Judul:
RADAR TULUNGAGUNG - Asal usul Leak Bali kembali menjadi perbincangan hangat setelah kisahnya viral di media sosial. Cerita tentang makhluk jelmaan pencari tumbal ini memang tak pernah kehilangan daya tarik. Asal usul Leak Bali tidak hanya berkaitan dengan mitologi kuno, tetapi juga pengalaman horor yang diklaim terjadi di era modern.
Dalam berbagai sumber cerita rakyat, asal usul Leak Bali kerap dikaitkan dengan legenda Calonarang, sosok penyihir sakti yang hidup pada masa pemerintahan Raja Airlangga sekitar abad ke-11. Dari sinilah berkembang kisah tentang ilmu hitam, kitab sakral, hingga praktik kanibalisme yang dipercaya sebagian masyarakat.
Calonarang dan Awal Mula Ilmu Leak
Legenda menyebutkan, Calonarang adalah seorang janda sakti bernama Dayu Datu yang tinggal di Desa Girah. Ia dikenal menguasai ilmu hitam tingkat tinggi. Dalam sejumlah lontar kuno, Calonarang disebut menuliskan ajaran sihirnya dalam sebuah kitab ilmu hitam.
Calonarang memiliki seorang putri cantik bernama Ratna Manggali. Namun tak ada pemuda yang berani melamar sang putri karena takut terhadap kesaktian ibunya. Reputasi buruk Calonarang makin menguat setelah ia dituding menjadikan warga sebagai tumbal demi meningkatkan kekuatannya.
Kemarahan masyarakat sampai ke telinga raja. Prajurit kerajaan pun dikirim untuk menangkap dan menghukum Calonarang. Mereka menyusun rencana menyerang saat sang penyihir tertidur. Namun rencana itu gagal total.
Dalam kisah yang berkembang, Calonarang terbangun dan melotot marah. Dari sorot matanya keluar api yang membakar para prajurit hingga tewas. Hanya satu prajurit yang berhasil melarikan diri dan melaporkan kejadian itu ke istana.
Peran Mpu Bharada dan Kitab Ilmu Hitam
Raja kemudian memerintahkan Mpu Bharada untuk mengatasi ancaman tersebut. Menyadari kesaktian Calonarang sulit ditandingi, Mpu Bharada memilih taktik berbeda. Ia berhasil mencuri kitab ilmu hitam milik Calonarang.
Setelah kitab itu hilang, kekuatan Calonarang melemah. Namun sebagian muridnya melarikan diri ke Bali dan diyakini menyebarkan ajaran tersebut di Pulau Dewata. Dari sinilah istilah “leak” berkembang dan melekat dalam budaya Bali.
Dalam tradisi Hindu Bali, ilmu leak konon tertulis dalam lontar-lontar sakral. Ilmu ini disebut memiliki tiga tingkatan. Tingkat dasar memungkinkan penganutnya berubah menjadi hewan seperti monyet atau anjing. Tingkat menengah diyakini dapat berubah menjadi burung atau sosok menyeramkan dengan mata berapi. Sementara tingkat tertinggi disebut mampu menjelma menjadi bade, menara jenazah bertingkat yang mengeluarkan api.
Leak dalam Kepercayaan Modern
Dalam kepercayaan masyarakat modern, leak diartikan sebagai penyihir jahat yang mempraktikkan ilmu hitam dan kanibalisme. Konon, leak kerap mencari wanita hamil untuk menghisap darah janin demi menambah kekuatan magis.
Sosoknya digambarkan menyeramkan, dengan lidah panjang, taring tajam, bahkan terkadang berupa kepala manusia dengan organ menjuntai. Leak disebut hanya dapat terlihat pada malam hari oleh orang tertentu, seperti pemburu leak.
Cara mengalahkannya pun tak kalah ekstrem. Konon, kepala leak yang terbang harus ditusuk dari bawah agar tidak bisa kembali ke tubuhnya. Jika berhasil, maka leak akan mati.
Pengalaman Horor: Mobil Jadi Leak
Selain legenda kuno, beredar pula kisah horor modern yang menguatkan mitos asal usul Leak Bali. Salah satunya pengalaman seorang perempuan bernama Ayu yang diklaim terjadi pada 1996.
Saat berkunjung ke rumah tetangga neneknya, Ayu merasa tak nyaman. Ketika hendak pulang, keluarganya dikejutkan dengan mobil mereka yang tiba-tiba “berkembar” di halaman. Semua mobil tampak identik, termasuk goresan dan nomor polisi.
Ayah Ayu mencoba melempar batu ke salah satu mobil. Anehnya, mobil itu mengeluarkan suara kesakitan. Ketika dipukul menggunakan dongkrak, kendaraan tersebut perlahan berubah wujud menjadi manusia—yang disebut-sebut sebagai tetangga mereka sendiri.
Kisah lain menceritakan tiga pemuda yang membawa pulang ayam tersesat untuk dimasak. Keesokan harinya, ayam tersebut berubah menjadi mayat pria dengan isi perut hilang dan penuh bumbu dapur.
Percaya atau tidak, cerita-cerita ini menjadi bagian dari narasi panjang tentang asal usul Leak Bali. Di satu sisi, leak menjadi ikon budaya yang diangkat dalam pertunjukan seni seperti tari Rangda. Di sisi lain, ia tetap menjadi simbol ketakutan yang hidup dalam cerita turun-temurun.
Terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut, legenda leak menunjukkan betapa kuatnya tradisi lisan dan kepercayaan lokal di Bali. Antara mitos dan realitas, cerita tentang leak masih terus memantik rasa penasaran hingga hari ini.
Editor : Edo Trianto