RADAR TULUNGAGUNG - Festival Kue Bulan atau Mid-Autumn Festival kembali hadir tahun ini dan jatuh pada tanggal 6 Oktober 2025.
Perayaan khas masyarakat Tionghoa ini sarat makna kebersamaan, keutuhan keluarga, dan syukur atas hasil panen.
Tak hanya tradisi, beragam kue bulan dengan isian unik dan modern siap memeriahkan meja keluarga hingga festival kuliner di berbagai kota.
Baca Juga: Kue Putu, Kue Tradisional dengan Aroma Bambu dan Rasa Manis yang Bikin Nostalgia
Ragam Kue Bulan (Mooncake) yang Populer
Kue bulan memiliki berbagai variasi isian dan bentuk. Beberapa yang umum ditemui seperti pasta kacang merah (red bean), pasta biji teratai (lotus seed paste), kuning telur asin dalam kombinasi isian manis-gurih, dan kacang hijau.
Selain itu ada varian modern berupa inovasi rasa buah, cokelat, teh hijau, atau versi rendah gula yang mulai populer di kota-kota besar.
Baca Juga: Kue Cucur, Resep Jajanan Pasar Legendaris yang Menyimpan Sejarah di Indonesia
Bentuknya umumnya bulat, simbol keutuhan dan kesempurnaan. Motif permukaan kue bulan sering dihiasi pola bunga, bulan, karakter keberuntungan, atau lambang kemakmuran.
Tradisi dan Makna di Balik Festival
Festival Kue Bulan kaya dengan simbolisme dan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun:
Simbol kebersamaan dan keharmonisan keluarga Bulan purnama diasosiasikan dengan keutuhan, sehingga saat festival, keluarga berkumpul untuk menikmati kue bulan bersama.
Umumnya makan kue bulan ditemani minum teh di malam hari menjadi ritual umum. Apalagi juga diterangi cahaya lentera dan parade lampion adalah tradisi populer di banyak komunitas, sebagai simbol penerangan dan harapan
Baca Juga: Kue Ubi Ungu yang Sangat Diminati Banyak Generasi: Lezat, Sehat, dan Kekinian! Banyak Manfaat dan Variasi Olahan .
Dalam Festival Kue Bulan juga sering diceritakan kisah tentang dewi bulan Chang’e yang tinggal di istana bulan menjadi bagian kisah romantis dan mistis dalam festival ini.
Namun terlepas dari itu semua, festival ini juga merupakan momen syukur atas panen musim gugur, di mana masyarakat menghormati alam dan bulan sebagai simbol berkah dan kemakmuran.
Di kota-kota seperti Singkawang, festival tak hanya bersifat budaya, tapi juga ajang pemberdayaan ekonomi: UMKM lokal turut meramaikan bazar kuliner, pameran, dan kegiatan pendukung lainnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana