Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mengulik Tari Jaranan Turangga Yaksa KhasTrenggalek, dari Ritual Panen Hingga Taktik Perang Kuno

Mohammad Dzakwan Wahyu Nur Fauzan • Kamis, 9 Oktober 2025 | 05:03 WIB

Penampilan jaranan turangga yaksa putri yang indah dipandang mata.
Penampilan jaranan turangga yaksa putri yang indah dipandang mata.

RADAR TULUNGAGUNG - Turangga Yaksa adalah salah satu mahakarya budaya Jawa Timur yang memiliki akar kuat dalam kehidupan agraris masyarakat Trenggalek, khususnya di Kecamatan Dongko.

Kesenian ini, yang dikenal sebagai jenis Kuda Lumping khas Trenggalek, tidak hanya menyuguhkan tarian yang eksotis dan menawan, tetapi juga menyimpan cerita filosofis yang mendalam tentang hubungan manusia dan alam.

Wujudnya yang khas jaran atau kuda berkepala raksasa dengan rambut lebat tergerai menjadi identitas pembeda dibandingkan kesenian jaranan lain di Jawa Timur.

Sejak diciptakan oleh Pamrih pada 1979, Tari Jaranan Turangga Yaksa telah menjadi representasi sistem budaya setempat dan terus berjuang untuk eksistensinya, bahkan menginspirasi penciptaan karya seni kriya tekstil modern.

Awal mula diciptakannya Tari Turangga Yaksa erat kaitannya dengan upacara ritual yang dikenal sebagai Baritan.

Baritan merupakan akronim dari "bar ngarit tanduran," yang berarti setelah musim panen tiba saatnya untuk menanam kembali.

Upacara ini adalah bentuk rasa syukur masyarakat petani Dongko atas hasil panen yang melimpah dan juga sebagai ritual bersih desa atau tasyakuran.

Baca Juga: Budaya Salim di Indonesia: Makna, Sejarah, dan Relevansinya di Era Modern

Pamrih menciptakan tarian ini sebagai respons atas kepedulian seseorang bernama Teguh untuk mempertahankan ritual Baritan yang sempat dilupakan, yang kala itu pernah diwarnai kegagalan panen dan wabah. Tarian ini diciptakan dengan mengambil gerakan-gerakan sehari-hari para petani di Dongko.

Secara substansi, gerakan Tari Turangga Yaksa secara spesifik berbeda dari kesenian jaranan umum lainnya, sebab keseluruhan geraknya merupakan interpretasi tata cara masyarakat petani mengolah sawah, mulai dari datang ke sawah hingga saat memanen.

Uniknya, meski berlatar belakang agraris, kesenian ini juga memiliki kaitan historis dengan cerita kepahlawanan dan taktik perang kuno di wilayah Wengker Wetan (Trenggalek saat ini).

Baca Juga: Kebudayaan Lokal Mulai Terkikis di Era Globalisasi? Ini Langkah Penyelamatan yang Bisa Kita Lakukan

Dualitas Filosofis: Ksatria dan Buto

Wujud kuda berkepala raksasa (buto) yang menjadi ciri khas Turanggo Yaksa mengandung simbolisme yang kuat.

Dalam konteks sejarah yang lebih tua, konon, Jaranan Turanggo Yaksa bermula dari taktik perang yang disusun oleh Warok Suromenggolo, bawahan Ki Ageng Surya Alam, saat pengikutnya mengungsi ke Trenggalek dari invasi Kesultanan Demak setelah jatuhnya Ponorogo.

Untuk mengalahkan pasukan Demak yang ketakutan terhadap hal-hal kejawen, pasukan Suromenggolo membuat wayang kuda berkepala raksasa buto dalam jumlah banyak.

Taktik ini berhasil saat gerhana bulan, membuat pasukan Demak kaku dan tumbang karena ketakutan. Setelah itu, wayang berkepala raksasa buto tersebut digunakan sebagai kesenian ritual tolak bala, dan kemudian dinamakan Jaranan Turangga Yaksa, yang berarti kuda lumping berbentuk raksasa buta.

Dalam konteks filosofi seni, kuda yang ditunggangi penari (ksatria) merupakan adaptasi dari kisah Pañji, simbol pangeran mulia yang tak terkalahkan.

Ksatria tersebut diharapkan mampu mengendalikan "buto" atau raksasa, yang sering diartikan sebagai tenaga potensial atau nafsu yang jelek.

Kemampuan menunggangi kuda-buto (Turangga-Yaksa) digambarkan sebagai kemampuan mengendalikan dan menaklukkan nafsu, serta mengarahkannya pada kebaikan dan kerja sama dengan para petani.

Sementara itu, simbol jaran dalam jaranan Turangga Yaksa juga disebut menceritakan Dadung Awuk yang bertugas menjaga tanaman dan hewan piaraan petani.

Baca Juga: Masyarakat Sering Menabuh Kentongan Saat Gerhana Bulan, Ternyata Ini Makna Sebenarnya dalam Budaya Jawa

Ragam Gerakan yang Menggambarkan Kehidupan Petani

Tarian Jaranan Turangga Yaksa memiliki dua ragam gerak pokok: gerak baku (ukel) dan gerak tambahan (lawung). Seluruh gerakan ini merupakan cerminan nyata dari latar belakang masyarakat Dongko sebagai petani.

Gerak Baku (Ukel) dan Filosofi Agraris

Gerak baku (Ukel) dalam tari Turonggo Yakso secara rinci menggambarkan tahapan aktivitas di sawah:

Budhalan: Menggambarkan gerakan bapak dan ibu petani yang berangkat menuju sawah.

Sembahan (Nenuwun): Sikap memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang juga digambarkan mirip gerakan mencabuti rumput yang mengganggu tanaman.

Negar sengkrak: Gerakan petani berjalan di pematang sawah.

Sengkrak gejuk: Menggambarkan petani yang sedang mencangkul sawah (mengolah tanah).

Sirik gejuk (Tandur): Menampilkan petani saat menanam padi, di mana gerakannya adalah berjalan ke samping atau belakang sambil menghentakkan kaki (nyirik).

Gagak lincak (Matun): Gerakan membersihkan rumput, lalu rumput dimasukkan ke lumpur dengan cara diinjak.

Lompat gantung: Menggambarkan gerakan petani ketika memupuk tanaman padi.

Lompat gejuk: Menggambarkan petani yang sedang memanen padi (nggeblok, memisahkan bulir padi dari tangkai).

Makan minum: Menggambarkan petani yang sedang beristirahat.

Perang-perangan atau bersenang-senang/gegojekan: Menampilkan petani yang sedang panen.

Pulang, ulih-ulihan: Gerakan menampilkan petani yang selesai bekerja di sawah.

Gerak Tambahan (Lawung)

Selain gerak baku, terdapat gerak tambahan (Lawung) atau gerak peralihan/kembangan:

Lawung lumaksana: Berjalan dengan melangkah ke depan secara bergantian.

Lawung lampah tiga: Gerakan melangkah ke depan dan ke belakang.

Lawung ngigel: Berjalan sambil menggerakkan bahu badan.

Lawung nggareng: Gerakan kaki meniru wayang Gareng.

Lawung reting: Gerakan kaki bergerak ke kanan dan ke kiri bergantian.

Lawung tolehan: Berjalan menyamping dengan kaki kanan dan kiri, diikuti gerakan kepala menoleh ke kanan dan ke kiri.

Baca Juga: Penampilan Barongan Boleh Seram, Namun Beberapa Hal Berikut Bisa Dipelajari dari Kesenian Ini

Eksistensi dan Inspirasi Budaya

Kesenian Jaranan Turonggo Yakso menyebar luas di seluruh Trenggalek dan kerap dipentaskan sebagai hiburan dalam ritual Baritan atau pagelaran festival.

Di Trenggalek sendiri, telah diselenggarakan Festival Jaranan setiap tahun sejak 1995, yang menampilkan Jaranan Turangga Yaksa dan non-Turangga Yakso.

Kesenian ini begitu kuat merefleksikan eksotika dunia persawahan (agraris) yang diterjemahkan ke dalam alur gerak tari.

Baca Juga: Pangku Raih Empat Penghargaan di Busan International Film Festival, Bakal Tayang di Indonesia November Mendatang

Bahkan, nilai-nilai dan alur cerita di balik tarian ini telah menginspirasi karya seni kriya modern. Contohnya, cerita Tari Turonggo Yakso diulik dan diwujudkan ke dalam enam karya kain panjang batik tulis oleh seorang kriyawan.

Ini menggunakan teknik pewarnaan colet dan celup dengan zat sintetis seperti napthol, remasol, dan indigosol.

Karya batik tersebut bertujuan mengangkat kembali tradisi dan budaya daerah Trenggalek. Ini menunjukkan bahwa Turonggo Yakso, lebih dari sekadar tarian, adalah identitas budaya yang terus hidup dan beradaptasi, menjadikannya warisan tak benda Jawa Timur yang patut terus dilestarikan.

 

Editor : Dharaka R. Perdana
#jaranan #kuda lumping #Turangga Yaksa #trenggalek