TULUNGAGUNG - Jaranan Sentherewe Tulungagung merupakan kesenian tradisional yang lahir sekitar tahun 1958 di Dukuh Sukorejo, Desa Rejoagung. Kesenian ini muncul dari kreativitas seniman jaranan dan ludruk yang berupaya menghidupkan kembali minat masyarakat terhadap pertunjukan rakyat, sekaligus menghadirkan bentuk tontonan yang lebih dinamis dan atraktif.
Latar Belakang Kelahiran Sentherewe
Pada akhir 1950-an, pertunjukan Jaranan Pegon mulai kehilangan pamor. Kondisi ini mendorong para seniman lokal untuk berinovasi dengan memadukan unsur jaranan dan ludruk menjadi satu kesatuan pertunjukan yang lebih hidup.
Kolaborasi tersebut melahirkan Jaranan Sentherewe, yang menonjolkan gerakan penari lincah, meloncat-loncat, dan ekspresif. Nama “Sentherewe” diambil dari kesan gerak yang mirip orang kegelian atau gatal akibat tanaman senthe dan rewe.
Ciri Khas Pertunjukan
Pertunjukan Jaranan Sentherewe menggunakan sejumlah properti utama, antara lain:
-
kuda kepang,
-
barongan (naga),
-
kucingan (singa),
-
kendang, serone, dan kempul.
Salah satu ciri visual yang menonjol adalah gigi taring caplokan di bagian bawah barongan, yang melambangkan kekuatan penopang dan kewibawaan.
Dari sisi cerita, tarian ini menggambarkan keperkasaan pasukan berkuda Raja Klana Sewandana dalam menghadapi musuh yang disimbolkan melalui sosok barong dan jejaplok.
Perkembangan hingga Era Modern
Seiring waktu, Jaranan Sentherewe berkembang dari bentuk sederhana menjadi kreasi yang lebih variatif. Salah satu varian populer adalah Jaranan Sentherewe Turangga Wijaya, yang memadukan iringan gamelan Jawa dan campursari agar lebih relevan dengan selera penonton masa kini.
Perkembangan ini membuat Jaranan Sentherewe tidak hanya dikenal di Tulungagung, tetapi juga mendapat apresiasi di wilayah lain, termasuk Yogyakarta.
Fungsi Sosial dan Makna Budaya
Awalnya, Jaranan Sentherewe sering dipentaskan dalam ritual bersih desa sebagai bentuk syukur masyarakat. Kini, kesenian ini juga tampil dalam berbagai acara publik, termasuk peringatan Hari Kemerdekaan.
Secara simbolis, Jaranan Sentherewe merepresentasikan kekuatan, keberanian, dan identitas budaya Jawa. Meski pernah disalahpahami terkait isu politik di masa lalu, seni ini tetap bertahan sebagai warisan budaya Tulungagung yang bernilai tinggi.
Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya