JAKARTA - Sejarah Tulungagung menyimpan kisah panjang yang membentang lebih dari delapan abad. Kabupaten di Jawa Timur ini resmi memiliki hari jadi pada 18 November 1205, sebuah momentum penting yang berkaitan dengan masa kejayaan Kerajaan Daha atau Kadiri. Tak hanya dikenal sebagai penghasil marmer terbesar di Indonesia, Tulungagung juga menyimpan jejak sejarah kerajaan besar Nusantara hingga legenda rakyat yang masih hidup di tengah masyarakat.
Dalam catatan sejarah, Sejarah Tulungagung tidak bisa dilepaskan dari nama lamanya, yakni Kadipaten Ngowo. Wilayah ini telah menjadi saksi perjalanan sejumlah kerajaan besar seperti Kerajaan Singasari, Kerajaan Majapahit, Kesultanan Demak, Kesultanan Pajang, hingga Kesultanan Mataram Islam. Perjalanan panjang ini menjadikan Tulungagung sebagai salah satu daerah dengan warisan sejarah paling kaya di Jawa Timur.
Penetapan 18 November 1205 sebagai hari jadi Tulungagung merujuk pada peristiwa ketika Raja Kertajaya dari Kerajaan Daha memberikan penghargaan kepada masyarakat Tani Lawadan atas kesetiaan mereka. Peristiwa tersebut tercatat dalam Prasasti Lawadan dengan sengkala “sukra-sukla paksa mangga siramasa” yang ditafsirkan sebagai 18 November 1205 Masehi.
Asal-Usul Nama Tulungagung
Sejarah Tulungagung juga menarik ditelusuri dari asal-usul namanya. Setidaknya terdapat tiga versi yang berkembang di masyarakat.
Versi pertama menyebutkan bahwa nama Tulungagung berasal dari sumber air besar yang dahulu berada di kawasan yang kini menjadi alun-alun kota. Pada masa lampau, daerah ini dikenal sebagai Ngerowo, wilayah rawa-rawa dengan mata air melimpah. Kata “tulung” diartikan sebagai sumber air, sementara “agung” berarti besar dalam bahasa Sanskerta.
Konon, sebelum kawasan tersebut dijadikan pusat pemerintahan, sumber air besar itu dikeringkan oleh seorang pemuda sakti bernama Joko Baru, yang dikenal pula sebagai Baru Klinting. Tokoh ini dalam legenda disebut sebagai manusia setengah ular yang pernah bertapa di Gunung Telomoyo dan kemudian berpindah ke Gunung Willis.
Versi kedua menyebutkan bahwa Tulungagung berasal dari frasa “pitulungan agung” atau pertolongan besar. Dahulu, wilayah ini masih berupa tumenggungan yang hendak disatukan menjadi kabupaten. Karena wilayahnya dinilai kurang luas, daerah sekitar memberikan tambahan wilayah sebagai bantuan besar. Dari istilah pitulungan agung inilah nama Tulungagung dipercaya muncul dan melekat hingga kini.
Perpindahan Pusat Pemerintahan
Dalam perjalanan sejarah pemerintahan, pusat administrasi Tulungagung tidak selalu berada di lokasi sekarang. Pada era Ngowo, pusat pemerintahan berada di Kalangbret. Penguasa pertamanya tercatat bernama Kiai Ngabehi Manggundirono, disusul Tondowijoyo dan Raden Mas Mangunegoro.
Baca Juga: Syarat Pencairan TPG 2026 Terbaru, Lengkap Ketentuan Guru Kemendikbud dan TPG Kemenag.
Namun, tidak ditemukan catatan pasti mengenai masa jabatan masing-masing tokoh tersebut. Perubahan besar terjadi pada 1901, ketika Kadipaten Ngowo resmi berganti nama menjadi Kabupaten Tulungagung. Pergantian nama dan pemindahan pusat pemerintahan dilakukan pada masa Bupati Raden Tumenggung Partawijoyo.
Keputusan tersebut diperkuat melalui Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 8 tertanggal 1 Januari 1901 yang mulai berlaku 1 April 1901. Sejak saat itu, pusat pemerintahan berada di lokasi Tulungagung yang dikenal sekarang.
Jejak Majapahit di Tulungagung
Sejarah Tulungagung juga memiliki keterkaitan erat dengan masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Salah satu bukti sejarah penting adalah keberadaan Candi Gayatri di Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu.
Candi tersebut merupakan tempat pemuliaan Gayatri Sri Rajapatni, istri keempat Raden Wijaya, pendiri Majapahit. Gayatri juga dikenal sebagai ibu dari Tribuana Tunggadewi, penguasa perempuan Majapahit yang melahirkan Hayam Wuruk, raja terbesar dan paling masyhur dalam sejarah Majapahit.
Fakta ini menegaskan bahwa Tulungagung bukan sekadar daerah administratif biasa, melainkan wilayah yang memiliki posisi penting dalam lintasan sejarah Nusantara.
Dengan usia lebih dari 800 tahun, Sejarah Tulungagung membuktikan bahwa kabupaten ini bukan hanya terkenal sebagai sentra marmer dan destinasi wisata pantai, tetapi juga sebagai wilayah yang menyimpan kisah kerajaan, legenda rakyat, hingga peninggalan arkeologis yang bernilai tinggi. Perpaduan antara fakta sejarah dan cerita rakyat inilah yang membuat Tulungagung tetap relevan untuk dikenang dan dipelajari hingga kini.
Editor : Dyah Wulandari