Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mitos Larangan Berkata Kasar dan Mengeluh Saat Mendaki Gunung Lawu

Dara Shauqy Hadiwijaya • Selasa, 27 Januari 2026 | 20:20 WIB

Gunung Lawu dikenal sarat mitos, salah satunya larangan berkata kasar dan mengeluh yang dipercaya bisa mendatangkan gangguan gaib.
Gunung Lawu dikenal sarat mitos, salah satunya larangan berkata kasar dan mengeluh yang dipercaya bisa mendatangkan gangguan gaib.

JAKARTA - Gunung Lawu yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur dikenal memiliki nuansa mistis yang kuat. Di kalangan pendaki, gunung ini tidak hanya menuntut kesiapan fisik, tetapi juga sikap dan etika. Salah satu mitos paling populer adalah larangan berkata kasar, sombong, atau mengeluh selama pendakian.

Larangan Mengeluh Selama Pendakian Gunung Lawu

Pendaki Gunung Lawu diimbau untuk tidak mengeluh tentang rasa lelah, dingin, atau beratnya jalur pendakian. Menurut kepercayaan yang berkembang, keluhan yang diucapkan secara berlebihan diyakini dapat membuat perjalanan terasa semakin berat.

Bahkan, dalam cerita mistis yang beredar, mengeluh disebut dapat mengundang gangguan makhluk gaib yang menyebabkan pendaki kehilangan fokus, kelelahan ekstrem, hingga tersesat di jalur pendakian.

 

Baca Juga: Kisah Horor Gunung Lawu: Pendaki Wanita Tak Sadar Summit Bersama Sosok Teguh, Ternyata Sudah Meninggal Dunia

 

Pantangan Berkata Kasar dan Bersikap Sombong

Selain mengeluh, berkata kasar, mengumpat, berteriak, atau bersikap sombong juga menjadi pantangan yang sangat ditekankan di Gunung Lawu. Gunung ini dipercaya sebagai tempat sakral yang dijaga oleh penunggu tak kasat mata.

Pendaki yang berbicara kotor atau menunjukkan sikap angkuh diyakini berpotensi mengalami gangguan, baik secara fisik maupun nonfisik. Oleh karena itu, menjaga tutur kata dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap alam dan nilai spiritual yang melekat di Gunung Lawu.

Makna Mistis dan Etika di Balik Pantangan Gunung Lawu

Mitos larangan berkata kasar dan mengeluh berakar dari kearifan lokal masyarakat sekitar Gunung Lawu. Secara budaya, pendaki diharapkan menjaga sikap hormat terhadap alam yang dianggap memiliki ruh dan kekuatan tersendiri.

Dari sisi psikologis, menjaga ucapan dan sikap juga membantu pendaki tetap tenang, fokus, dan tidak mudah panik. Kondisi mental yang stabil sangat penting untuk keselamatan, terutama saat menghadapi cuaca ekstrem atau jalur yang berat.

 

Baca Juga: Kisah Horor Gunung Lawu: Pendaki Mengaku Keturunan Adipati Cepu Alami Teror Mistis hingga Dirantai Sosok Gaib

 

Dampak Pelanggaran Pantangan Menurut Kepercayaan

Menurut cerita yang berkembang, pelanggaran terhadap pantangan ini dapat memicu berbagai kejadian yang tidak diinginkan. Mulai dari tersesat di jalur pendakian, mendengar suara gamelan misterius, melihat sosok gaib, hingga mengalami kecelakaan fisik.

Meski tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, kisah-kisah tersebut membuat banyak pendaki memilih tetap mematuhi pantangan sebagai bentuk kehati-hatian.

Pantangan Lain yang Dikenal di Gunung Lawu

Selain larangan berkata kasar dan mengeluh, Gunung Lawu juga dikenal memiliki sejumlah pantangan lain yang cukup populer, seperti larangan mengenakan pakaian berwarna hijau pupus, larangan mendaki dalam jumlah ganjil, serta pantangan bagi pendaki yang berasal dari wilayah Cepu dan sekitarnya.

 

Baca Juga: Pendakian Gunung Lawu via Candi Ceto: Reuni Pendaki Lintas Kota, Jalur Terjal, hingga Ritual Sakral yang Bikin Merinding

 

Terlepas dari unsur mitos, pendaki tetap disarankan mematuhi peraturan resmi pendakian dan arahan petugas basecamp. Menghormati kearifan lokal sekaligus mengutamakan keselamatan menjadi kunci utama saat mendaki Gunung Lawu.

Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya
#gunung #mitos gunung lawu #gunung lawu #mitos gunung