RADAR TULUNGAGUNG - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, suasana sejumlah makam di Tulungagung tampak lebih ramai dari biasanya.
Warga berbondong-bondong melakukan tradisi Geren, sebuah budaya gotong royong membersihkan makam leluhur dan melakukan ziarah kubur.
Tradisi Geren ini bukan sekadar ziarah kubur. Ada makna spiritual yang mengakar kuat di tengah masyarakat. Geren menjadi momentum penyucian diri sebelum memasuki bulan puasa.
Warga membersihkan makam, memanjatkan doa bersama keluarga, sekaligus bersedekah melalui pembagian “berkat” berupa makanan yang biasa disebut "megengan".
Biasanya, rangkaian kegiatan diawali dengan nyekar atau ziarah kubur di makam keluarga untuk mendoakan para leluhur.
Tradisi ini umum dijalankan oleh umat Islam di daerah Jawa, khususnya di Kabupaten Tulungagung, dan menjadi wujud akulturasi budaya Islam dan Jawa.
Meski perkembangan zaman, Geren tetap lestari sebagai identitas masyarakat religius Tulungagung.
Muhammad Dwi Bagus, 35, warga Tulungagung yang kini tinggal di Surabaya, sengaja pulang kampung untuk mengikuti Geren di makam kakek-neneknya di Kelurahan Kepatihan, Tulungagung.
Bersama keluarga, dia mengaku rutin menjalankan tradisi itu setiap tahun.
“Ini dah turun-temurun. Menjelang Ramadan, kami selalu menyempatkan waktu untuk ziarah dan Geren bersama keluarga,” ujarnya.
Hal serupa dilakukan Wahyudiono, 58, warga Nganjuk yang merupakan kelahiran asli Desa Sambitan, Kecamatan Pakel, Tulungagung.
Dia datang bersama keluarga lengkap untuk berziarah ke makam orang tuanya.
Menurutnya, Geren harus terus dilestarikan karena sarat nilai kebaikan. Selain membersihkan makam dan mendoakan leluhur, tradisi tersebut menjadi bentuk penghormatan dan rasa syukur atas kehidupan yang telah dijalani.
“Filosofinya bagus. Kita diingatkan untuk bersyukur dan tidak melupakan asal-usul,” tuturnya.
Pantauan koran ini di makam Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Tulungagung, suasana tampak lebih hidup dari hari biasanya.
Sejak pagi, warga berdatangan bersama anak, istri, hingga kerabat dekat untuk melakukan Geren dan mengirim doa bagi leluhur mereka.
Area pemakaman dipenuhi peziarah yang khusyuk menabur bunga dan melantunkan tahlil.
Di sekitar pintu masuk makam, deretan pedagang kembang setaman juga kebanjiran pembeli.
Menjelang Ramadan, lapak-lapak sederhana itu selalu ramai diserbu warga yang membeli bunga untuk keperluan ziarah. Aktivitas tersebut menghadirkan nuansa religius sekaligus kekeluargaan yang kental.
Tradisi ini telah dilakukan warga Bumi Lawadan sejak turun-temurun dan tidak sekadar ritual, tetapi juga momen berkumpul dan mempererat silaturahmi.
Tak hanya warga lokal, perantau yang memiliki akar keluarga di Tulungagung pun masih menjaga tradisi tersebut.
Di tengah arus modernisasi, Geren di Bumi Ngrowo ini tetap menjadi ruang refleksi spiritual sekaligus perekat sosial.
Tradisi itu mengajarkan bahwa menyambut Ramadan bukan hanya soal persiapan fisik, melainkan juga kebersihan hati dan kepedulian terhadap sesama. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri