RADAR TULUNGAGUNG — Di balik gemuruh kendang dan lirihnya gending tayub Tulungagungan, tersimpan kisah panjang tentang ketekunan, bakat, dan kecintaan pada seni tradisi.
Salah satunya datang dari sosok Yono Prawito, atau yang akrab disapa Nyono, pengrawit sekaligus pencipta gending tayub yang namanya dikenal di kalangan seniman karawitan Tulungagung.
Yono Prawito lahir pada 8 Desember 1949 di Desa Batangsaren, Kecamatan Kauman, Tulungagung.
Ia tumbuh dari keluarga sederhana yang sama sekali tak memiliki latar belakang kesenimanan. Ayahnya, Kawit, adalah seorang buruh tani, sementara sang ibu, Katemi, mengabdikan diri sebagai ibu rumah tangga. Yono merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara.
Kehidupan keluarga Yono jauh dari kata berkecukupan. Kawit tak memiliki sawah sendiri, sehingga harus menggantungkan hidup sebagai buruh tani dengan sistem bagi hasil.
Penghasilan baru didapat saat masa panen tiba. Untuk menambah pemasukan, Kawit juga berdagang hasil bumi seperti ubi, jagung, dan pisang.
Hasil panen milik tetangga dibelinya, lalu dijual kembali ke pasar. Pekerjaan tambahan ini dilakukan ketika hasil panen sawah tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Dari sembilan bersaudara, hampir semuanya mengikuti jejak orang tua sebagai petani. Namun, Yono Prawito menjadi satu-satunya yang memilih jalan berbeda.
Ia menapaki dunia seni, mengabdikan hidupnya sebagai pengrawit sekaligus pencipta gending tayub Tulungagungan.
Ketertarikan Yono pada seni karawitan sudah tumbuh sejak usia sangat dini. Saat berumur sekitar lima tahun, ia kerap mengikuti ayahnya menyaksikan latihan karawitan yang kebetulan berlangsung di dekat rumah mereka.
Meski bukan seniman, Kawit dikenal sebagai penikmat seni. Ia sering mengajak anak-anaknya “momong” atau sekadar bermain sambil menonton latihan karawitan di malam hari.
Bagi Kawit, tempat latihan itu menjadi ruang hiburan sederhana, pelepas penat setelah seharian bekerja di sawah.
Tanpa disadari, kebiasaan itulah yang menanamkan benih kecintaan seni dalam diri Yono kecil. Dari sekadar menonton, mendengarkan, hingga akhirnya larut dalam irama gamelan, jalan hidup Yono Prawito pun perlahan mengarah ke dunia karawitan.
Baca Juga: Generasi Muda Tulungagung Bangkitkan Kesenian Tradisional: Tayub, Jaranan, dan Campursari
Nama Yono Prawito pun dikenal sebagai salah satu sosok penting dalam pelestarian tayub Tulungagungan.
Dari latar keluarga petani sederhana, ia membuktikan bahwa seni bisa tumbuh subur dari tanah desa, selama ada ketekunan dan cinta yang dijaga sepenuh hati. ****
Editor : Dharaka R. Perdana