Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Benarkah Orang Palestina Keturunan Yahudi Asli? Fakta Sejarah Filistin hingga Temuan Genetik Ini Bikin Merinding

Fadhilah Salsa Bella • Rabu, 21 Januari 2026 | 15:30 WIB

 

Benarkah orang Palestina keturunan Yahudi asli? Telusuri fakta sejarah Filistin, pengusiran Yahudi, hingga bukti genetik modern.
Benarkah orang Palestina keturunan Yahudi asli? Telusuri fakta sejarah Filistin, pengusiran Yahudi, hingga bukti genetik modern.

RADAR TULUNGAGUNG - Pernyataan bahwa orang Palestina keturunan Yahudi asli belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Isu ini kembali mencuat setelah diskusi panjang antara seorang kreator konten dan Ustaz Felix Siauw yang mengulas sejarah Palestina dari sudut pandang akademik, arkeologi, hingga penelitian genetika modern.

Dalam diskusi tersebut disebutkan bahwa orang Palestina keturunan Yahudi asli bukanlah klaim emosional, melainkan memiliki dasar penelitian ilmiah. Sejumlah penelitian genetika sejak 2007 hingga 2021 menunjukkan keterkaitan kuat genetik antara warga Palestina modern dengan populasi Yahudi kuno di wilayah tersebut. Temuan ini justru memunculkan pertanyaan besar tentang narasi sejarah yang selama ini beredar.

Sejarah panjang wilayah Palestina memang tidak bisa dipisahkan dari bangsa-bangsa kuno yang silih berganti mendiami kawasan Timur Tengah. Untuk memahami klaim bahwa orang Palestina keturunan Yahudi asli , penelusuran harus ditarik jauh ke era Zaman Perunggu Akhir, sekitar 3.300 hingga 1.200 SM.

Baca Juga: Mancing di Pantai Sine Tulungagung, Sensasi Casting di Deburan Ombak Laut Selatan

Asal usul Filistin dan Bangsa Laut

Dalam catatan sejarah, muncul kelompok misterius bernama Sea Peoples atau Bangsa Laut yang menggemparkan peradaban Mediterania. Salah satu kelompoknya dikenal sebagai Peleset. Setelah kalah dari Mesir, mereka ditempatkan di wilayah pesisir selatan Kanaan, kawasan yang kini mencakup Gaza.

Kelompok Peleset ini kemudian berbaur dengan penduduk asli Kanaan. Dari lahirnya bangsa Filistin kuno. Nama “Palestina” sendiri diyakini berasal dari kata “Peleset”, yang kemudian digunakan oleh Romawi sebagai penamaan wilayah tersebut.

Filistin kuno hidup berdampingan dan sering berkonflik dengan Bani Israel. Namun keduanya berasal dari rumpun Semitik yang sama dan menempati wilayah geografis yang saling beririsan selama ratusan tahun.

Baca Juga: Mancing di Bendungan Wonorejo Tulungagung 2026, Spot Favorit dengan Bandeng Raksasa

Pengusiran Yahudi dan Perubahan Identitas

Perubahan besar terjadi pada tahun 135 Masehi, saat kekaisaran Romawi di bawah Kaisar Hadrian menumpas pemberontakan Yahudi Bar Kokhba. Yahudi diusir dalam skala besar dari wilayah Yudea, dan kawasan itu diganti namanya menjadi Syria Palaestina.

Sejak saat itu, banyak Yahudi yang tetap memilih berasimilasi, baik dengan memeluk agama Kristen maupun Islam pada masa berikutnya. Mereka inilah yang secara turun-temurun diyakini menjadi nenek moyang sebagian besar warga Palestina saat ini.

Ketika Umar bin Khattab memerdekakan Baitul Maqdis pada tahun 637 M, ia justru mengizinkan Yahudi kembali tinggal di Yerusalem. Fakta ini memperkuat narasi bahwa wilayah Palestina sejak lama ditemukan oleh berbagai komunitas, bukan milik satu etnis atau agama semata.

Baca Juga: Mancing Mania Moyoketen Tulungagung 2026, Spot Mancing Gacor Favorit Pemancing Lokal

Bukti Genetik yang Menguatkan

Penelitian genetika modern menjadi salah satu bagian paling kontroversial. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa warga Palestina memiliki kedekatan genetik lebih tinggi dengan populasi Yahudi kuno dibandingkan dengan Yahudi Eropa Timur (Ashkenazi) yang kini banyak tinggal di Israel.

Sebaliknya, banyak tokoh elite Israel modern yang diketahui memiliki akar Eropa Timur—Polandia, Ukraina, hingga Belarus—dan baru bermigrasi ke Palestina pada abad ke-20. Hal ini memicu timbulnya tentang siapa sebenarnya yang lebih berhak mengklaim sebagai penduduk asli.

Temuan inilah yang membuat klaim orang Palestina keturunan Yahudi asli menjadi diskusi serius di kalangan akademisi, meski jarang diangkat secara luas di ruang publik.

Diskusi ini menegaskan bahwa konflik Palestina-Israel tidak mempertahankan narasi agama atau klaim sepihak. Sejarah menunjukkan adanya lapisan panjang migrasi, asimilasi, dan perubahan identitas.

Memahami Palestina melalui pendekatan sejarah dan sains justru membuka ruang dialog yang lebih jernih. Bahwa identitas tidak selalu hitam-putih, dan bahwa penduduk Palestina hari ini bisa jadi merupakan pewaris sah peradaban kuno yang telah diami tanah tersebut selama ribuan tahun.

Baca Juga: Liga Champions 2025/2026 Pekan ke-7: Arsenal Pimpin Klasemen, Real Madrid dan Bodo/Glimt Menggila


 

Editor : Fadhilah Salsa Bella
#Genetik Yahudi #Orang Palestina keturunan Yahud #Israel dan Palestina #Filistin kuno #Sejarah Palestina