JAKARTA - Sejarah Tulungagung bukan sekadar catatan tanggal dan pergantian kekuasaan. Kabupaten di selatan Jawa Timur ini menyimpan jejak panjang peradaban, mulai dari manusia purba, kejayaan kerajaan Hindu-Buddha, islamisasi Jawa, kolonialisme, hingga dinamika Indonesia modern.
Dalam lintasan Sejarah Tulungagung, jejak paling awal bahkan sudah muncul sejak masa prasejarah. Di kawasan Goa Song Gentong, ditemukan bukti kehidupan manusia purba dari era Plistosen. Mereka hidup berburu dan meramu, meninggalkan lukisan cap tangan di dinding batu kapur sebagai penanda eksistensi ribuan tahun silam.
Tak jauh dari sana, di Desa Wajak, dunia arkeologi dikejutkan oleh penemuan fosil manusia purba pada 1889 oleh Eugène Dubois. Fosil tersebut dikenal sebagai Manusia Wajak, salah satu mata rantai penting dalam studi evolusi manusia di Nusantara.
Baca Juga: Ini Dia Besaran TPG 2026, Guru ASN Terima 1 Kali Gaji Pokok, TPG 2026 Dipastikan Cair Setiap Bulan
Dari Animisme ke Hindu-Buddha
Memasuki era Neolitikum, masyarakat mulai mengenal budaya batu besar dan bercocok tanam di lereng Gunung Wilis. Kepercayaan animisme berkembang, menyatu dengan alam yang subur dan aliran sungai kecil yang menjadi sumber kehidupan.
Pada abad-abad pertama Masehi, pengaruh Hindu-Buddha masuk ke Jawa Timur. Wilayah yang kini menjadi Tulungagung turut terserap dalam jaringan kerajaan-kerajaan besar. Saat masa Kerajaan Medang hingga Kerajaan Kadiri, kawasan ini berkembang sebagai wilayah agraris strategis.
Nama Tulungagung sendiri mulai dikenal pada masa Kadiri. Salah satu versi menyebutkan berasal dari istilah “pitulungan agung” atau pertolongan besar. Versi lain mengaitkannya dengan kisah mistis tentang tulang raksasa. Terlepas dari legenda tersebut, nama Tulungagung semakin menguat ketika memasuki era kejayaan Kerajaan Majapahit.
Jejak Megah Majapahit
Pada abad ke-13 hingga ke-15, Tulungagung berkembang sebagai lumbung pangan Majapahit. Jalur perdagangan dari pusat kerajaan di Trowulan menuju pesisir selatan melintasi wilayah ini.
Bukti kejayaan tersebut terlihat dari keberadaan Candi Gayatri di Boyolangu. Candi ini dibangun untuk menghormati Gayatri Rajapatni, istri Raden Wijaya dan nenek dari Hayam Wuruk. Arsitekturnya mencerminkan puncak peradaban Hindu-Buddha di Jawa.
Relief dan seni pahat di wilayah Tulungagung menunjukkan tingginya kualitas seniman lokal pada masa itu. Seni, sastra, dan budaya berkembang seiring kemakmuran agraris yang menopang kekuatan kerajaan.
Islamisasi dan Era Mataram
Setelah Majapahit runtuh, pengaruh Islam masuk secara bertahap melalui pedagang dan ulama. Proses islamisasi berlangsung damai dan berbaur dengan tradisi lokal. Pesantren mulai berdiri sebagai pusat pendidikan dan dakwah.
Ketika Kesultanan Mataram berdiri di bawah Panembahan Senapati, Tulungagung menjadi bagian wilayahnya. Sistem kadipaten diterapkan, dengan bupati yang diangkat langsung oleh sultan.
Pasca Perjanjian Giyanti 1755, wilayah ini masuk dalam pengaruh Kasunanan Surakarta. Meski begitu, para bupati lokal memiliki otonomi cukup luas dalam mengatur pemerintahan sehari-hari.
Kolonialisme dan Perlawanan
Memasuki abad ke-19, Hindia Belanda memperkuat kontrol atas pedalaman Jawa, termasuk Tulungagung. Sistem tanam paksa diterapkan untuk komoditas tebu dan kopi. Infrastruktur dibangun demi kepentingan ekonomi kolonial.
Rakyat merasakan kerja rodi dan penindasan berat. Meski tidak tercatat sebagai medan perang besar, berbagai perlawanan kultural dan sosial terjadi. Seni wayang kulit, ludruk, dan tayub tetap hidup sebagai ruang ekspresi sekaligus perlawanan simbolik.
Organisasi pergerakan seperti Budi Utomo dan Sarekat Islam mulai memiliki pengaruh di wilayah ini pada awal abad ke-20.
Jepang, Kemerdekaan, hingga Reformasi
Pendudukan Jepang 1942-1945 membawa penderitaan baru melalui kerja paksa Romusha. Namun, pendidikan militer PETA justru menumbuhkan benih perlawanan.
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Tulungagung menyatakan diri sebagai bagian Republik Indonesia. Masa perang kemerdekaan 1945-1949 diwarnai gerilya dan pertempuran melawan agresi Belanda.
Pada era Orde Baru di bawah Soeharto, pembangunan pertanian dan infrastruktur digalakkan. Industri marmer di Tulungagung Selatan berkembang pesat menjadi identitas ekonomi daerah.
Reformasi 1998 membuka era otonomi daerah. Demokratisasi berjalan, pemilihan kepala daerah dilakukan langsung, dan masyarakat semakin partisipatif.
Tulungagung Hari Ini
Memasuki abad ke-21, Tulungagung menghadapi tantangan globalisasi. Industri marmer, wayang kulit, dan pertanian harus beradaptasi dengan teknologi dan pasar modern.
Tradisi tetap terjaga. Sadranan menjelang Ramadan, kesenian jaranan, hingga campursari masih hidup berdampingan dengan pusat perbelanjaan dan kampus-kampus baru.
Sejarah Tulungagung adalah mosaik panjang dari prasejarah hingga era digital. Dari Manusia Wajak, kemegahan Majapahit, pahitnya kolonialisme, hingga semangat reformasi, semuanya terpatri dalam denyut kehidupan masyarakatnya hari ini.
Editor : Dyah Wulandari