Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

History of Lunar New Year: Asal Usul, Legenda Nian, hingga Tradisi Modern yang Dirayakan Dunia

Divka Vance Yandriana • Minggu, 15 Februari 2026 | 17:20 WIB
 buat secara rinci sesuai dengan ketentuan, buat dengan format jpeg dan resolusi maksimal 700x350buatkan gambar untuk sebuah artikel berbentuk landscape dengan ketentuan gambar dengan kata dalam gamba
 buat secara rinci sesuai dengan ketentuan, buat dengan format jpeg dan resolusi maksimal 700x350buatkan gambar untuk sebuah artikel berbentuk landscape dengan ketentuan gambar dengan kata dalam gamba

JAKARTAHistory of Lunar New Year selalu menarik untuk dikupas. Perayaan tahun baru berbasis kalender bulan ini bukan sekadar pesta kembang api dan angpau, melainkan tradisi ribuan tahun yang sarat makna. Dirayakan luas di Asia hingga mancanegara, festival ini menjadi simbol harapan, kebersamaan keluarga, dan awal yang baru.

Dalam History of Lunar New Year, sistem penanggalan lunar menjadi fondasi utama. Kalender ini mengikuti siklus bulan, sekitar 29–30 hari dalam satu bulan. Karena satu tahun lunar hanya sekitar 354 hari—lebih pendek dari kalender matahari 365 hari—maka terkadang ditambahkan satu bulan ekstra agar tetap selaras dengan musim. Itulah sebabnya tanggal perayaan selalu berubah, biasanya jatuh antara 21 Januari hingga 20 Februari.

Bagi banyak negara seperti China, Vietnam, dan South Korea, Lunar New Year adalah hari raya terpenting dalam setahun. Meski memiliki nama dan tradisi berbeda, nilai utamanya tetap sama: keluarga, penghormatan leluhur, dan doa untuk keberuntungan.

Baca Juga: Mauricio Souza Absen Saat Persija Jakarta vs Bali United, Dampak Kartu Protes ke Wasit Jadi Sorotan Besar

Berawal dari Tradisi Pertanian Kuno

Jika menelusuri History of Lunar New Year, akarnya berasal dari masyarakat agraris Tiongkok kuno. Ribuan tahun lalu, kehidupan petani sangat bergantung pada musim. Kesalahan menentukan waktu tanam bisa berujung gagal panen.

Masyarakat pun mempelajari pola alam, terutama fase bulan. Dari pengamatan tersebut lahirlah kalender lunar. Tahun baru ditempatkan di penghujung musim dingin, menjelang musim semi—masa yang dianggap sebagai awal kehidupan baru.

Pada masa itu, keluarga melakukan ritual sederhana. Mereka membakar dupa, menyiapkan makanan khusus, dan berdoa kepada dewa serta leluhur agar diberi cuaca baik dan hasil panen melimpah. Seiring waktu, ritual ini berkembang menjadi festival besar yang dirayakan secara luas.

Baca Juga: Suzuki XB Hybrid Tampil Perdana di IMS 2026, SUV Mungil Bergaya Boxy Ini Siap Jadi Primadona Baru

Legenda Nian dan Simbol Warna Merah

Salah satu kisah paling populer dalam History of Lunar New Year adalah legenda monster Nian. Konon, makhluk buas ini muncul setiap malam pergantian tahun dan meneror desa-desa.

Hingga suatu hari, seorang lelaki tua menemukan kelemahan Nian: warna merah, api, dan suara keras. Penduduk pun menghiasi rumah dengan kertas merah serta menyalakan petasan. Monster itu kabur dan tak pernah kembali.

Legenda ini melahirkan tradisi yang bertahan hingga kini. Warna merah menjadi simbol utama karena dipercaya membawa keberuntungan dan perlindungan. Kembang api dan petasan dinyalakan untuk mengusir energi buruk serta menyambut tahun baru dengan semangat.

Baca Juga: Persija Jakarta Wajib Menang di Kandang Bali United, Mauricio Souza Absen dan Ricky Nelson Siap Ambil Alih Tugas Pelatih

Tradisi Bersih-Bersih dan Makan Malam Keluarga

Menjelang perayaan, keluarga biasanya membersihkan rumah secara menyeluruh. Maknanya bukan sekadar kebersihan fisik, tetapi juga “menyapu” kesialan tahun lalu.

Malam sebelum tahun baru menjadi momen paling sakral. Anggota keluarga berkumpul dalam makan malam reuni. Hidangan yang disajikan pun sarat simbol.

Di Tiongkok, dumpling berbentuk seperti batangan emas kuno, melambangkan kekayaan. Ikan menjadi simbol kelimpahan karena pelafalannya mirip dengan kata “surplus”. Jeruk dan mandarin melambangkan keberuntungan serta kebersamaan.

Anak-anak menerima angpau berisi uang sebagai simbol doa dan berkah untuk tahun yang baru.

Perayaan di Berbagai Negara

Di Tiongkok, perayaan ini dikenal sebagai Festival Musim Semi. Sementara di Vietnam disebut Tet, dan di Korea Selatan dinamakan Seollal.

Meski berbeda nama, pola perayaannya mirip. Keluarga pulang kampung untuk berkumpul. Di Vietnam, kue beras berbentuk persegi melambangkan bumi dan rasa syukur pada alam. Di Korea, sup kue beras dipercaya menandai pertambahan usia dan kebijaksanaan.

Nilai penghormatan pada orang tua juga sangat dijunjung. Anak muda memberi salam hormat dan menerima doa serta nasihat dari orang yang lebih tua.

Dari Tradisi Kuno ke Era Digital

Di era modern, perayaan tak lagi terbatas di rumah. Kota-kota besar menggelar parade barongsai dan naga, pesta kembang api, hingga pertunjukan budaya.

Fenomena mudik massal menjelang Lunar New Year bahkan disebut sebagai migrasi manusia terbesar di dunia. Jutaan orang kembali ke kampung halaman demi makan malam bersama keluarga.

Teknologi juga mengubah cara berbagi angpau. Kini, banyak orang mengirim amplop merah digital melalui aplikasi ponsel. Praktis dan cepat, namun tetap mempertahankan makna keberuntungan.

Meski zaman berubah, semangatnya tetap sama. History of Lunar New Year menunjukkan bahwa perayaan ini bukan sekadar tradisi, tetapi pengingat akan pentingnya keluarga, harapan, dan kesempatan untuk memulai kembali dengan hati yang lebih baik.

Editor : Divka Vance Yandriana
#imlek #sejarah #Imlek 2026