TULUNGAGUNG – Makam Syekh Basyaruddin Tulungagung menjadi salah satu destinasi wisata religi yang tak pernah sepi peziarah. Sosok ulama yang dipercaya sebagai waliyullah penyebar Islam di wilayah Tulungagung ini menyimpan banyak kisah spiritual, mulai dari laku tirakat hingga cerita karomah yang terus hidup di tengah masyarakat.
Makam Syekh Basyaruddin Tulungagung berada di Dusun Srigading, Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman. Letaknya berada di tengah area pemakaman umum, namun mudah dikenali karena memiliki ciri khas berbeda dibanding makam lain di sekitarnya. Hingga kini, tempat tersebut menjadi tujuan ziarah warga lokal maupun luar daerah.
Dalam sejumlah penuturan masyarakat dan juru kunci, Makam Syekh Basyaruddin Tulungagung bukan hanya sekadar tempat peristirahatan terakhir seorang ulama, tetapi juga bagian penting dari sejarah penyebaran Islam di wilayah yang dahulu dikenal sebagai Kabupaten Rowo.
Baca Juga: Makam Syekh Basyaruddin Tulungagung Ramai Diziarahi, Ini Kisah Dakwah dan Karomahnya di Bumi Ngrowo
Keturunan Ulama Besar Tegalsari
Syekh Basyaruddin disebut sebagai keturunan dari Syekh Abdurrahman bin Syekh Abdul Mursyad. Ia juga masih memiliki garis keturunan dengan Kiai Muhammad Hasan Besari, pendiri Pondok Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari, Jetis, Ponorogo.
Dari Ponorogo, Syekh Basyaruddin berhijrah ke Tulungagung untuk menyebarkan agama Islam. Ia menetap dan berdakwah di wilayah Srigading, Bolorejo, Kauman. Perannya dalam perkembangan Islam di Tulungagung cukup besar, bahkan disebut-sebut sebagai guru dari Bupati Tulungagung kala itu, Tumenggung Mangundirono.
Baca Juga: 9 Makam Keramat di Tulungagung yang Paling Diziarahi, dari Gunung Budek hingga Pantai Popoh
Keberadaannya memperkuat jejak sejarah hubungan antara pusat keilmuan Islam di Tegalsari dengan perkembangan dakwah di Tulungagung dan sekitarnya.
Laku Sufi dan Tirakat yang Tak Biasa
Semasa hidupnya, Syekh Basyaruddin dikenal sebagai sosok sufi dengan laku spiritual yang kuat. Ia menjalani kehidupan sederhana dan penuh kesabaran. Salah satu kisah yang kerap diceritakan adalah kebiasaannya saat makan nasi yang bercampur kerikil. Ia memilih menyisihkan kerikil satu per satu sebelum menyantapnya perlahan.
Selain itu, ia dikenal tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Hari-harinya diisi dengan berdakwah, bermujahadah, serta membaca Al-Qur’an. Dalam kondisi senggang sekalipun, ia tetap memilih membaca ayat suci ketimbang melakukan hal yang tidak bermanfaat.
Baca Juga: 9 Makam Keramat di Tulungagung yang Paling Diziarahi, dari Gunung Budek hingga Pantai Popoh
Syekh Basyaruddin juga rutin menjalankan puasa sunnah, seperti puasa Senin-Kamis dan puasa Rajab. Laku tirakatnya semakin unik karena ia sering bermujahadah di atas bambu yang diletakkan di atas aliran sungai. Jika ia tertidur, tubuhnya akan terjatuh ke sungai sehingga langsung terbangun dan melanjutkan zikirnya. Metode ini disebut sebagai salah satu tradisi spiritual khas kalangan Tegalsari.
Kisah Karomah yang Mengundang Decak Kagum
Di antara cerita yang berkembang, terdapat kisah karomah Syekh Basyaruddin saat menghadiri pernikahan putri Tumenggung Mangundirono. Dalam acara tersebut, dekorasi panggung disebut dihiasi air mengalir berisi berbagai jenis ikan, membuat para tamu terkesima.
Cerita lain yang membuat Makam Syekh Basyaruddin Tulungagung semakin dikeramatkan adalah pengalaman para peziarah. Juru kunci makam pernah menuturkan adanya seseorang yang berniat membangun masjid dan pondok pesantren, namun terkendala biaya.
Orang tersebut disarankan untuk berziarah dan berdoa di makam selama 41 hari. Setelah menjalankan wasilah itu, ia mengaku terkejut karena setibanya di rumah, sudah tersedia berbagai material bangunan yang lengkap. Sebagai bentuk syukur, ia menggelar tahlil selama sepekan di makam tersebut.
Kisah serupa juga diceritakan tentang seseorang yang ingin membangun menara masjid. Setelah berziarah, ia mengaku mendapat kemudahan dalam mewujudkan niatnya.
Ikon Wisata Religi Tulungagung
Kini, Makam Syekh Basyaruddin Tulungagung telah menjadi salah satu ikon wisata religi di Kabupaten Tulungagung. Lokasinya yang berada di dekat Bukit atau Gunung Bolorejo menambah suasana religius dan khusyuk bagi para peziarah.
Selain sebagai tempat berdoa dan mengenang perjuangan dakwah, makam ini juga menjadi pengingat sejarah panjang penyebaran Islam di wilayah Tulungagung. Hubungan Syekh Basyaruddin dengan tokoh pemerintahan setempat pada masanya memperlihatkan bahwa dakwah dan kepemimpinan berjalan berdampingan.
Hingga sekarang, tradisi ziarah ke makam wali dan ulama tetap menjadi bagian dari kultur masyarakat Jawa Timur. Makam Syekh Basyaruddin Tulungagung pun terus ramai dikunjungi, terutama pada hari-hari tertentu dan momen keagamaan.
Bagi masyarakat Tulungagung, sosok Syekh Basyaruddin bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan figur spiritual yang dihormati dan diyakini membawa keberkahan.
Editor : Dyah Wulandari