Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Prabu Brawijaya V Masuk Islam dan Runtuhnya Majapahit Tanpa Perang, Penjelasan KH Said Aqil Siradj Bikin Merinding

Anggi Septian A.P. • Sabtu, 10 Januari 2026 | 20:40 WIB
Prabu Brawijaya V masuk Islam disebut KH Said Aqil Siradj sebagai penutup Majapahit tanpa perang. Ini kisah runtuhnya imperium besar Jawa.
Prabu Brawijaya V masuk Islam disebut KH Said Aqil Siradj sebagai penutup Majapahit tanpa perang. Ini kisah runtuhnya imperium besar Jawa.

JAKARTA – Kisah Prabu Brawijaya V masuk Islam kembali menjadi perbincangan publik setelah disampaikan KH Said Aqil Siradj dalam sebuah pengajian.

Mantan Ketua Umum PBNU itu menuturkan bahwa runtuhnya Kerajaan Majapahit tidak terjadi melalui peperangan atau pertumpahan darah, melainkan lewat proses spiritual dan perubahan keyakinan sang raja terakhir.

Menurut KH Said Aqil Siradj, Kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu-Buddha perlahan kehilangan legitimasi spiritual ketika Prabu Brawijaya V masuk Islam.

Peristiwa ini disebut sebagai bagian dari desain ilahi yang membuat Majapahit “sirna tanpa perang”, sebagaimana ungkapan Jawa kuno sirno ilang kertaning bumi.

Prabu Brawijaya V masuk Islam, dalam penuturan tersebut, tidak dapat dilepaskan dari konteks keluarga dan hukum syariat.

KH Said Aqil menyinggung pernikahan Prabu Brawijaya dengan perempuan muslimah yang secara hukum Islam dinilai tidak sah, karena seorang laki-laki non-Muslim tidak diperbolehkan menikahi perempuan Muslim.

Pernikahan dan Anak yang Mengubah Sejarah

Dari pernikahan itulah lahir seorang anak bernama Jin Bun, yang dalam sejarah kemudian dikenal sebagai Raden Patah.

Karena status pernikahan tersebut tidak sah menurut syariat, Jin Bun disebut tumbuh terasing dari istana Majapahit dan akhirnya meninggalkan lingkungan keraton.

Raden Patah kemudian berguru kepada Syekh Rahmatullah atau Sunan Ampel di Ampel Denta. Setelah memeluk Islam, namanya berubah menjadi Abdul Fattah.

Dalam waktu singkat, ia menguasai ilmu agama dan mendapat restu untuk mendirikan kerajaan Islam.

Tak lama kemudian berdirilah Kesultanan Demak Bintoro, kerajaan Islam pertama di Tanah Jawa, dengan Raden Patah sebagai rajanya.

Fakta bahwa putra Prabu Brawijaya V justru mendirikan kerajaan baru berbasis Islam disebut KH Said Aqil sebagai titik balik sejarah Jawa.

Rakyat Meninggalkan Majapahit

KH Said Aqil menuturkan, berdirinya Demak membuat gelombang masyarakat Majapahit beralih kesetiaan.

Perlahan, rakyat meninggalkan Majapahit dan mengikuti pusat kekuasaan baru yang dinilai lebih sesuai dengan nilai spiritual Islam.

Situasi itu membuat Prabu Brawijaya V berada pada posisi sulit. Ketika legitimasi politik dan spiritualnya melemah, sang raja akhirnya memutuskan masuk Islam.

Dalam pandangan KH Said Aqil, inilah momen penutup Majapahit sebagai sebuah imperium besar.

“Majapahit bubar tanpa bom, tanpa darah, tanpa perang,” ujar KH Said Aqil dalam pengajian tersebut.

Masuk Islam sebagai Takdir Sejarah

KH Said Aqil menekankan bahwa peristiwa Prabu Brawijaya V masuk Islam bukan sekadar keputusan personal, melainkan bagian dari kehendak Allah.

Ia menyebutnya sebagai iradah azaliyyah, kehendak Tuhan yang sudah ditetapkan jauh sebelum peristiwa itu terjadi.

Masuk Islamnya Prabu Brawijaya V disebut menjadi simbol berakhirnya satu peradaban besar dan lahirnya tatanan baru di Jawa.

Kejayaan Majapahit yang dikenal sakti dan kuat secara militer, menurut KH Said Aqil, kalah oleh kekuatan doa dan spiritualitas para santri.

Pesantren sebagai Benteng Moral

Dalam pengajiannya, KH Said Aqil juga mengaitkan runtuhnya Majapahit dengan peran pesantren sebagai benteng moral masyarakat Jawa.

Ia menyebut pesantren mampu bertahan dari berbagai upaya penjajahan dan sekularisasi, mulai dari masa VOC hingga politik etis Belanda.

Menurutnya, pesantren tidak hanya mendidik ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter, solidaritas, dan kesederhanaan hidup.

Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi kuat dalam membangun peradaban Islam di Nusantara.

KH Said Aqil menegaskan bahwa pesantren sejak awal tidak mencetak santri untuk mengejar jabatan atau kekuasaan, melainkan membentuk manusia berakhlak.

Model pendidikan inilah yang disebutnya sebagai kunci kekuatan Islam di Jawa hingga hari ini.

Antara Sejarah dan Dakwah

Meski bersumber dari pengajian, kisah Prabu Brawijaya V masuk Islam tetap menjadi bagian penting dalam narasi Islamisasi Jawa.

Ia hidup dalam tradisi lisan, babad, dan dakwah, yang meski tidak seluruhnya tercatat dalam sumber sejarah primer, memiliki pengaruh kuat dalam kesadaran kolektif masyarakat.

Bagi KH Said Aqil Siradj, kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan pelajaran bahwa perubahan besar dalam sejarah sering lahir dari kekuatan spiritual, bukan kekerasan.(*)

Editor : Anggi Septian A.P.
#majapahit #KH Said Aqil Sirad #jawa #Prabu Brawijaya V #masuk islam