RADAR TULUNGAGUNG – Suasana halaman Kantor Kecamatan Ngantru, Tulungagung mendadak berubah meriah, Kamis malam (13/11).
Ratusan warga memadati lokasi demi menyaksikan pagelaran wayang kulit yang menjadi salah satu agenda peringatan Hari Jadi ke-820 Kabupaten Tulungagung. Gelaran budaya itu berlangsung hangat, tertib, dan sarat pesan moral.
Acara dibuka pukul 21.15 dengan Tari Gambyong oleh Sanggar Tari Kecamatan Ngantru. Begitu lagu Indonesia Raya dikumandangkan dan doa bersama dipanjatkan, suasana langsung menjadi khidmat.
Camat Ngantru Sumarji Kuswantoro dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas kepercayaan Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo yang menempatkan Ngantru sebagai salah satu titik pagelaran budaya.
“Wayang mengajarkan nilai kesetiaan dan tanggung jawab. Ini warisan yang tetap relevan hingga hari ini,” ujarnya.
Tak hanya menghadirkan tontonan, kegiatan juga diisi aksi sosial. Ketua Panitia Hari Jadi ke-820 Kabupaten Tulungagung Fuad Saiful Anam menyerahkan santunan kepada empat anak yatim dan empat kaum duafa.
Baca Juga: Nguri-uri Budaya, Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo, Beri Kejutan di Wayangan Rutin Pakudhatu
Santunan simbolis itu didampingi jajaran muspika dan menjadi penegas bahwa peringatan hari jadi kali ini mengedepankan sisi kemanusiaan.
Prosesi penyerahan wayang Gathutkaca dari Kades Pucung Lor kepada camat, lalu ke ketua panitia dan akhirnya kepada dalang Ki Eko Prisdianto, menjadi penanda dimulainya lakon Gathutkaca Winisudha.
Sejak awal pementasan, penonton dibuat terhibur oleh gaya dalang yang cermat dan komunikatif. Aksi humor dan dialog jenaka memancing gelak tawa warga. Penampilan bintang tamu Meo CS turut menambah ramai suasana.
Sekitar pukul 00.15, Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo datang ke lokasi. Kehadirannya disambut jajaran muspika dan para kepala desa se-Kecamatan Ngantru.
Meski agenda padat, bupati tetap menyempatkan hadir sebagai bentuk komitmen terhadap pelestarian budaya.
Dalam sambutan yang dibacakan Fuad Saiful Anam, bupati menegaskan bahwa momentum Hari Jadi ke-820 harus menjadi refleksi perjalanan panjang Tulungagung.
“Pelestarian budaya tidak sekadar menjaga seni pertunjukan, tetapi mempertahankan identitas kita sebagai bangsa,” tegasnya.
Sejumlah tokoh terlihat hadir, di antaranya Danramil Ngantru Kapten Inf. Usmar Umar, Kapolsek AKP Edi Santoso, KH Amu Siddiq Amanah, serta KH Mastur Yusuf.
Baca Juga: Membedah Perbedaan Wayang Pagelaran dan Wayang Ruwat: Hiburan atau Ritual Sakral?
Para kepala desa dan istri, perangkat desa, jajaran pendidikan, kepala puskesmas, hingga kepala KUA yang baru bertugas juga hadir menyemarakkan acara.
Pagelaran wayang kulit di Ngantru merupakan satu dari empat titik penyelenggaraan yang digelar untuk memeriahkan Hari Jadi ke-820 Kabupaten Tulungagung.
Selain menjadi tontonan, pertunjukan ini sekaligus menjadi tuntunan yang meneguhkan nilai kebersamaan, spiritualitas, dan edukasi bagi masyarakat.
Warga Ngantru menunjukkan bahwa melestarikan budaya tidak bertentangan dengan modernitas. Justru budaya menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang berkarakter dan berjati diri kuat. ****
Editor : Dharaka R. Perdana