RADAR TULUNGAGUNG-Di balik keelokan selembar kain batik, tersimpan makna yang dalam, kisah yang panjang, dan nilai-nilai sakral yang jarang diketahui banyak orang.
Salah satu motif yang menyimpan kekuatan simbolis tersebut adalah batik Parang,
sebuah warisan budaya dari lingkungan keraton yang tidak hanya indah, tetapi juga penuh makna dan aturan pemakaian.
Motif Parang bukan sekadar pola artistik yang dirangkai secara simetris. Dalam sejarahnya, batik ini merupakan simbol kekuasaan, kebijaksanaan, dan keteguhan hati.
Tak heran jika dahulu, hanya kalangan tertentu yang diperbolehkan mengenakannya terutama para raja, bangsawan, dan keluarga inti keraton di Yogyakarta maupun Surakarta.
Kata "Parang" berasal dari kata "pereng", yang berarti lereng atau kemiringan.
Hal ini tercermin dari bentuk motifnya yang menyerupai ombak berbaris diagonal menyerupai tebing curam atau pedang.
Filosofinya sangat mendalam: perjuangan tanpa henti, kekuatan yang tak mudah goyah, dan konsistensi dalam menghadapi kehidupan.
Baca Juga: Meresapi Makna Peringatan Hari Batik Nasional 2 Oktober, Simbol Identitas dan Kebanggaan Bangsa
“Motif Parang dulunya sangat sakral. Di masa lalu, tidak sembarang orang boleh mengenakan batik ini. Bahkan, bisa dianggap melanggar adat jika rakyat biasa mengenakannya tanpa izin,” ujar seorang pengrajin batik asal Solo, R. Widiyanto, kepada media lokal dalam sebuah wawancara tahun lalu.
Ada banyak variasi dari motif Parang, seperti Parang Rusak, Parang Barong, Parang Klitik, dan lainnya.
Namun yang paling tinggi derajat kesakralannya adalah Parang Barong, yang diyakini hanya boleh dikenakan oleh raja.
Parang Rusak, dengan bentuk lebih lembut dan estetis, menjadi simbol perlawanan terhadap kejahatan dalam diri manusia.
Tak hanya berfungsi sebagai pakaian, batik Parang juga memiliki makna ritual. Dalam sejumlah acara keraton, seperti jumenengan (penobatan raja),
batik Parang menjadi pakaian wajib sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan simbol kebijaksanaan pemimpin.
Namun seiring berjalannya waktu, makna eksklusif batik Parang mulai bergeser. Saat ini, masyarakat umum sudah bisa mengenakan motif ini dalam berbagai acara,
meskipun sebagian pengrajin dan budayawan masih menyarankan untuk memahami konteks dan nilai filosofis sebelum memakainya.
“Yang penting adalah rasa hormat terhadap budaya. Ketika kita mengenakan batik Parang, kita juga mengenakan nilai-nilai luhur, keteguhan, perjuangan, dan integritas. Jangan asal pakai tanpa tahu artinya,” tambah Widiyanto.
Pemerintah melalui UNESCO juga telah mengakui batik sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia sejak 2009.
Dan batik Parang menjadi salah satu motif yang paling sering ditampilkan dalam pameran budaya tingkat internasional. ****
Editor : Dharaka R. Perdana