan Hari Batik Nasional tahun ini pun, menurutnya, harus menjadi ruang bagi generasi muda untuk terus melestarikan batik sambil membuka diri terhadap perkembangan zaman. Tanpa kehilangan ruh budaya yang terkandung di dalamnya. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#tulungagung #batik #aji bram #hari batik nasional