Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Terungkap! Misteri Pesugihan Keraton Gunung Kawi Malang, Mitos atau Fakta? Ini Penjelasan Lengkapnya

Edo Trianto • Senin, 23 Februari 2026 | 19:25 WIB

Terungkap! Misteri Pesugihan Keraton Gunung Kawi Malang, Mitos atau Fakta? Ini Penjelasan Lengkapnya
Terungkap! Misteri Pesugihan Keraton Gunung Kawi Malang, Mitos atau Fakta? Ini Penjelasan Lengkapnya

RADAR TULUNGAGUNG – Pesugihan Keraton Gunung Kawi Malang kembali menjadi perbincangan hangat masyarakat. Tempat yang berada di Kabupaten Malang, Jawa Timur ini sejak lama dikenal memiliki aura mistis dan kerap dikaitkan dengan praktik mencari kekayaan secara instan. Namun, benarkah pesugihan Keraton Gunung Kawi Malang itu nyata, atau hanya mitos yang berkembang dari generasi ke generasi?

Gunung Kawi sendiri merupakan salah satu destinasi spiritual yang cukup populer di Jawa Timur. Lokasinya berada di Desa Wonosari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Malang. Untuk mencapai kawasan ini, pengunjung membutuhkan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.

Isu mengenai pesugihan Keraton Gunung Kawi Malang semakin kuat karena banyak cerita yang menyebutkan sejumlah pengusaha datang untuk mencari berkah kekayaan. Kesan angker dan keramat pun langsung terasa saat memasuki gerbang kawasan tersebut.

Aura Mistis yang Kental Sejak Gerbang Masuk

Suasana hening dan sepi menyelimuti kompleks Keraton Gunung Kawi. Pohon-pohon besar yang dililit kain hitam bercorak kotak putih menambah kesan sakral. Di beberapa sudut area juga terlihat sesajen yang diletakkan oleh peziarah.

Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang, suasana tersebut bisa memunculkan rasa takut atau tidak nyaman. Namun, menurut penjaga setempat, anggapan bahwa tempat ini sebagai lokasi pesugihan tidak sepenuhnya benar.

Klarifikasi Penjaga: Bukan Tempat Pesugihan

Penjaga Keraton Gunung Kawi menegaskan bahwa mayoritas peziarah datang untuk beribadah dan berdoa, bukan melakukan praktik pesugihan. Di dalam kompleks terdapat dua makam yang sering diziarahi, yakni makam Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati.

Kedua tokoh tersebut diyakini berasal dari keturunan Kejawen Kediri. Namun, makam di lokasi ini bukanlah tempat mereka wafat. Konon, di tempat itulah keduanya melakukan moksa—sebuah laku spiritual hingga raga dan jiwa menyatu atau menghilang.

Para peziarah biasanya memanjatkan doa untuk kelancaran usaha, kesehatan, maupun hajat lainnya. Setelah berdoa, mereka kerap diberikan sebuah benda sebagai simbol atau pengingat untuk dibawa pulang. Jika doa terkabul, peziarah biasanya kembali sebagai bentuk rasa syukur.

Penjaga menekankan bahwa semua kembali pada niat masing-masing individu. Apakah datang untuk berziarah dan menghormati leluhur, atau memiliki keyakinan lain yang bersifat mistis.

Pohon Dewandaru yang Dikeramatkan

Salah satu daya tarik yang sering dikaitkan dengan pesugihan Keraton Gunung Kawi Malang adalah keberadaan pohon Dewandaru di dalam kompleks. Pohon ini dipercaya sebagian orang memiliki keistimewaan.

Konon, siapa pun yang bertapa di bawah pohon tersebut dan mendapatkan daun, buah, atau ranting yang jatuh, dipercaya akan memperoleh keberuntungan, bahkan kekayaan. Namun, prosesnya tidak mudah. Ada yang harus menunggu berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, hingga mendapatkan benda yang dianggap membawa berkah tersebut.

Meskipun demikian, tidak ada bukti konkret yang membenarkan klaim tersebut. Banyak pihak menilai cerita ini hanyalah bagian dari mitos yang berkembang di masyarakat.

Lima Tempat Ibadah dalam Satu Kawasan

Di balik cerita mistisnya, Keraton Gunung Kawi justru menyimpan nilai toleransi yang tinggi. Di dalam satu kawasan terdapat lima tempat ibadah dari agama berbeda, yakni masjid, gereja, klenteng, vihara, dan pura.

Keberadaan lima rumah ibadah tersebut menjadi simbol pluralisme dan keharmonisan antarumat beragama. Umat dari berbagai latar belakang dapat beribadah secara berdampingan dengan damai.

Fakta ini menunjukkan bahwa Keraton Gunung Kawi bukan semata-mata identik dengan pesugihan, tetapi juga menjadi contoh kehidupan toleran di tengah keberagaman.

Mitos atau Fakta?

Hingga kini, perdebatan mengenai pesugihan Keraton Gunung Kawi Malang masih terus berlangsung. Sebagian masyarakat meyakini adanya kekuatan spiritual tertentu, sementara yang lain menganggapnya hanya mitos tanpa dasar.

Secara historis, kawasan ini telah ada sejak masa Prabu Kameswara I pada sekitar abad ke-12. Nilai sejarah dan budaya Kejawen yang melekat kuat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan religi maupun peziarah.

Pada akhirnya, persepsi tentang Gunung Kawi kembali pada keyakinan masing-masing. Apakah dianggap sebagai tempat ibadah dan wisata religi, atau dikaitkan dengan hal-hal mistis, semuanya tergantung sudut pandang pribadi.

Yang jelas, pesugihan Keraton Gunung Kawi Malang tetap menjadi topik yang memancing rasa penasaran dan selalu menarik untuk dibahas.

Editor : Edo Trianto
#Pesugihan Keraton Gunung Kawi Malang Gunung Kawi #gunung kawi #Pohon Dewandaru #wisata religi malang #Keraton Gunung Kawi