Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Jejak Kerajaan Kuno Sebelum Masehi di Pulau Jawa Terungkap, Kisah Migrasi Besar hingga Awal Peradaban Singosari

Muhammad Rusdian Nuzula • Rabu, 21 Januari 2026 | 15:50 WIB

Kitab kuno mengungkap kerajaan kuno sebelum Masehi di Pulau Jawa, dari migrasi asing hingga awal peradaban Singosari.
Kitab kuno mengungkap kerajaan kuno sebelum Masehi di Pulau Jawa, dari migrasi asing hingga awal peradaban Singosari.

RADAR TULUNGAGUNG – Sejumlah kitab kuno mengungkap fakta menarik tentang keberadaan kerajaan kuno sebelum Masehi di Pulau Jawa, jauh sebelum munculnya kerajaan-kerajaan besar seperti Medang, Singasari, hingga Majapahit.

Kisah ini tercatat dalam berbagai sumber tradisional, salah satunya Babad Tanah Jawi yang ditulis Soejito Abimanyu, yang menyebut bahwa Pulau Jawa telah dihuni oleh kelompok pendatang dari luar Nusantara sejak ratusan tahun sebelum Masehi.

Dalam naskah kuno tersebut, disebutkan bahwa sebelum menjadi pulau terpadat di Indonesia, Jawa justru merupakan wilayah yang masih tertutup hutan lebat dan dihuni berbagai binatang buas. Pulau ini bahkan disebut memiliki nama lama, yakni Nusa Kendang, sebelum kemudian dikenal sebagai Tanah Jawi atau Jawa.

Migrasi Penduduk Asing ke Pulau Jawa

Sumber-sumber kuno mengisahkan bahwa gelombang awal penghuni Pulau Jawa berasal dari luar wilayah Nusantara. Beberapa naskah menyebut asal mereka dari wilayah Turki, sementara sumber lain menyatakan berasal dari daerah Dekhan, India.

Baca Juga: Pasca Keracunan di SMKN 3 Boyolangu, Aktivitas SPPG Yayasan Mutiara Rawa Selatan Dihentikan Sementara

Migrasi besar ini konon terjadi sekitar tahun 350 sebelum Masehi dan dipimpin oleh tokoh bernama Aji Keler.

Dikisahkan, Raja Rum mengirim sekitar 20.000 laki-laki dan 20.000 perempuan dalam misi pemindahan penduduk ke Pulau Jawa. Namun, misi ini bukanlah yang pertama.

Upaya serupa sebelumnya pernah dilakukan pada tahun 450 sebelum Masehi, tetapi mengalami kegagalan karena kondisi alam Pulau Jawa yang masih liar dan belum layak huni.

Nusa Kendang dan Awal Nama Tanah Jawi

Pada gelombang kedua, Pulau Jawa digambarkan sebagai pulau datar yang tertutup hutan, dengan berbagai satwa buas yang mengancam keselamatan pendatang.

Meski demikian, di wilayah tersebut tumbuh tanaman bernama jawi, yang kemudian dipercaya menjadi asal-usul penamaan Tanah Jawi atau Jawa.

Lokasi pendaratan para pendatang tidak disebutkan secara pasti, namun diperkirakan berada di wilayah Semampir, kawasan yang kini dekat dengan Surabaya.

Sayangnya, dari puluhan ribu pendatang, hanya sekitar 40 pasang yang mampu bertahan hidup. Kondisi ini mendorong pengiriman gelombang ketiga dengan persiapan yang jauh lebih matang.

Baca Juga: Rumor Bernardo Tavares ke Persebaya Surabaya Dibantah Keras Agen: Dari Euforia Bonek hingga Drama Spekulasi Tanpa Dasar

Gelombang Ketiga dan Awal Permukiman Aman

Pada gelombang ketiga, para pendatang dibekali peralatan lengkap, mulai dari senjata untuk melindungi diri dari binatang buas hingga alat pertanian.

Mereka juga dipimpin oleh seorang tokoh bernama Raja Kana yang diangkat untuk menjaga ketertiban dan mencegah pelarian.

Gelombang ketiga ini disebut berhasil membuka hutan dan menyebar ke wilayah pedalaman Pulau Jawa.

Dari sisi kepercayaan, kelompok ini diyakini menganut animisme, menandai fase awal perkembangan budaya dan spiritual masyarakat Jawa kuno.

Masuknya Kaum Hindu dan Cikal Bakal Kerajaan

Sejarah juga mencatat adanya gelombang keempat migrasi sekitar tahun 100 sebelum Masehi. Kelompok ini terdiri dari kaum Hindu, yang sebagian besar berprofesi sebagai petani dan pedagang.

Baca Juga: Transfer Persebaya Surabaya Putaran Kedua Memanas: Leo Andrade hingga Joao Tavares Masuk Radar, Lini Bajul Ijo Siap Dirombak Total

Mereka meninggalkan India akibat konflik keyakinan, lalu menetap di wilayah Pasuruan dan Probolinggo.

Secara perlahan, kelompok ini membangun koloni di bagian selatan Pulau Jawa dengan pusat permukiman di kawasan Singosari.

Dari sinilah embrio kerajaan kuno sebelum Masehi di Pulau Jawa mulai terbentuk, meski struktur kepemimpinannya belum tercatat jelas.

Nyai Kedi dan Awal Kerajaan Jawa Kuno

Dalam beberapa naskah, disebutkan adanya tokoh perempuan yang memegang kekuasaan di wilayah Kediri, yakni Nyai Kedi.

Ia diyakini memerintah sekitar tahun 900 Masehi, meskipun akar kekuasaannya dikaitkan dengan keturunan Hindu yang telah lebih dulu bermukim di Jawa.

Keturunan kelompok Hindu ini kemudian masuk dalam struktur Kerajaan Medang atau Kamulan. Medang juga dikenal dengan sebutan Medan, sementara Kamulan disebut sebagai Ngastina atau Gajah Hoya dalam naskah-naskah lama.

Fakta ini memperkuat dugaan bahwa peradaban Jawa telah berkembang jauh sebelum era kerajaan klasik yang selama ini dikenal.

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
#singosari #sejarah awal Pulau Jawa #kerajaan kuno sebelum Masehi di Pulau Jawa #Babad Tanah Jawi #Nusa Kendang