RADAR TULUNGAGUNG - Perupa Tulungagung, Sigit Priyananto, kembali menyapa publik dengan menggelar pameran tunggal kelimanya.
Berlangsung mulai 2 hingga 9 November 2025, pameran yang digelar di Sanggar Lukis Matahari ini mengusung tema "Sawang Sinawang" yang sarat dengan makna dan kritik sosial.
Istilah Jawa yang secara harfiah berarti "saling memandang" ini menjadi pintu masuk bagi Sigit untuk mengajak audiens merenungkan kembali totalitas dalam menjalani proses kehidupan, terutama bagi sesama pekerja seni.
Baca Juga: 21 Agustus, Sejarah Pencurian Lukisan Fenomenal Mona Lisa yang Menggemparkan Dunia
Menurut Sigit, tema tersebut tak melulu soal melihat, tetapi lebih dalam tentang introspeksi diri dalam berkarya.
Pria berkacamata ini mengungkapkan, inti dari pamerannya kali ini adalah ajakan untuk totalitas dan rasa syukur dalam proses berkesenian.
Dia menyoroti kecenderungan banyak orang yang hanya melihat hasil akhir kesuksesan orang lain tanpa menyadari perjalanan panjang yang dilalui.
Baca Juga: Candi Prambanan Yogyakarta Miliki Pesona Alami saat Malam Hari: Seindah Lukisan Alam
“Kita melihat orang lain kadang itu kan enak sekali, tapi enak itu kan perlu proses. Masing-masing orang prosesnya juga nggak sama,” ujarnya.
Dia melanjutkan, rasa iri kerap muncul karena kurangnya rasa syukur dan totalitas terhadap pilihan hidup.
“Kita itu kadang melihat orang lain kok enak, terus kita kok nggak bisa enak. Mungkin juga bisa berangkatnya karena apa yang kita kerjakan itu nggak ada rasa syukur, kita mengerjakan pekerjaan, ambil keputusan jadi seniman itu juga tidak totalitas,” jelas Sigit,
Baca Juga: Bukan Sugesti, Ternyata Lihat Lukisan Bisa Nurunin Stres loh
Sigit mengaku pameran tunggal yang memajang 24 lukisan karyanya ini juga menjadi cara untuk memotivasi dirinya agar terus produktif. Selain sebagai dorongan personal, pameran ini juga menjadi ajang silaturahmi.
"Kalau saya lebih banyak sebenarnya juga pameran ini untuk memotivasi diri saya. Artinya, saya terus untuk berkarya," ungkapnya.
“Saya pengin itu sebagai bentuk silaturahmi. Artinya, dengan menggelar pameran, saya bisa mengumpulkan rekan-rekan kita. Bisa ngobrol, makan bersama,” tambahnya.
Untuk diketahui, pameran tunggal Sigit digelar selama sepekan penuh. Yaitu pada 2-9 November di sanggar miliknya yang berlokasi di Jalan Dr Sutomo Gang VIII Nomor 48, Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tulungagung.
Dari puluhan karya yang dipamerkan, terdapat satu panel lukisan yang secara spesifik mewakili tema “Sawang Sinawang” dan membawa pesan kritik yang tajam.
Baca Juga: Air Terjun Parang Kikis, Lukisan Alam yang Tersembunyi di Hutan Gambiran Tulungagung
Karya tersebut adalah panel yang terdiri dari tiga lukisan berukuran 60x60 sentimeter dengan media cat akrilik di kanvas yang diberi judul "Ojo Gampang Alok".
"Sebenarnya bisa mewakili dari tema ‘Sawang Sinawang’ itu ‘Ojo Gampang Alok’ (jangan mudah mencela atau menghakimi)," tutur Sigit, menjelaskan salah satu karyanya yang paling signifikan.
Lebih lanjut, pameran ini juga disajikan Sigit sebagai ruang apresiasi bagi masyarakat umum dan penikmat seni di Tulungagung.
Baca Juga: Viral Anies Baswedan Bicara dengan Lukisan Bung Hatta, Ucapkan Negara Sedang Bermasalah
Total terdapat 24 lukisan khusus yang memang disiapkan dan dikonsep untuk dipamerkan dalam ruang pamer utama.
“Dengan pameran ini sebagai ruang apresiasi buat masyarakat juga penikmat seni di Tulungagung. Jadi, artinya ini ruang yang bagus untuk rekreasi juga,” pungkasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana