JAKARTA - Mitos Pasar Setan Gunung Lawu merupakan salah satu legenda paling populer yang hidup di kalangan pendaki, khususnya mereka yang melintasi jalur Cetho. Cerita ini dipercaya turun-temurun dan hingga kini masih dianggap sakral oleh sebagian pendaki yang pernah merasakan pengalaman ganjil di kawasan tersebut.
Lokasi Pasar Setan di Jalur Cetho Gunung Lawu
Pasar Setan dipercaya berada di sekitar Pos 5 jalur pendakian Cetho, sebuah area sabana berbatu yang terbuka. Lokasi ini juga kerap disebut sebagai Pasar Dieng oleh para pendaki. Pada malam hari, suasana di kawasan tersebut dikenal sunyi, namun dalam berbagai kisah justru sering terdengar suara riuh layaknya pasar tradisional.
Fenomena Suara Misterius yang Dialami Pendaki
Banyak pendaki mengaku mendengar suara tawar-menawar, penjual menawarkan barang, hingga hiruk pikuk seperti aktivitas pasar pada umumnya. Beberapa cerita bahkan menyebut adanya penampakan sosok misterius yang diyakini bukan manusia. Fenomena ini kemudian dikaitkan dengan keberadaan pasar gaib yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang tertentu.
Mitos Wajib Membeli untuk Menghindari Kesialan
Salah satu kepercayaan paling terkenal dari Pasar Setan Gunung Lawu adalah anjuran untuk berpura-pura membeli barang jika mendengar suara pasar. Barang yang “dibeli” biasanya berupa tanah, batu, atau daun di sekitar lokasi. Pendaki kemudian disarankan membuang uang koin sebagai simbol pembayaran agar terhindar dari kesialan atau tersesat di jalur pendakian.
Asal Usul Legenda Pasar Setan Gunung Lawu
Secara budaya lisan, mitos ini sering dikaitkan dengan kisah Prabu Brawijaya V, raja terakhir Kerajaan Majapahit, yang dipercaya mengasingkan diri dan menghilang di kawasan Gunung Lawu. Gunung ini dikenal sebagai tempat spiritual yang sakral sehingga berbagai cerita mistis berkembang kuat di sekitarnya, termasuk legenda pasar gaib tersebut.
Pantangan dan Etika Pendaki di Gunung Lawu
Pendaki yang melewati jalur Cetho diimbau menjaga sikap dan tutur kata. Larangan mengeluh, berkata kotor, atau bersikap sombong sering ditekankan oleh pendaki senior maupun juru kunci setempat. Etika ini dipercaya dapat meminimalkan gangguan selama pendakian, terlepas dari benar atau tidaknya keberadaan Pasar Setan secara ilmiah.
Meskipun belum dapat dibuktikan secara ilmiah, mitos Pasar Setan Gunung Lawu tetap melekat kuat dalam budaya lisan pendaki dan menjadi bagian dari cerita mistis yang memperkaya khazanah folklore Gunung Lawu.
Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya