RADAR TULUNGAGUNG – Nama Kesultanan Samudra Pasai kerap disebut sebagai tonggak penting penyebaran Islam di Nusantara.
Meski bukan kerajaan Islam pertama di Indonesia, Samudra Pasai justru menjadi kekuatan besar yang menyatukan berbagai kerajaan Islam di pesisir timur Aceh dan berperan strategis dalam dakwah, pendidikan, serta perdagangan internasional.
Kesalahpahaman yang menyebut Samudra Pasai sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia masih sering dijumpai.
Padahal, berdasarkan Hikayat Raja-Raja Pasai, kerajaan Islam tertua di Nusantara adalah Kesultanan Perlak yang telah berdiri sejak 840 Masehi di Aceh Timur. Dari Perlak inilah, benih penyebaran Islam kemudian tumbuh dan melahirkan kekuatan besar bernama Kesultanan Samudra Pasai.
Kesultanan Perlak, Awal Masuknya Islam di Aceh
Sebelum menjadi kesultanan Islam, Perlak merupakan kerajaan kecil bercorak Hindu-Buddha. Masuknya Islam ke wilayah ini terjadi melalui aktivitas perdagangan.
Para saudagar Muslim dari Arab, Persia, dan India kerap singgah di pelabuhan Perlak untuk mencari kayu perlak, komoditas unggulan yang sangat dibutuhkan untuk pembuatan kapal.
Penyebaran Islam di Perlak semakin kuat ketika Khalifah Harun ar-Rasyid dari Daulah Abbasiyah mengirim rombongan pendakwah ke Nusantara sekitar tahun 790 Masehi. Salah satu tokoh penting dalam rombongan ini adalah Sayid Ali al-Muktabar.
Melalui pendekatan dakwah yang santun dan sederhana, Sayid Ali berhasil menarik perhatian Raja Perlak, Syahrir Nuwi, yang akhirnya memeluk Islam.
Perubahan besar terjadi pada tahun 840 Masehi, ketika tahta Perlak diwarisi oleh Said Abdul Aziz, putra Sayid Ali. Ia kemudian bergelar Sultan Alaiddin Maulana Abdul Aziz Syah dan secara resmi mengubah Perlak menjadi kesultanan Islam pertama di Nusantara.
Berdirinya Kesultanan Samudra
Kesultanan Samudra lahir pada tahun 1267 Masehi melalui tokoh bernama Marah Silu, bangsawan pesisir Aceh yang telah memeluk Islam setelah bertemu ulama Makkah, Syekh Ismail.
Dengan dukungan Kesultanan Perlak, Marah Silu mendirikan kerajaan Islam baru yang kemudian dikenal sebagai Kesultanan Samudra.
Marah Silu dinobatkan sebagai raja pertama dengan gelar Sultan Malik al-Saleh.
Letak Samudra yang strategis di pesisir Selat Malaka menjadikannya pelabuhan penting yang ramai dikunjungi pedagang dari berbagai wilayah, termasuk Arab dan Persia.
Penyatuan Menjadi Kesultanan Samudra Pasai
Setelah wafatnya Sultan Malik al-Saleh pada 1297 Masehi, kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Sultan Muhammad Malik az-Zahir I.
Di bawah pemerintahannya, wilayah Samudra diperluas hingga Pasai. Momentum penting terjadi ketika Sultan Malik az-Zahir I menggabungkan Kesultanan Samudra, Pasai, Kesultanan Perlak, serta beberapa kerajaan kecil lain menjadi satu kekuatan besar bernama Kesultanan Samudra Pasai.
Penyatuan ini menjadikan Samudra Pasai sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan pendidikan Islam terbesar di Nusantara pada masanya.
Pusat pemerintahan berada di pesisir timur Aceh Utara, menghadap langsung ke Selat Malaka, jalur perdagangan internasional tersibuk saat itu.
Pusat Perdagangan dan Dakwah Islam
Kesultanan Samudra Pasai dikenal memiliki sistem ekonomi yang maju. Kerajaan ini mencetak mata uang emas dengan kadar tinggi dan memberlakukan pajak kapal yang melintasi Selat Malaka.
Komoditas utama yang diperdagangkan meliputi lada, kapur barus, sutra, dan emas.
Pada masa kejayaannya, Samudra Pasai mampu mengekspor hingga 8.000–10.000 bahara lada per tahun.
Kejayaan ini menarik perhatian tokoh dunia, termasuk penjelajah Muslim asal Maroko, Ibnu Battutah, yang berkunjung pada 1345 Masehi dan mencatat keramahan Sultan Malik az-Zahir dalam kitab Rihlah.
Kemunduran hingga Runtuhnya Samudra Pasai
Memasuki abad ke-15, kekuatan Samudra Pasai mulai melemah akibat pendangkalan pelabuhan dan bangkitnya Kesultanan Malaka sebagai pusat perdagangan baru.
Kondisi ini diperparah dengan jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 1511.
Pada 1524 Masehi, wilayah Samudra Pasai akhirnya direbut oleh Kesultanan Aceh Darussalam.
Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Samudra Pasai, namun pengaruhnya tetap hidup melalui ulama dan tokoh-tokoh dakwah, salah satunya Fatahillah, yang kelak berperan besar dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula