RADAR TULNGAGUNG – Indonesia dikenal sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia dan mayoritas Muslim terbesar secara global.
Namun jauh sebelum Republik ini berdiri, fondasi geopolitik Nusantara telah diletakkan oleh Kerajaan Majapahit, sebuah kekaisaran maritim yang pernah menguasai wilayah luas dari Sumatra hingga Papua.
Berpusat di Trowulan, yang kini berada di Mojokerto, Jawa Timur, Kerajaan Majapahit tampil sebagai thalassokrasi atau penguasa lautan.
Kekuatannya tidak hanya bertumpu pada militer, tetapi juga pada kendali jalur perdagangan internasional yang menghubungkan Cina, India, Persia, dan Arab melalui jalur sutra maritim.
Sejarah Kerajaan Majapahit tidak bisa dilepaskan dari kondisi geografis Pulau Jawa yang subur dan strategis.
Dengan belasan gunung berapi aktif, Jawa menjadi salah satu wilayah agraris paling produktif di dunia.
Posisi ini menjadikan kerajaan-kerajaan Jawa sebagai aktor utama dalam distribusi rempah-rempah sejak awal Masehi.
Dari Singhasari ke Lahirnya Majapahit
Cikal bakal Majapahit berawal dari runtuhnya Kerajaan Singhasari akibat pemberontakan Jayakatwang dari Kediri.
Raden Wijaya, menantu Kertanegara, berhasil melarikan diri dan memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol Dinasti Yuan untuk menjatuhkan Jayakatwang.
Namun setelah Kediri berhasil ditaklukkan, Raden Wijaya justru berbalik menyerang pasukan Mongol dengan strategi perang gerilya.
Ketidaktahuan Mongol terhadap medan Jawa dan berakhirnya angin muson memaksa mereka mundur.
Peristiwa ini menandai berdirinya Kerajaan Majapahit pada 1293, dengan Raden Wijaya bergelar Kertarajasa Jayawardhana.
Konflik Internal dan Peran Gajah Mada
Masa awal Majapahit diwarnai konflik internal dan pemberontakan elite istana. Sepeninggal Raden Wijaya, tahta jatuh ke tangan Jayanegara, raja yang pemerintahannya penuh intrik dan ketidakstabilan. Sejumlah pemberontakan, termasuk Ra Kuti, mengguncang kerajaan.
Stabilitas baru tercapai ketika tokoh militer bernama Gajah Mada muncul sebagai figur kunci.
Setelah kematian Jayanegara, Tribhuwana Wijayatunggadewi naik takhta dan mengangkat Gajah Mada sebagai Mahapatih. Di sinilah sejarah Kerajaan Majapahit memasuki fase ekspansi besar.
Sumpah Palapa dan Puncak Kejayaan
Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa, berjanji tidak akan menikmati kesenangan sebelum berhasil menyatukan Nusantara.
Di bawah kepemimpinan Tribhuwana dan kemudian Hayam Wuruk, Majapahit berhasil menaklukkan Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Semenanjung Malaya.
Kitab Nagarakretagama mencatat wilayah Majapahit mencakup hampir seluruh Nusantara.
Pada masa Hayam Wuruk, Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya sebagai kekuatan agraris, maritim, dan perdagangan terbesar di Asia Tenggara.
Kekuatan Militer, Ekonomi, dan Budaya
Majapahit memiliki armada laut tangguh dengan kapal jong yang mampu menandingi kapal Eropa awal.
Pasukan elit Bhayangkara dikenal sangat terlatih, sementara Mpu Nala mengamankan dominasi laut dan Gajah Mada memimpin strategi darat.
Secara ekonomi, Majapahit mengekspor beras, rempah-rempah, kayu cendana, gading, hingga logam.
Kota pelabuhan menjadi pusat interaksi global, menjadikan ibu kota Majapahit sebagai kota kosmopolitan.
Di bidang budaya, Majapahit mewariskan filosofi “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa”, yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu.
Prinsip toleransi Hindu-Buddha ini kemudian menginspirasi ideologi persatuan Indonesia modern.
Kemunduran dan Warisan Sejarah
Setelah wafatnya Hayam Wuruk, konflik suksesi dan Perang Paregreg melemahkan kerajaan.
Bangkitnya Kesultanan Malaka dan Demak, serta penyebaran Islam di pesisir Jawa, semakin menggerus pengaruh Majapahit.
Runtuhnya ibu kota Majapahit menandai berakhirnya era kerajaan Hindu besar di Jawa.
Namun warisan Kerajaan Majapahit tetap hidup, baik dalam budaya Bali, tradisi Jawa Timur, maupun dalam konsep kebangsaan Indonesia.
Hingga kini, Majapahit dikenang bukan hanya sebagai kerajaan besar, tetapi sebagai simbol persatuan, toleransi, dan kekuatan maritim Nusantara yang membentuk fondasi Indonesia.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan