RADAR TULUNGAGUNG - Film dokumenter Tambang Emas Ra Ritek menjadi sorotan nasional setelah meraih penghargaan Dokumenter Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2025. Kemenangan ini menegaskan kuatnya suara perlawanan warga Trenggalek terhadap ancaman tambang emas di daerah mereka.
Karya ini disutradarai Alvina N.A., perempuan muda asal Kecamatan Pule yang melibatkan warga sejak proses awal. Ia menyebut film ini sebagai hasil kolaborasi hati dan keberanian masyarakat yang ingin melindungi alamnya.
Judul “Ra Ritek” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “tidak usah”. Frasa sederhana ini menjadi simbol penolakan warga terhadap eksploitasi lingkungan yang mengancam ruang hidup mereka.
Film ini merekam keresahan warga dengan cara yang intim. Kamera sederhana digunakan untuk menangkap ekspresi tulus petani, nelayan, seniman, dan tokoh agama yang menolak tambang secara damai.
Isu yang diangkat bukan sekadar konflik tambang biasa. Film ini menelusuri akar persoalan izin tambang yang muncul sejak 2005 dan rencana eksploitasi penuh pada 2029.
Karya ini juga mengungkap minimnya transparansi pemerintah dalam menerbitkan izin tambang. Warga merasa tidak pernah dilibatkan dalam proses yang berpengaruh besar pada hidup mereka.
Proses produksi film dimulai dengan riset mendalam dan pengumpulan arsip perjuangan warga pada Februari 2025. Syuting berlangsung tiga bulan hingga film selesai pada Mei 2025.
Penayangan perdana dilakukan di Kecamatan Kampak yang sejak lama menjadi target eksploitasi tambang emas. Pemutaran di wilayah ini menjadi simbol bahwa warga adalah pusat dari cerita yang diangkat.
Setelah penayangan awal, film ini berkeliling ke berbagai kota besar. Malang, Surabaya, Yogyakarta, hingga Madura menjadi beberapa wilayah yang menerima antusias tinggi penonton.
Setiap pemutaran menghadirkan diskusi terbuka bersama warga setempat. Topiknya berkisar pada dampak tambang terhadap air, pertanian, dan masa depan ekologi desa.
Pendanaan pasca produksi dilakukan dengan cara kreatif. Warga menjual kaos dan zine bertema lingkungan untuk mendukung penyelesaian film ini.
Kini Tambang Emas Ra Ritek bersaing sejajar dengan karya sineas Indonesia ternama. Kemenangan di FFI 2025 menjadi pengakuan bahwa suara masyarakat bisa berdiri di panggung nasional.
Bagi Alvina dan tim, penghargaan bukan tujuan akhir. Hal terpenting adalah menjaga dokumentasi perjuangan warga tetap hidup dan menguatkan solidaritas antar daerah.
Solidaritas ini menyatukan komunitas-komunitas yang melawan kerusakan lingkungan di Indonesia. Film ini menjadi jembatan emosional bagi siapapun yang peduli pada keberlanjutan alam.
Karya ini membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari lensa sederhana. Anak muda Trenggalek berhasil mengubah keresahan kolektif menjadi kekuatan yang menggugah banyak orang. ****
Editor : Dharaka R. Perdana