JAKARTA - Gunung Lawu tidak hanya dikenal sebagai gunung tinggi di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, tetapi juga sebagai kawasan yang sarat mitos dan legenda spiritual. Salah satu kisah paling kuat yang dipercaya masyarakat dan pendaki adalah tentang Sunan Lawu dan Kyai Jalak, sosok penjaga gaib Gunung Lawu yang diyakini berasal dari pengikut setia Prabu Brawijaya V.
Sunan Lawu, Penguasa Gaib Gunung Lawu
Sunan Lawu yang juga dikenal dengan nama Dipa Menggala dipercaya sebagai sosok penguasa gaib Gunung Lawu. Dalam legenda yang berkembang, ia diangkat langsung oleh Prabu Brawijaya V untuk menjaga wilayah spiritual yang meliputi Gunung Lawu, Merapi, Merbabu, hingga Wilis.
Sunan Lawu diyakini bersemayam di kawasan Hargo Dalem, salah satu titik sakral di Gunung Lawu. Dari tempat tersebut, ia dipercaya mengawasi perilaku para pendaki serta menjaga kesucian gunung dari tindakan yang melanggar norma adat dan etika.
Kyai Jalak, Patih Setia Penunjuk Jalan Pendaki
Kyai Jalak yang memiliki nama lain Wongso Menggolo dikenal sebagai patih sekaligus pengikut setia Sunan Lawu. Dalam mitos, Kyai Jalak menjelma menjadi burung Jalak Gading yang bertugas mengarahkan pendaki menuju jalur yang benar.
Burung Jalak Gading dipercaya hanya akan menampakkan diri kepada pendaki yang memiliki niat baik, hati bersih, serta menghormati aturan dan tradisi setempat. Kehadirannya sering dimaknai sebagai pertanda keselamatan dan kelancaran perjalanan.
Burung Jalak Gading yang Dianggap Keramat
Burung Jalak Gading dipercaya sebagai jelmaan Kyai Jalak dan dianggap keramat. Masyarakat dan pendaki meyakini burung ini tidak boleh ditangkap atau disakiti. Pendaki yang merasa “diikuti” burung Jalak Gading dipercaya sedang mendapat perlindungan dan berkah dari Sunan Lawu.
Sebaliknya, pendaki dengan niat buruk atau perilaku tidak sopan diyakini tidak akan pernah melihat burung tersebut dan justru berpotensi mengalami kesialan.
Mitos Moksa Prabu Brawijaya V di Gunung Lawu
Gunung Lawu juga dipercaya sebagai tempat pelarian terakhir sekaligus lokasi moksa Prabu Brawijaya V, raja terakhir Kerajaan Majapahit. Moksa dimaknai sebagai menghilangnya raga dan jiwa secara bersamaan untuk mencapai kesempurnaan spiritual.
Kepercayaan inilah yang membuat Gunung Lawu dianggap sebagai gunung suci dan memiliki hubungan erat dengan sejarah spiritual Jawa, sehingga berbagai mitos dan pantangan berkembang kuat hingga kini.
Pasar Setan dan Berbagai Pantangan Gunung Lawu
Selain kisah Sunan Lawu dan Kyai Jalak, Gunung Lawu juga dikenal dengan mitos Pasar Setan yang konon berada di jalur pendakian Cetho. Pendaki sering diingatkan untuk menjaga sikap saat melewati kawasan tersebut.
Pantangan lain yang populer di Gunung Lawu antara lain larangan mendaki dengan jumlah ganjil, larangan berkata kasar dan sombong, serta larangan mengenakan pakaian berwarna hijau pupus. Semua pantangan ini diyakini berkaitan dengan penghormatan terhadap penjaga gaib Gunung Lawu.
Kepercayaan tentang Sunan Lawu dan Kyai Jalak hingga kini masih hidup dan diwariskan secara lisan. Mitos ini tidak hanya menghadirkan nuansa mistis, tetapi juga menekankan nilai kesetiaan, kejujuran, etika, serta ketaatan terhadap adat dan tradisi lokal yang harus dijunjung tinggi oleh setiap pendaki.
Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya