RADAR TULUNGAGUNG – Kerajaan Majapahit bukan sekadar nama besar dalam buku sejarah. Kerajaan yang berpusat di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur ini pernah menjadi kekuatan maritim terbesar di Nusantara, bahkan salah satu kekaisaran paling berpengaruh di dunia pada masanya.
Wilayah kekuasaannya membentang luas, menyerupai batas Indonesia modern, menjadikan Majapahit fondasi awal terbentuknya gagasan persatuan Nusantara.
Sebagai sebuah thalassokrasi atau kekaisaran maritim, Kerajaan Majapahit tumbuh dari keunggulan geografis Jawa yang subur dan strategis.
Pulau Jawa menjadi gerbang utama jalur perdagangan Selat Malaka, pusat Jalur Sutra Maritim yang menghubungkan Cina, India, Persia, hingga Arab.
Sejak awal Masehi, rempah-rempah Nusantara telah diperdagangkan hingga Kekaisaran Romawi, sebagian besar melalui pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai penguasa Jawa.
Awal Berdirinya Kerajaan Majapahit
Cikal bakal Majapahit tidak bisa dilepaskan dari runtuhnya Singhasari. Pemberontakan Jayakatwang dari Kediri berhasil menewaskan Kertanegara, raja terakhir Singhasari, dan menciptakan kekacauan politik.
Di tengah situasi genting itu, Raden Wijaya—menantu Kertanegara—menunjukkan kecerdikan politik luar biasa.
Ketika pasukan Mongol dari Dinasti Yuan datang ke Jawa untuk menghukum Kertanegara, Raden Wijaya memanfaatkan mereka untuk mengalahkan Jayakatwang.
Setelah Kediri tumbang, Raden Wijaya berbalik menyerang pasukan Mongol yang tidak mengenal medan Jawa. Dengan strategi perang asimetris dan memanfaatkan pergantian angin muson, pasukan Mongol dipaksa mundur dari Nusantara.
Keberhasilan itu mengantarkan Raden Wijaya naik takhta sebagai raja pertama Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana.
Konflik Internal dan Konsolidasi Kekuasaan
Masa awal Kerajaan Majapahit diwarnai konflik internal. Intrik istana, pemberontakan Ranggalawe, hingga perpecahan elite kerajaan menjadi ujian berat.
Namun Majapahit tetap bertahan melalui konsolidasi kekuasaan, pengangkatan pejabat setia, dan kebijakan pembagian wilayah untuk meredam konflik.
Sepeninggal Raden Wijaya, tahta diwariskan kepada Jayanegara. Pemerintahannya penuh gejolak, ditandai pemberontakan Nambi dan Ra Kuti.
Stabilitas kerajaan hanya dapat dipertahankan berkat peran tokoh-tokoh militer andal seperti Gajah Mada. Jayanegara akhirnya wafat tanpa keturunan, membuka jalan bagi naiknya Tribhuwana Wijayatunggadewi.
Sumpah Palapa dan Awal Kejayaan
Di bawah kepemimpinan Tribhuwana Wijayatunggadewi, Majapahit memasuki fase kebangkitan.
Ia didampingi Mahapatih Gajah Mada, sosok legendaris yang mengucapkan Sumpah Palapa, janji untuk tidak menikmati kenikmatan sebelum seluruh Nusantara bersatu di bawah Majapahit.
Ekspansi besar-besaran dimulai. Bali, Sumatra, hingga wilayah-wilayah di timur Nusantara berhasil ditaklukkan. Inilah fondasi menuju puncak kejayaan Majapahit.
Puncak Kejayaan di Era Hayam Wuruk
Puncak kejayaan Kerajaan Majapahit terjadi pada masa pemerintahan Hayam Wuruk.
Didukung Gajah Mada dan laksamana laut Mpu Nala, Majapahit menguasai hampir seluruh Nusantara, sebagaimana dicatat dalam Kakawin Nagarakretagama.
Majapahit bukan hanya kuat secara militer, tetapi juga makmur secara ekonomi.
Kerajaan ini menjadi pusat perdagangan regional, mengekspor beras, lada, cengkih, pala, hingga kayu cendana. Armada lautnya terdiri dari ratusan kapal jong, sementara pasukan profesionalnya mencapai puluhan ribu prajurit.
Majapahit juga dikenal sebagai kerajaan toleran. Filsafat “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa” menjadi landasan hidup berdampingan antara Hindu dan Buddha. Nilai inilah yang kelak menginspirasi semboyan nasional Indonesia.
Kemunduran dan Warisan Majapahit
Setelah wafatnya Hayam Wuruk, konflik suksesi dan Perang Paregreg melemahkan Majapahit. Munculnya Kesultanan Malaka dan Demak, serta pesatnya penyebaran Islam di pesisir Jawa, mempercepat kemunduran kerajaan Hindu terbesar di Nusantara itu.
Meski runtuh, warisan Kerajaan Majapahit tetap hidup. Dari konsep persatuan wilayah, toleransi beragama, hingga filosofi kebangsaan, Majapahit menjadi inspirasi penting bagi terbentuknya identitas Indonesia modern.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula