RADAR TULUNGAGUNG - Rumah Joglo bukan sekadar bangunan tradisional khas suku Jawa, melainkan simbol mendalam dari filosofi hidup masyarakatnya.
Setiap tiang, ruang, dan bentuk yang menyusun rumah Joglo memiliki arti tersendiri, menggambarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Salah satu ciri paling khas dari rumah joglo adalah keberadaan empat tiang utama yang disebut saka guru.
Keempat tiang ini menjadi penopang utama bangunan sekaligus simbol keseimbangan dan kekuatan dalam kehidupan.
Baca Juga: Mengupas Sejarah dan Jenis Rumah Joglo, Simbol Status Sosial dan Kearifan Budaya Jawa
Tak peduli berapa pun jumlah tiang tambahan, keberadaan saka guru selalu menjadi inti dari struktur rumah.
Bagian teras rumah joglo juga memiliki filosofi unik. Teras yang luas dan tanpa sekat dirancang untuk mendorong interaksi sosial, menggambarkan sifat keterbukaan masyarakat Jawa terhadap sesama.
Di sini, tamu, tetangga, dan keluarga bisa berinteraksi tanpa batas, menumbuhkan rasa kebersamaan dan silaturahmi.
Sementara itu, jendela berukuran besar yang menghiasi rumah joglo mencerminkan perpaduan budaya.
Gaya arsitektur Belanda berpadu harmonis dengan nilai-nilai lokal Jawa, menghasilkan rumah yang sejuk, terang, dan penuh nuansa tradisional. Jumlah jendela yang banyak juga melambangkan keterbukaan dan kejujuran pemilik rumah.
Baca Juga: Rumah Joglo Pendapa, Warisan Budaya Jawa yang Masih Dilestarikan Hingga Kini
Hal menarik lainnya adalah pintu utama yang berada di tengah bangunan. Letak pintu yang sejajar dengan ruang bagian belakang bukan sekadar pilihan desain, tetapi mencerminkan filosofi keterbukaan dan keharmonisan antara pemilik rumah dan tamu yang datang.
Tak ketinggalan, pagar rumah joglo pun memiliki makna. Dikenal dengan istilah pager mangkok, pagar ini biasanya dibuat dari tanaman perdu rendah, bukan dari bambu atau tembok tinggi.
Filosofinya sederhana namun mendalam: agar hubungan dengan tetangga tetap terbuka, mudah bertegur sapa, dan mempererat ikatan sosial di lingkungan sekitar.
Struktur Ruangan yang Hierarkis dan Sarat Makna
Selain bentuknya yang megah, rumah joglo juga diatur berdasarkan sistem hierarki ruang. Setiap bagian memiliki fungsi dan nilai sosial yang berbeda.
1. Pendapa
Terletak di bagian depan, pendopo digunakan untuk kegiatan bersifat umum seperti pertemuan, acara adat, dan pertunjukan seni.
Ruang ini terbuka tanpa dinding, melambangkan keramahan dan keterbukaan masyarakat Jawa dalam menerima tamu.
Baca Juga: Warung Kopi di Tulungagung Bernuansa Joglo Jawa yang Kian Populer
2. Omah Njero (Dalem)
Bagian tengah rumah dikenal sebagai omah njero atau omah ageng. Di sinilah kehidupan keluarga berlangsung.
Ruang ini lebih pribadi dan hanya diperuntukkan bagi anggota keluarga, menandakan batas antara urusan publik dan domestik.
3. Senthong Tengah (Krobongan)
Inilah ruang paling sakral dalam rumah joglo. Biasanya digunakan untuk menyimpan pusaka keluarga, tempat meditasi, sembahyang, atau penghormatan kepada Dewi Sri, dewi kesuburan dan kemakmuran dalam kepercayaan Jawa.
Senthong Tengah melambangkan hubungan spiritual antara manusia dengan Tuhan dan leluhur.
Baca Juga: Ratusan Kicau Mania Antusias Berlomba di Waroeng Winna Joglo
Warisan Kearifan Lokal yang Tak Lekang oleh Waktu
Keunikan arsitektur dan filosofi rumah joglo tidak hanya menggambarkan keindahan estetika, tetapi juga menjadi cerminan nilai-nilai luhur masyarakat Jawa tentang keseimbangan, keterbukaan, kesederhanaan, dan keharmonisan.
Meski kini rumah modern semakin mendominasi, nilai-nilai dari rumah joglo tetap hidup dan relevan. Joglo bukan sekadar bentuk fisik, tetapi juga pelajaran berharga bagi generasi masa kini dan mendatang tentang pentingnya menjaga jati diri dan kearifan lokal di tengah arus modernisasi. ****
Editor : Dharaka R. Perdana