RADAR TULUNGAGUNG - Asal Usul Pulau Madura tak bisa dilepaskan dari legenda besar tentang Raden Sagoro, Putri Bendorogung, dan pusaka sakti yang hingga kini diyakini masih tersimpan di Keraton Bangkalan. Kisah ini bukan sekadar dongeng, melainkan narasi spiritual yang membentuk identitas masyarakat Pulau Garam.
Dalam berbagai tutur lisan, asal usul Pulau Madura bermula dari peristiwa dahsyat sekitar abad ke-10 saat Kerajaan Medang Kamulan di Jawa diguncang letusan gunung berapi. Getaran alam itu disebut-sebut mengangkat daratan yang sebelumnya hanya muncul tenggelam di lautan menjadi pulau utuh. Bukit seperti Gunung Geger diyakini sebagai saksi bisu kelahiran Madura.
Namun, sejarah geologis itu berpadu dengan kisah mistis tentang seorang putri kerajaan bernama Putri Bendorogung, anak Raja Sang Hyang Tunggal dari Medang Kamulan.
Kehamilan Misterius dan Pengasingan
Legenda menyebut Putri Bendorogung hamil setelah bermimpi rembulan masuk ke tubuhnya. Tanpa suami, kehamilan itu dianggap aib. Sang raja murka dan memerintahkan patihnya, Peranggulang, untuk membunuh sang putri.
Namun keajaiban terjadi. Pedang yang dihunus tiga kali selalu terlepas dari tangan patih. Ia pun menyadari ada takdir ilahi di balik peristiwa itu. Peranggulang memilih mengasingkan diri, mengganti namanya menjadi Kiai Poleng, dan menghanyutkan sang putri ke laut dengan rakit sederhana menuju Madu Oro—nama lama Madura.
Rakit itu terdampar di kaki Gunung Geger. Di sanalah Putri Bendorogung melahirkan Raden Sagoro, yang kelak disebut sebagai putra laut.
Raden Sagoro dan Dua Tombak Sakti
Sejak kecil, Raden Sagoro menunjukkan kekuatan luar biasa. Dalam salah satu peristiwa, dua naga raksasa muncul dari laut. Atas bimbingan Kiai Poleng, bocah itu berhasil menaklukkan keduanya. Naga tersebut berubah menjadi dua pusaka sakti: Kiai Nenggolo dan Kiai Aluro.
Dua tombak ini diyakini bagian dari pusaka yang dahulu digunakan untuk “menyegel” tanah Jawa dari gangguan makhluk halus. Dalam cerita rakyat, pusaka tersebut menjadi simbol legitimasi kepemimpinan dan perlindungan spiritual.
Beberapa tahun kemudian, ketika Medang Kamulan diserang pasukan asing, Raja Sang Hyang Tunggal bermimpi tentang seorang pemuda dari Pulau Madu yang bisa menyelamatkan kerajaan. Raden Sagoro dipanggil ke Jawa dan berhasil memukul mundur musuh hanya dengan menunjuk tombak pusakanya.
Sebagai penghormatan, ia diberi gelar Tumenggung dan hampir dijadikan menantu raja.
Muksa dan Warisan Gaib
Namun kisah ini berakhir tragis sekaligus misterius. Saat Raden Sagoro menanyakan siapa ayahnya, Putri Bendorogung tanpa sengaja menyebut kata “siluman”. Seketika, mereka berdua beserta kediamannya di Desa Nepah menghilang atau muksa.
Desa Nepah di Kecamatan Ketapang, Sampang, hingga kini masih dikenal sebagai bagian dari jejak legenda tersebut.
Meski Raden Sagoro muksa, dua tombak pusaka tidak ikut lenyap. Pusaka itu diwariskan kepada Pangeran Demang Palakaran, yang kemudian menjadi penguasa wilayah Bangkalan.
Hingga kini, masyarakat meyakini pusaka tersebut tersimpan dan dirawat di lingkungan Keraton Bangkalan. Tombak Kiai Nenggolo dan Kiai Aluro hanya dikeluarkan pada upacara adat tertentu.
Kiai Poleng dan Simbol Poleng
Sosok Kiai Poleng diyakini tidak pernah benar-benar pergi. Ia dipercaya menjadi pelindung spiritual Madura dan para pemimpinnya. Motif kain poleng hitam-putih pun menjadi simbol sakral dalam berbagai ritual adat, termasuk selamatan laut.
Bahkan dalam kepercayaan masyarakat, Raden Sagoro disebut memiliki hubungan spiritual dengan Nyi Roro Kidul, penguasa Laut Selatan.
Legenda yang Membentuk Identitas
Terlepas dari unsur mistisnya, legenda ini mengandung nilai moral kuat: keberanian, kesetiaan, pengorbanan, dan membalas keburukan dengan kebaikan. Raden Sagoro yang pernah dibuang justru menyelamatkan kerajaan sang kakek.
Nilai-nilai inilah yang diyakini membentuk karakter masyarakat Madura—tegas, religius, dan menjunjung harga diri.
Asal Usul Pulau Madura bukan hanya kisah tentang geologi atau legenda, melainkan fondasi identitas kultural yang terus hidup. Dari Gunung Geger hingga Keraton Bangkalan, jejak cerita itu masih diyakini melekat pada tanah, pusaka, dan tradisi yang diwariskan turun-temurun.