Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Lahir di Kediri Besar di Surabaya: Begini Sejarah Berdirinya Majalah Jaya Baya, Penjaga Bahasa Jawa Sejak 1945

Dharaka R. Perdana • Selasa, 2 Desember 2025 | 06:08 WIB

 

Salah satu cover majalah Jaya Baya di 2025. (FACEBOOK YENI ENDAH)
Salah satu cover majalah Jaya Baya di 2025. (FACEBOOK YENI ENDAH)

RADAR TULUNGAGUNG - Pada 1 Desember ini majalah Jaya Baya yang menggunakan bahasa Jawa tepat berusia 80 tahun.

Jaya Baya merupakan salah satu majalah berbahasa Jawa tertua dan paling berpengaruh di Indonesia.

Pertama kali terbit pada 1 Desember 1945 di Kediri, Jaya Baya hadir sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat Jawa untuk tetap mempertahankan identitas budaya di tengah pergolakan pasca-kemerdekaan.

Hingga hari ini, Jaya Baya dikenal sebagai media yang konsisten memuliakan bahasa dan sastra Jawa di tengah arus modernitas.

Baca Juga: Bermodal Majalah Bekas, Salsabila Dhita Nurani Getol Buat Collage Art

Pendirian majalah “Jaya Baya tidak bisa dilepaskan dari beberapa nama tokoh pejuang Indonesia.  

Mereka para pendiri majalah ‘Jaya Baya’ ini adalah para pejuang, antara lain Soewandi Tjitrawasita (ayah Totilawati Tjitrawasita), Tadjib Ermadi (seorang guru Taman Siswa), dan Wasis (pimpinan Pemuda Republik Indonesia Kediri).

Pengelola pertama majalah ini adalah Djasmadi (bekas anggota Shu Sangikai Muspida Karesidenan Kediri) sebagai direktur, Tadjib Ermadi, Soewandi Tjitrawasita, dan Ahmad Soedibyono sebagai redaktur, serta Maridie Danoekoesoemo (KNI Kotapraja Kediri) sebagai pegawai tata usaha.

Waktu itu, bahan-bahan untuk penerbitan perdana diperoleh dari bantuan Samadikun, Asisten Residen Kediri, yang mengizinkan penggunaan kertas percetakan ‘Sedia’.

Baca Juga: 46 Tahun Berkecimpung di Sastra Jawa, Narko Sodrun Diganjar Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur, Begini Ceritanya

Peralatan percetakan diperoleh dari Surabaya melalui perjuangan Tadjib Ermadi dan Pemuda Pelajar (TRIP) Gatot Iskandar, Prihanta, Soekmadi, Oemar Said, serta dibantu Pemuda Republik Indonesia Surabaya.

Mereka meminta bahan-bahan penerbitan ke percetakan ‘Suara Asia’ pimpinan R.M. Abdoel Wahab Djojowirono; ketika Surabaya sedang mengalami ultimatum dari tentara Inggris.

Abdul Wahab mengizinkan peralatannya dibawa ke Kediri sehingga terbitlah majalah dwimingguan ‘Jaya Baya’ yang berkantor di Jalan Ngadisimo 19, Kediri.

Namun, di tengah kondisi yang serba darurat itu, para pendiri Jaya Baya melihat pentingnya menghadirkan ruang literasi berbahasa Jawa.

Majalah ini diciptakan untuk menjaga eksistensi bahasa Jawa sebagai bahasa budaya, menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, serta mewadahi karya sastra seperti cerkak, cerbung, puisi, dan kritik sosial.

Nama “Jaya Baya” dipilih sebagai penghormatan kepada Raja Jayabaya dari Kediri, sosok legendaris yang sarat nilai kebijaksanaan.

Nama ini melambangkan harapan agar majalah tersebut menjadi simbol kejayaan dan kelanggengan budaya Jawa.

Setelah beberapa waktu terbit di Kediri, Jaya Baya kemudian memindahkan pusat penerbitannya ke Surabaya.

Baca Juga: Inilah Karya Sastra Fenomenal Joko Pinurbo Semasa Hidup

Perpindahan ini bukan hanya soal logistik semata, tetapi juga strategi untuk memperluas cakupan distribusi dan memanfaatkan fasilitas percetakan yang lebih maju. 

Di Surabaya, Jaya Baya berkembang menjadi majalah budaya yang lebih matang. Rubrik-rubriknya makin beragam.

Mulai dari artikel kebudayaan, pitutur moral, cerita rakyat, karya sastra Jawa, hingga ulasan isu sosial dengan gaya bahasa khas Jawa. 

Sejak dekade 1950-an hingga 1990-an, Jaya Baya menjadi tempat penting bagi para penulis dan sastrawan Jawa untuk berkarya.

Baca Juga: Sunarko Sodrun Budiman dan Cerita Kedua Kalinya Sabet Hadiah Sastra Rancage

Banyak nama besar yang memperkaya sastra Jawa melalui halaman Jaya Baya, menjadikannya pusat literasi budaya yang hidup hingga lintas generasi. 

Konsistensinya membuat Jaya Baya memiliki posisi unik: bukan sekadar majalah, tetapi juga arsip sejarah budaya Jawa modern.

Memasuki era digital, dunia media mengalami perubahan besar. Banyak majalah berhenti terbit atau beralih bentuk.

Namun, Jaya Baya tetap bertahan. Majalah ini terus terbit, baik dalam bentuk cetak maupun digital, dan tetap memegang teguh komitmennya sebagai media berbahasa Jawa. 

Di tengah gempuran teknologi, Jaya Baya berdiri sebagai simbol keteguhan bahwa bahasa daerah tetap relevan dan layak dirawat.

Lebih dari tujuh dekade sejak pertama kali terbit, Majalah Jaya Baya telah menjadi saksi perjalanan bangsa sekaligus penjaga khazanah sastra Jawa.

Sejarahnya merupakan bukti bahwa budaya daerah dapat bertahan jika dirawat dengan konsistensi dan kecintaan.

Jaya Baya bukan hanya majalah, ia adalah warisan, ruang ingatan, dan penanda bahwa bahasa Jawa tetap hidup di hati para pembacanya. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#kediri #majalah jaya baya #bahasa jawa #1 desember #surabaya