Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Madura dari Kerajaan hingga Negara Madura 1948: Pernah Dijadikan Alat Tukar Utang dan Jadi Negara Boneka Belanda

Edo Trianto • Senin, 23 Februari 2026 | 20:15 WIB

 

Sejarah Madura dari Kerajaan hingga Negara Madura 1948: Pernah Dijadikan Alat Tukar Utang dan Jadi Negara Boneka Belanda
Sejarah Madura dari Kerajaan hingga Negara Madura 1948: Pernah Dijadikan Alat Tukar Utang dan Jadi Negara Boneka Belanda

RADAR TULUNGAGUNG - Sejarah Madura menyimpan jejak panjang yang jarang diulas secara utuh di ruang kelas. Pulau garam ini bukan sekadar bagian dari Jawa Timur, melainkan wilayah strategis yang pernah diperebutkan kerajaan besar, dijadikan alat tukar utang, hingga dibentuk sebagai Negara Madura 1948 oleh Belanda.

Dalam lintasan Sejarah Madura, pulau ini telah dihuni sejak ribuan tahun sebelum masehi. Secara antropologis, nenek moyang orang Madura diyakini berasal dari rumpun Austronesia yang bermigrasi dari Taiwan melalui Filipina sekitar 3.000–1.500 SM. Mereka menyebar ke berbagai wilayah Nusantara menggunakan perahu bercadik.

Namun catatan sejarah tertulis baru muncul sekitar abad ke-4 Masehi. Sejak abad ke-11, Madura berada di bawah pengaruh kerajaan-kerajaan besar Jawa Timur seperti Kerajaan Kediri, Kerajaan Singasari, hingga Kerajaan Majapahit.

Asal-usul Empat Kabupaten Madura

Sejarah mencatat Madura terbagi menjadi beberapa wilayah kekuasaan lokal yang kemudian berkembang menjadi empat kabupaten: Sumenep, Sampang, Pamekasan, dan Bangkalan.

Sumenep mulai dikenal pada era Singasari. Nama Sumenep diduga berasal dari bahasa Kawi “Sungenep”, yang berarti lembah tenang. Wilayah ini memiliki kontribusi besar terhadap lahirnya Majapahit, karena menjadi tempat perlindungan dan strategi politik Arya Wiraraja.

Sampang berkembang dari pusat pemerintahan Madura Barat. Tokoh pentingnya adalah Arya Lembu Peteng yang memimpin di Madegan pada abad ke-15. Sementara Pamekasan berawal dari wilayah Pamelengan yang dipimpin Kiai Wonorono, lalu berkembang pesat saat Panembahan Ronggo Sukowati memindahkan pusat pemerintahan ke Mandilaras dan resmi mengganti nama menjadi Pamekasan.

Adapun Bangkalan memiliki kisah unik yang dikaitkan dengan pemberontakan Kelesap. Konon nama Bangkalan berasal dari seruan “Pengkahlaan” yang berarti sudah mati, saat Kelesap gugur dalam pertempuran melawan Cakraningrat V.

Penaklukan Mataram dan Lahirnya Cakraningrat

Tahun 1624 menjadi titik balik penting dalam Sejarah Madura. Pasukan Kesultanan Mataram di bawah Sultan Agung menaklukkan seluruh kerajaan di Madura. Banyak penguasa gugur, termasuk Pangeran Purbaya dan Pangeran Martosari.

Satu bangsawan muda yang selamat adalah Raden Prasena dari Arosbaya. Ia dibawa ke Mataram dan diasuh di istana. Berkat kecerdasan dan ketenangannya, ia diangkat menjadi Pangeran Cakraningrat I pada 23 Desember 1624. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai hari lahir Kabupaten Sampang.

Meski tunduk pada Mataram, semangat perlawanan tak pernah padam. Salah satu pemberontakan terbesar dipimpin Pangeran Trunojoyo pada 1671. Bahkan ia sempat menguasai ibu kota Mataram sebelum akhirnya dipatahkan dengan bantuan VOC.

Madura Jadi Alat Tukar Utang hingga Negara Boneka

Babak paling kontroversial dalam Sejarah Madura terjadi ketika wilayah ini dijadikan alat tukar untuk membayar utang Mataram kepada Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Sejak 1705, Madura Timur berada di bawah pengaruh VOC.

Perjanjian Giyanti 1755 semakin memperkuat dominasi Belanda. Pantai utara Jawa dan Madura berada dalam kendali perusahaan dagang tersebut. Sejak itu, Madura bertransformasi dari kerajaan menjadi keresidenan Hindia Belanda.

Memasuki masa kemerdekaan, Belanda kembali melancarkan agresi militer. Pada 4 Agustus 1947, pasukan Belanda mendarat di Pelabuhan Kamal, Bangkalan. Pertempuran sengit terjadi pada 16 Agustus 1947, melibatkan ribuan pejuang dan pasukan Sabilillah.

Di Pamekasan, pertempuran di sekitar Masjid Jami menjadi saksi kekejaman. Para pejuang yang gugur dikumpulkan dan dibakar di depan masjid. Perlawanan rakyat Madura berlangsung selama berbulan-bulan.

Belanda kemudian membentuk Negara Madura pada 20 Februari 1948 sebagai bagian dari strategi federalisme. Cakraningrat diangkat menjadi wali negara. Negara ini memiliki struktur pemerintahan lengkap, termasuk DPR dan departemen.

Namun tekanan rakyat yang pro-Republik tak terbendung. Pada 9 Maret 1950, Negara Madura resmi dibubarkan dan kembali ke pangkuan Republik Indonesia.

Warisan Sejarah dan Identitas

Sejarah Madura menunjukkan pulau ini bukan wilayah pinggiran. Ia pernah menjadi bagian penting strategi kerajaan besar, medan perang kolonial, hingga eksperimen politik Belanda.

Dari kerajaan-kerajaan kecil, penaklukan Mataram, dominasi VOC, hingga berdirinya Negara Madura 1948, semuanya membentuk karakter masyarakatnya: religius, tangguh, dan berani mempertahankan harga diri.

Kalimat yang kerap digaungkan masyarakat Madura menggambarkan identitas itu: jangan ajari kami cinta Indonesia, tapi cintailah kami sebagaimana kami mencintai negeri ini.

 

 

 

Editor : Edo Trianto
#Perlawanan Belanda #sejarah #madura #asal usul #Kerajaan Madura Barat