TULUNGAGUNG - Gunung Budeg Tulungagung menjadi salah satu destinasi primadona bagi para pecinta alam yang berkunjung ke Kota Marmer. Gunung api purba yang terletak hanya sekitar 10 menit dari pusat kota ini bukan sekadar lokasi pendakian, tetapi juga menyimpan jejak sejarah panjang, cerita rakyat, hingga kisah spiritual yang masih dipercaya masyarakat.
Gunung Budeg Tulungagung dikenal sebagai situs warisan geologi yang terbentuk sekitar 30 juta tahun lalu. Berdasarkan penuturan Agus Utomo, sejarawan sekaligus relawan pelestari yang telah merawat kawasan ini sejak 2003, gunung tersebut muncul akibat patahan lempeng bumi di dasar laut selatan, yang kemudian menyembul ke utara menjadi bukit batuan breksi piroklastik.
Selain nilai geologinya, Gunung Budeg Tulungagung juga lekat dengan legenda Joko Budek yang berkaitan dengan kisah Roro Kembang Sore dan Babat Tulungagung. Cerita rakyat ini diyakini berasal dari era Kerajaan Majapahit, ketika seorang pertapa bernama Joko Tawang dikutuk menjadi batu akibat kesalahpahaman dengan ibunya, Mbok Rondo Dadapan.
Jejak Peradaban dari Megalitikum hingga Mataram
Agus menjelaskan, sebelum era kerajaan Hindu-Buddha, kawasan ini telah digunakan sejak zaman Megalitikum. Di puncak gunung terdapat Watu Joko Budha, menhir yang diyakini sebagai simbol pemujaan masyarakat kuno.
Memasuki era Kerajaan Kediri hingga Majapahit, Gunung Budeg Tulungagung menjadi lokasi pertapaan para tokoh sepuh yang ingin menyempurnakan hidup sebelum wafat. Bahkan, tradisi meletakkan jasad di atas batu disebut pernah dilakukan di kawasan ini, mirip dengan tradisi di Desa Trunyan.
Pada masa kolonial Belanda, di puncak timur gunung pernah berdiri gardu pengamatan dengan cermin besar untuk penanda navigasi. Titik ini juga disebut menjadi acuan koordinat agraria Tulungagung pada masa itu.
Titik Imajiner dan Peran Strategis
Secara tata ruang, posisi Gunung Budeg Tulungagung disebut tidak sembarangan. Jika ditarik garis lurus dari Pendopo Kabupaten ke arah selatan, gunung ini berada tepat di sumbu imajiner kota.
Baca Juga: Pidato Gibran Soal RUU Perampasan Aset Picu Pro Kontra, Publik Desak DPR Segera Sahkan
Konsep ini disebut menyerupai filosofi tata ruang Keraton Yogyakarta yang menghubungkan Pantai Selatan, Keraton, dan Gunung Merapi. Dalam konteks tersebut, Agus menilai ada kemungkinan pengaruh arsitektur Mataram dalam penataan wilayah Tulungagung, mengingat salah satu bupati awalnya memiliki garis keturunan tokoh Mataram.
Selain aspek simbolik, gunung ini juga diyakini memiliki fungsi ekologis penting. Letaknya yang berada di tengah kota disebut menjadi “bandulan” atau penyeimbang getaran ketika terjadi gempa di laut selatan. Selama ini, Tulungagung relatif minim gempa besar yang merusak dibanding daerah pesisir lain.
Kisah Mistis dan Pengalaman Spiritual
Sebagai tempat yang disebut “wingit”, Gunung Budeg Tulungagung juga memiliki cerita mistis. Sejumlah pendaki mengaku mencium aroma bunga atau kemenyan di titik tertentu. Agus sendiri pernah melihat sosok laki-laki sepuh hingga figur berkepala singa saat situasi dianggap tidak kondusif di puncak.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa selama puluhan ribu pendaki naik ke Gunung Budeg, belum pernah terjadi kecelakaan fatal. Menurutnya, kunci keselamatan terletak pada niat dan sikap pengunjung saat berada di kawasan tersebut.
Perjuangan 20 Tahun Menanam Kembali Hutan
Di balik popularitasnya, Gunung Budeg Tulungagung pernah berada dalam kondisi kritis. Saat Agus pertama kali datang pada 2003, tutupan vegetasi hanya sekitar 10 persen. Longsor dan batu bergulir kerap mengancam warga sekitar saat hujan deras.
Baca Juga: KKMP Kunden Blora Luncurkan 24 Kolam Lele Bioflok, Siap Dukung Program MBG dan Ketahanan Pangan
Berbekal mimpi berulang yang ia yakini sebagai panggilan batin, Agus mulai menanam pohon secara mandiri. Selama dua dekade, ia mengaku menghabiskan lebih dari 70 persen penghasilannya untuk membeli bibit dan merawat tanaman.
Kini, tutupan lahan mencapai sekitar 90 persen. Ratusan ribu pohon telah tumbuh, menahan air hujan agar tidak langsung mengalir deras ke sawah warga. Dampaknya, risiko longsor dan gagal panen bisa ditekan.
Ia menegaskan, mayoritas tanaman di puncak bukan bantuan pemerintah, melainkan hasil kerja keras pribadi bersama relawan. Agus bahkan berencana menyerahkan pengelolaan kawasan kepada desa atau pemerintah daerah jika waktunya tiba.
Baca Juga: Babah Alun Tanggapi Narasi MBG Haram, Ajak Masyarakat Tak Suuzon dan Percayakan pada MUI
“Gunung ini bukan milik saya. Saya hanya nunut urip dan mengabdi,” ujarnya.
Dengan perpaduan nilai sejarah, legenda, geologi, dan perjuangan pelestarian lingkungan, Gunung Budeg Tulungagung kini tidak hanya menjadi destinasi wisata alam, tetapi juga simbol harmoni antara manusia, budaya, dan alam.
Editor : Dyah Wulandari