RADAR TULUNGAGUNG - Ki Anom Suroto dikenal luas sebagai salah satu maestro dalang wayang kulit Purwa yang karyanya telah menembus batas-batas negara, bahkan sudah dipentaskan di lima benua yang berbeda.
Namun, sosok kelahiran Klaten, 11 Agustus 1948 ini, tidak hanya berfokus pada panggung wayang semata.
Melalui karya-karya tradisionalnya, Ki Anom Suroto juga aktif melakukan kegiatan dakwah, salah satunya melalui sebuah lagu yang dikenal sebagai Kidung Pepeling.
Kidung ini memiliki fungsi spesifik sebagai media pengingat untuk melaksanakan sholat, yang kerap diperdengarkan dalam rangkaian pujian pasca adzan.
Sebagai salah satu dalang kondang di tanah air, peran Ki Anom Suroto dalam menjaga dan mengembangkan budaya Jawa, khususnya wayang, sangat monumental.
Namun, yang menarik perhatian adalah bagaimana beliau mengintegrasikan kesenian tradisional dengan ajaran agama Islam. Kidung Pepeling, yang diinisiasi oleh Ki Anom Suroto, merupakan contoh nyata upaya dakwah yang dilakukan dengan cara halus dan bersentuhan dengan budaya lokal.
Dakwah sendiri adalah kegiatan menyerukan, memanggil, mengajak, atau mengimbau seseorang, yang dalam konteks Islam dilakukan untuk menyebarkan informasi terkait ajaran agama.
Dengan pesan peringatan untuk menjalankan sholat yang terkandung di dalamnya, Kidung Pepeling menjadi sarana efektif dalam menyalurkan informasi keagamaan ini.
Penelitian mendalam bahkan telah dilakukan untuk mengupas lapisan-lapisan makna yang tersembunyi dalam lirik Kidung Pepeling karya Ki Anom Suroto ini.
Penelitian yang diterbitkan dalam Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal tersebut bertujuan untuk menemukan makna konotasi, denotasi, dan mitos yang terkandung di dalam lirik kidung tersebut.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kritis sastra, yaitu menggunakan kerangka semiotika Roland Barthes.
Proses pengumpulan dan analisis data dilakukan secara kualitatif deskriptif, di mana teks lirik Kidung Pepeling dikumpulkan, diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, dan kemudian dianalisis berdasarkan makna denotatif, konotatif, dan mitosnya.
Hasil dari penelitian ini mengonfirmasi ditemukannya tanda-tanda semiotik berupa makna denotasi, konotasi, dan mitis dalam lagu Pepeling tersebut.
Perjalanan di Dunia Pedalangan
Karier Ki Anom Suroto sebagai dalang sudah dimulai sejak tahun 1975 silam. Kecintaannya terhadap wayang telah ditempa sejak usia belia.
Ia mulai memperdalam ilmu pedalangan sejak usia 12 tahun, belajar dari Ki Nartasabdo dan maestro dalang lainnya.
Jauh sebelum memulai karier profesional di tahun 1975, Ki Anom Suroto bahkan sudah tampil di RRI sejak tahun 1968.
Seiring waktu, rasa kecintaannya terhadap wayang semakin mendalam, dan ia beberapa kali memperluas wawasannya, termasuk belajar di Himpunan Budaya Surakarta (HBS).
Kesuksesan karya-karya Ki Anom Suroto tidak hanya terbatas pada lingkup daerah atau nasional saja. Ia dikenal secara internasional dan bahkan menjadi dalang Indonesia pertama yang berhasil tampil di lima benua yang berbeda.
Beberapa negara yang pernah disinggahi oleh Ki Anom Suroto untuk memamerkan karyanya meliputi Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Spanyol, Australia, hingga Rusia. Pencapaian ini merupakan bentuk kesuksesan Ki Anom dalam memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia ke mata dunia.
Atas dedikasi dan kontribusinya, Ki Anom Suroto telah meraih beragam penghargaan. Salah satunya adalah terpilih sebagai dalang kesayangan dalam Pekan Wayang Indonesia VI pada tahun 1993.
Selain itu, ia juga mendapatkan kehormatan berupa Satya Lencana Kebudayaan yang diserahkan langsung oleh Presiden Soeharto.
Secara formal, Ki Anom Suroto memiliki nama lengkap Ki KKRT H. Lebdo Nagoro Anom Suroto dan pernah menjabat sebagai ketua III Pengurus Pusat Persatuan Pendalangan Indonesia (Pepadi) periode 1996 hingga 2001.
Pada tahun 1978, ia juga diangkat menjadi abdi dalem Penewu Anon-anon dengan gelar Mas Ngabehi Lebdocarito.
Baca Juga: Makna Malam dalam Budaya Jawa, Waktu Hening untuk Introspeksi Diri dan Mengolah Batin
Selain aktif berprofesi sebagai dalang, Ki Anom Suroto menunjukkan komitmen yang tinggi dalam pembinaan dan regenerasi seni pedalangan.
Ia aktif sebagai pembina pedalangan, membimbing dalang-dalang muda baik dari daerahnya sendiri maupun dari daerah lain. Sebagai upaya untuk menjaga kualitas dan integritas seni pedalangan, ia juga secara rutin mengadakan forum kritik pedalangan dalam bentuk sarasehan dan pentas di kediamannya.
Inovasi Ki Anom Suroto tidak berhenti di situ. Ia juga terlibat dalam penciptaan komposisi gamelan Jawa, atau yang dikenal sebagai gening jawa, dengan beberapa karyanya seperti Mas Sopir, Berseri, Satria Bhayangkara, dan ABRI Rakyat Trus Manunggal.
Dalam aspek kelembagaan, Ki Anom Suroto juga mempelopori inovasi koperasi dalang. Koperasi ini bergerak dalam bidang simpan pinjam, serta penjualan alat-alat dan perlengkapan wayang. Lebih lanjut, beliau juga menjadi pelopor berdirinya Yayasan Sesaji Dalang.
Seluruh kegiatan ini menunjukkan bahwa peran Ki Anom Suroto jauh melampaui sekadar pementasan wayang, melainkan mencakup pelestarian, pembinaan, dan bahkan dakwah, menjadikannya sosok inspiratif yang berhasil memadukan kesenian adiluhung dengan nilai-nilai spiritual. ****
Editor : Dharaka R. Perdana