Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tragedi Berdarah di Hari Pernikahan hingga Bangkit Jadi Raja Besar, Kisah Raja Airlangga dan Lahirnya Kerajaan Kediri yang Mengubah Sejarah Jawa Timur

Muhammad Rusdian Nuzula • Rabu, 21 Januari 2026 | 16:05 WIB

Kisah Raja Airlangga, tragedi berdarah, kebangkitan, dan lahirnya Kerajaan Kediri yang mengubah sejarah Jawa Timur.
Kisah Raja Airlangga, tragedi berdarah, kebangkitan, dan lahirnya Kerajaan Kediri yang mengubah sejarah Jawa Timur.

RADAR TULUNGAGUNG – Kisah Raja Airlangga bukan sekadar cerita kejayaan, tetapi bermula dari salah satu tragedi paling mengerikan dalam sejarah Jawa Timur.

Sebuah pesta pernikahan berubah menjadi pembantaian, istana dibakar, keluarga kerajaan tewas, dan sebuah dinasti besar runtuh dalam semalam. Dari puing-puing tragedi inilah Raja Airlangga bangkit dan meletakkan fondasi Kerajaan Kediri, salah satu kerajaan paling berpengaruh di Nusantara.

Tragedi tersebut dikenal sebagai mahapralaya, peristiwa kehancuran Kerajaan Mataram Kuno pada awal abad ke-11.

Saat itu, Airlangga yang masih berusia 16 tahun tengah melangsungkan pernikahan dengan putri Raja Dharmawangsa Teguh.

Tanpa peringatan, Raja Wurawari penguasa bawahan menyerbu istana dan membantai seluruh keluarga kerajaan. Raja Airlangga menjadi satu-satunya bangsawan utama yang selamat.

Melarikan diri ke hutan Wanagiri bersama gurunya, Mpu Narotama, Airlangga menjalani hidup sebagai pertapa.

Keselamatannya dari kehancuran besar membuat masyarakat memandangnya sebagai titisan Dewa Wisnu. Pada tahun 1019 Masehi, para pendeta merestui Airlangga untuk naik takhta dan memulihkan tatanan politik Jawa Timur.

Baca Juga: Harga Emas Hari Ini Selasa 20 Januari 2026 Menggebrak Pasar, Antam Tembus Rp2,9 Juta, UBS dan Galeri 24 Ikut Naik Tajam

Perang Balas Dendam dan Penyatuan Wilayah

Setelah ditahbiskan, Raja Airlangga turun gunung dan memulai rangkaian ekspedisi militer untuk menumpas para pemberontak.

Prasasti Cane dan Pucangan mencatat kemenangan demi kemenangan Airlangga atas musuh-musuh lamanya, termasuk keturunan Wurawari.

Dalam proses konsolidasi kekuasaan ini, Airlangga memberikan banyak status sima atau pembebasan pajak kepada rakyat yang berjasa, langkah yang membuatnya dikenal sebagai raja dermawan.

Pada 1035 M, seluruh pemberontakan berhasil dipadamkan. Untuk pertama kalinya, Airlangga memerintah dalam kondisi damai.

Meski tak pernah secara eksplisit menyebut nama kerajaannya, para sejarawan menyepakati bahwa pusat kekuasaan Airlangga inilah cikal bakal Kerajaan Kediri atau Kahuripan.

Baca Juga: Harga Emas Antam, Galeri 24, dan UBS Hari Ini Kompak Naik, Pegadaian Catat Kenaikan Tajam Selasa 20 Januari 2026

Raja Reformis dan Pembangun Peradaban

Tak hanya dikenal sebagai panglima perang, Raja Airlangga juga merupakan pemimpin reformis.

Ia memindahkan ibu kota ke Kahuripan, wilayah pedalaman yang dekat dengan Sungai Brantas, demi memajukan pertanian. Bendungan Waringin Sapta dibangun untuk mencegah banjir dan mengairi sawah rakyat.

Airlangga juga memperbaiki Pelabuhan Hujung Galuh yang diyakini sebagai Surabaya kuno serta mengembangkan Pelabuhan Kambang Putih di Tuban sebagai pusat perdagangan internasional.

Langkah ini dinilai sebagai upaya menggantikan peran Sriwijaya yang saat itu melemah akibat serangan Kerajaan Chola dari India.

Legitimasi Dewa dan Warisan Budaya

Baca Juga: Harga Emas Hari Ini Selasa 20 Januari 2026 Menggebrak Pasar, Antam Tembus Rp2,9 Juta, UBS dan Galeri 24 Ikut Naik

Untuk memperkuat legitimasi kekuasaan, Raja Airlangga menampilkan diri sebagai cakrawartin, penguasa dunia yang adil.

Lambang kerajaan berupa Garudamukha, Garuda yang menopang Dewa Wisnu, menjadi simbol kekuasaan ilahiah. Konsep ini diteruskan oleh raja-raja Kediri berikutnya seperti Jayabaya dan Kameswara.

Di bidang budaya, Airlangga meninggalkan karya sastra monumental Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa. Kakawin ini mencerminkan nilai kepemimpinan ideal, pengendalian diri, dan kemenangan dharma atas kejahatan.

Pembagian Kerajaan dan Akhir Sebuah Era

Baca Juga: Harga Emas Hari Ini Selasa 20 Januari 2026 Masih Melambung, Antam, UBS, dan Galeri 24 Kompak Naik, Perhiasan Ikut Menguat

Pada tahun 1042 M, Airlangga turun takhta dan memilih hidup sebagai pertapa.

Namun konflik suksesi memaksanya kembali berkuasa. Untuk mencegah perang saudara, ia membagi kerajaan menjadi dua: Jenggala di timur dan Panjalu (Kediri) di barat. Sayangnya, keputusan ini justru memicu konflik berkepanjangan antarketurunannya.

Baru pada 1135 M, Raja Jayabaya berhasil menyatukan kembali kedua wilayah tersebut di bawah Panjalu atau Kediri. Kerajaan Kediri kemudian mencapai puncak kejayaan sebelum akhirnya runtuh pada 1222 M akibat serangan Ken Arok dari Singhasari.

Meski telah lama runtuh, warisan Raja Airlangga tetap hidup. Namanya dikenang sebagai raja bijaksana yang bangkit dari tragedi, mempersatukan wilayah, dan membangun fondasi peradaban Jawa Timur yang berpengaruh hingga kini.

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
#Sejarah Jawa Timur #Raja Airlangga #Mataram Kuno #Kahuripan #Kerajaan Kediri