RADAR TULUNGAGUNG – Kisah horor Gunung Lawu kembali menjadi perbincangan setelah pengalaman mistis seorang pendaki perempuan, Fitri Handayani, diungkap dalam sebuah tayangan YouTube. Pendakian yang awalnya diniatkan sebagai perjalanan biasa pada Januari 2023 itu berubah menjadi peristiwa di luar nalar, ketika rombongan menyadari bahwa salah satu sosok yang mendaki bersama mereka ternyata sudah meninggal dunia.
Kisah horor Gunung Lawu ini bermula saat Fitri mengikuti open trip pendakian via jalur Candi Ceto. Rombongan kecil tersebut hanya berisi empat peserta, yakni Fitri, Fandi, Enong, dan Ucup, serta dipandu seorang trip leader bernama Rian. Sejak awal, pendakian terasa berbeda karena rencana awal Fandi untuk mendaki bersama sepupunya, Teguh, batal setelah Teguh dikabarkan sakit mendadak.
Sebelum mencapai Pos 1, rombongan berhenti di sebuah mata air yang dikenal sakral oleh masyarakat sekitar. Fandi menjalankan ritual mandi kembang tujuh rupa, amanat dari mimpi buyutnya. Ia meyakini ritual itu sebagai bentuk perlindungan spiritual. Namun, sikap berbeda ditunjukkan Ucup, pendaki pemula yang justru meremehkan hal-hal mistis, bahkan nekat meminum air sesajen di lokasi tersebut.
Sejak momen itu, gangguan mulai dirasakan. Fitri mengaku melihat kilasan penglihatan berupa ular di mata air tersebut. Perjalanan menuju Pos 3 pun diwarnai hujan lebat, jalur licin, serta suara-suara aneh seperti kerincingan tanpa wujud. Tiga headlamp milik mereka bahkan mati bersamaan, membuat suasana semakin mencekam.
Penampakan Sosok Misterius di Jalur Pendakian
Di tengah perjalanan malam menuju Pos 3, Fitri dan Fandi melihat sosok kakek berjubah putih berdiri tak jauh dari jalur. Sosok tersebut diyakini Fandi sebagai perwujudan penjaga gaib yang berkaitan dengan pusaka keluarganya. Ucup yang melihat penampakan itu mulai menunjukkan ketakutan, meski sebelumnya bersikap menantang.
Gangguan tak berhenti di situ. Saat bermalam di Pos 3, Ucup berteriak histeris dan mengaku melihat sosok kuntilanak tidur di dalam tendanya. Ia pun menolak tidur sendirian dan memilih bergabung dengan tenda lain. Kejadian itu membuat Ucup akhirnya mengakui kesalahannya telah bersikap sembrono selama pendakian.
Summit Bersama Teguh yang Misterius
Kisah horor Gunung Lawu mencapai puncaknya saat Fitri dan Fandi melakukan summit attack dini hari. Mereka bertemu seorang pria bernama Teguh yang mengaku sebagai sepupu Fandi. Sosok ini mendaki bersama mereka menuju Pasar Dieng dan Hargo Dumilah. Secara fisik, Teguh tampak seperti manusia biasa, meski cenderung menjaga jarak dan berjalan lebih cepat.
Di Pasar Dieng, suasana terasa ramai meski tak terlihat tenda pendaki lain. Fitri bahkan melihat penampakan nenek berkebaya membawa kue putu dan menawarkannya kepada mereka. Fandi melarang keras untuk menerima tawaran tersebut karena diyakini bukan manusia.
Angin badai kembali datang sebelum puncak, membuat Fitri dan Fandi memutuskan turun. Teguh berpamitan dan turun lebih dulu sambil berpesan agar Fandi segera pulang karena “ada acara di rumah”.
Fakta Mengejutkan Setelah Turun Gunung
Setibanya di basecamp, Fandi mencoba mencari Teguh ke sejumlah tenda pendaki lain, namun tidak ada satu pun yang mengenalnya. Saat ponselnya kembali aktif, Fandi menerima kabar duka dari keluarganya. Teguh, sepupunya, ternyata telah meninggal dunia pada pagi hari, tepat saat mereka memulai pendakian Gunung Lawu.
Kesadaran pun muncul bahwa sosok Teguh yang mendaki bersama mereka diduga bukan manusia, melainkan qarin atau penampakan terakhir untuk berpamitan. Pesan agar Fandi segera pulang ternyata merujuk pada kematian Teguh.
Kisah horor Gunung Lawu ini menjadi pengingat bagi para pendaki agar selalu menjaga sikap, niat, dan adab saat berada di alam, terutama di gunung yang dikenal sakral. Gunung Lawu bukan sekadar destinasi pendakian, tetapi ruang spiritual yang dipercaya menyimpan banyak misteri dan sejarah.
Editor : Dinar Ananda Putri