Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Reog Kendang Tulungagung: Dari Perantauan Gemblak hingga Warisan Budaya Daerah

Dara Shauqy Hadiwijaya • Jumat, 16 Januari 2026 | 18:40 WIB

Penampilan Reog Kendang Tulungagung sebagai warisan seni tradisi Jawa Timur.
Penampilan Reog Kendang Tulungagung sebagai warisan seni tradisi Jawa Timur.

TULUNGAGUNG - Kesenian Reog Kendang Tulungagung lahir dari perjalanan panjang budaya para gemblak (penari Warok) Reog Ponorogo yang merantau ke Tulungagung pada masa kolonial Belanda. Berawal dari hiburan sederhana pelepas lelah, kesenian ini berkembang menjadi tari rakyat khas Tulungagung yang sarat makna perjuangan dan kerja sama, serta resmi dikenal sejak sekitar tahun 1978.

 

Asal-Usul dari Perantauan Gemblak

Para gemblak Ponorogo datang ke Tulungagung untuk mencari nafkah sebagai petani cengkeh dan penambang marmer. Di sela-sela pekerjaan berat, mereka menabuh kendang sederhana menyerupai ketipung satu sisi sebagai sarana hiburan.

Aktivitas menabuh kendang itu kemudian berkembang menjadi bentuk tarian yang menggambarkan perjalanan panjang mengiringi Ratu Kilisuci menuju Gunung Kelud, sebuah kisah legendaris yang melekat kuat dalam tradisi Jawa Timur.

 

Kolaborasi dengan Reog Thek

Seiring waktu, tarian ini berkolaborasi dengan kesenian rakyat Reog Thek (Jaranan). Perpaduan inilah yang melahirkan identitas baru sebagai Reog Kendang khas Tulungagung, berbeda dari Reog Ponorogo namun tetap berakar pada tradisi leluhur.

Sekitar tahun 1978, pertunjukan ini diakui sebagai gubahan tari rakyat yang menceritakan kisah kepahlawanan dan kegigihan enam prajurit Kedhirilaya yang mengawal Ratu Kilisuci.

 

Baca Juga: Bunga KUR BRI 2026 Turun? Ini Simulasi Cicilan Per Bulan & Syarat Penting untuk UMKM

 

Legenda dan Nilai Filosofis

Dalam kisahnya, enam prajurit mengawal Ratu Kilisuci menuju Gunung Kelud untuk melihat hasil pekerjaan Jathasura. Perjalanan berat itu diinterpretasikan melalui gerakan tari yang menggambarkan naik turun lembah, membawa beban, dan semangat pantang menyerah.

Tarian ini mengajarkan nilai kerja sama, tanggung jawab, disiplin, dan keberanian, sekaligus memperkuat identitas budaya Tulungagung sebagai daerah yang kaya seni tradisi.

 

Ciri Khas Pertunjukan Reog Kendang

Pertunjukan Reog Kendang dibawakan oleh enam penari, masing-masing memainkan jenis kendang berbeda, yakni:

Gerakan tari bersifat ekspresif, dinamis, dan energetik, menampilkan sikap membungkuk, terhuyung-huyung, hingga hentakan kuat yang melambangkan perjuangan prajurit.

Para penari mengenakan kostum prajurit klasik berlengan panjang dengan motif kuning di bagian dada, mempertegas nuansa heroik dalam pertunjukan.

Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya
#sejarah #reog kendang #warisan budaya #reog kendang tulungagung #sejarah reog