JAKARTA - 9 makam keramat di Tulungagung menjadi destinasi ziarah yang tak pernah sepi peziarah, terutama saat malam Jumat Legi dan bulan-bulan tertentu dalam kalender Islam. Kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur ini memang dikenal memiliki banyak situs makam tokoh agama, bangsawan, hingga penyebar Islam yang sarat nilai sejarah.
Keberadaan 9 makam keramat di Tulungagung ini tak hanya menjadi bagian dari tradisi wisata religi, tetapi juga menyimpan kisah perjuangan, dakwah, hingga legenda yang berkembang di tengah masyarakat. Berikut daftar lengkapnya beserta lokasi dan riwayat singkatnya.
1. Makam Tumenggung Surontani Kertoyuda
Makam Tumenggung Surontani Kertoyuda berada di Gunung Budek, Kertoyuda. Ia dikenal sebagai Senopati Wajak pada masa Surontani Kertokusumo. Tokoh ini diyakini memiliki peran penting dalam sejarah pemerintahan dan pertahanan wilayah pada masanya.
2. Makam Eyang Agung Cokrokusumo
Makam Eyang Agung Cokrokusumo atau yang juga disebut Hyang Agung Gusti Wisnu Petir terletak di dekat Candi Dadi, Wajak Kidul. Lokasi ini kerap dikunjungi peziarah yang ingin mengenang tokoh spiritual yang dihormati masyarakat sekitar.
3. Makam Syekh Sunan Kuning
Makam Syekh Sunan Kuning Zainal Abidin berlokasi di Dusun Krajan, Desa Macanbang, Kecamatan Gondang, Tulungagung. Ia dikenal sebagai salah satu penyebar Islam di wilayah Ponorogo pada masa silam. Hingga kini, makamnya menjadi salah satu pusat ziarah yang cukup ramai.
Baca Juga: Daftar Makam Waliyullah di Tulungagung yang Wajib Diziarahi, Lengkap Nama dan Lokasinya
4. Makam Fatimah atau Nyai Lidah Hitam
Makam Fatimah, yang lebih dikenal sebagai Nyai Lidah Hitam, berada di kompleks pemakaman keluarga Kyai Abu Mansyur, di belakang Masjid Tawangsari, Kecamatan Kedungwaru.
Dalam berbagai narasi, Nyai Lidah Hitam disebut sebagai sosok putri mandraguna dan istri dari Kyai Abu Mansyur. Julukan “Lidah Hitam” diyakini muncul karena ucapannya yang dianggap bertuah dan memiliki pengaruh besar.
5. Makam RMT Jayadiningrat, Adipati Tulungagung
Makam RMT Jayadiningrat, Adipati Tulungagung, terletak di belakang Masjid Macan, Kecamatan Kedungwaru. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah pemerintahan Tulungagung pada masa lalu.
6. Makam Syekh Sarkowi
Makam Syekh Sarkowi berada di Desa Mojang, Kecamatan Kedungwaru. Lokasinya cukup unik karena berada di area persawahan. Meski demikian, makam ini tetap ramai diziarahi masyarakat dari berbagai daerah.
7. Makam Keramat Syekh Syamsudin Mbah Suryo (Mbah Guru Wali)
Makam keramat Syekh Syamsudin atau Mbah Suryo, yang juga dikenal sebagai Mbah Guru Wali, terletak di kawasan Pantai Popoh, Tulungagung. Lokasinya bahkan berada tak jauh dari bibir pantai.
Tokoh ini diyakini sebagai salah satu penyebar agama Islam di Pulau Jawa sebelum era Wali Songo. Keberadaannya menjadi bukti jejak awal dakwah Islam di wilayah selatan Jawa Timur.
8. Makam RM Giant Kusumo
Makam RM Giant Kusumo berada di Desa Demuk, Kecamatan Pucanglaban. Ia disebut sebagai putra dari Adipati RMT Jayadiningrat dengan istrinya R Ayu Endang Ratna Palupi.
Dalam cerita masyarakat, RM Giant Kusumo memiliki peran penting dalam sejarah lokal dan dihormati sebagai tokoh yang berjasa di wilayah tersebut.
9. Makam Syekh Basyaruddin
Makam Syekh Basyaruddin berada di Srigading, Kecamatan Kauman. Setiap malam Jumat Legi, makam ulama besar ini dipadati peziarah dari berbagai daerah.
Tak hanya masyarakat umum, sejumlah santri dari pondok pesantren juga rutin berziarah ke sini. Bahkan, Habib Jindan bin Novel bin Salim, pimpinan Yayasan Al Fahriyah Tangerang, Banten, pernah berziarah ke makam ini.
Keberadaan 9 makam keramat di Tulungagung ini menunjukkan betapa kuatnya tradisi ziarah dan jejak sejarah Islam di wilayah tersebut. Selain menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, ziarah juga menjadi cara masyarakat merawat memori kolektif tentang tokoh-tokoh yang berjasa dalam dakwah dan pemerintahan.
Bagi peziarah, penting untuk tetap menjaga adab, kebersihan, serta menghormati nilai-nilai lokal saat berkunjung. Dengan begitu, situs-situs bersejarah ini dapat terus lestari dan menjadi bagian dari identitas spiritual Tulungagung.
Editor : Dyah Wulandari