Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Perlawanan Madura: Dari Legenda Jokotole, Pemberontakan Trunojoyo hingga Melawan VOC dan Jepang

Edo Trianto • Senin, 23 Februari 2026 | 20:25 WIB

 

Sejarah Perlawanan Madura: Dari Legenda Jokotole, Pemberontakan Trunojoyo hingga Melawan VOC dan Jepang
Sejarah Perlawanan Madura: Dari Legenda Jokotole, Pemberontakan Trunojoyo hingga Melawan VOC dan Jepang

RADAR TULUNGAGUNG - Sejarah Perlawanan Madura bukan sekadar rangkaian kisah kerajaan dan legenda, melainkan narasi panjang tentang keberanian, harga diri, dan semangat anti-penindasan yang mengakar kuat di Pulau Garam. Dari era kerajaan kecil hingga kolonialisme Belanda dan pendudukan Jepang, Madura terus mencatatkan jejak perlawanan.

Dalam lintasan waktu, Sejarah Perlawanan Madura dimulai sejak masa kerajaan-kerajaan lokal seperti Arosbaya, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep yang kerap berada di bawah bayang-bayang kekuasaan besar di Jawa. Ketika ekspansi Mataram di bawah Sultan Agung menaklukkan Madura pada 1624, perlawanan sengit tak terhindarkan.

Catatan sejarah menyebut ribuan pejuang Madura, termasuk perempuan, turun ke medan laga menghadapi puluhan ribu pasukan Mataram. Meski akhirnya takluk secara militer, api perlawanan dalam Sejarah Perlawanan Madura tak pernah padam.

Trunojoyo dan Perlawanan terhadap Mataram-VOC

Salah satu bab paling monumental adalah pemberontakan Trunojoyo pada abad ke-17. Ia bukan sekadar bangsawan, melainkan simbol perlawanan murni terhadap tirani dan campur tangan VOC.

Trunojoyo berhasil merebut Madura Barat dan bahkan mengguncang pusat kekuasaan Mataram di Pleret. Pada 1676, pasukannya memukul mundur kekuatan Mataram. Ia mendeklarasikan diri sebagai penguasa merdeka, menolak tunduk pada hegemoni Jawa maupun Belanda.

Namun, aliansi Mataram dengan VOC menjadi titik balik. Setelah serangkaian pertempuran, Trunojoyo akhirnya ditangkap pada 1679 di lereng Gunung Kelud. Meski kalah, namanya abadi sebagai ikon perlawanan rakyat Madura terhadap kolonialisme.

Cakraningrat IV dan Pengasingan Tragis

Perlawanan berlanjut di abad ke-18 lewat sosok Cakraningrat IV. Ia awalnya bersekutu dengan VOC, namun kemudian menyadari praktik kolonial yang merugikan rakyatnya. Dengan dukungan pasukan Bali, ia melawan dominasi Belanda dan sempat menguasai sejumlah wilayah pesisir Jawa.

VOC tak tinggal diam. Cakraningrat IV akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Tanjung Harapan, tempat ia wafat pada 1759. Rakyat Madura mengenangnya sebagai pemimpin yang berani menentang penjajah hingga akhir hayat.

Baca Juga: Darurat Kepemimpinan Polri: Mantan Kapolres Bima dan Perwira Polisi Lain Terjerat Narkoba, Ancaman Integritas Besar

Legenda Jokotole dan Identitas Kepahlawanan

Selain tokoh historis, legenda seperti Jokotole juga memperkaya narasi perlawanan. Dalam cerita rakyat, Jokotole digambarkan sebagai ksatria sakti yang menundukkan musuh asing dan membela kehormatan Madura.

Legenda ini bukan sekadar mitos, tetapi simbol identitas kolektif tentang keberanian dan loyalitas terhadap tanah kelahiran. Hingga kini, makam dan situs yang dikaitkan dengan Jokotole menjadi tujuan ziarah dan pengingat sejarah lokal.

Perlawanan di Era Kolonial dan Jepang

Memasuki abad ke-19, Belanda menerapkan pemerintahan langsung di Pamekasan (1858), Sumenep (1883), dan Madura Barat (1885). Sistem pajak uang menggantikan upeti tradisional. Meski membawa perubahan ekonomi seperti berkembangnya tembakau, ketimpangan sosial tetap terasa.

Perlawanan muncul dalam berbagai bentuk, dari gerakan para kiai hingga aksi massa di desa-desa seperti Prajan, Sampang. Ketika Jepang menduduki Madura pada 12 Maret 1942, rakyat kembali menghadapi penindasan.

Romusha, kerja paksa, serta praktik jugun ianfu menjadi luka mendalam. Namun, pembentukan PETA secara tak langsung melatih pemuda Madura dalam militer. Setelah Jepang menyerah pada Agustus 1945, Madura menyambut Proklamasi sebagai bagian dari Republik Indonesia.

Dari Sejarah ke Identitas Modern

Jejak panjang Sejarah Perlawanan Madura membentuk karakter masyarakatnya yang dikenal tegas, religius, dan menjunjung tinggi harga diri. Tradisi seperti kerapan sapi, budaya pesantren, serta solidaritas sosial adalah refleksi dari daya tahan sejarah tersebut.

Dari Trunojoyo hingga Cakraningrat IV, dari legenda Jokotole hingga perlawanan terhadap Jepang, Madura membuktikan diri sebagai tanah para pejuang. Sebuah pulau yang mungkin kecil secara geografis, tetapi besar dalam catatan sejarah Nusantara.

 

 

 

Editor : Edo Trianto
#karapan sapi #Perlawanan Bangsa Indonesia #trunojoyo #madura adalah #sejarah madura