Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Asal Usul Suku Madura dari Prabu Truno dan Jokotole, Epos Pulau Madu yang Jadi Cikal Bakal Peradaban Tangguh

Edo Trianto • Senin, 23 Februari 2026 | 20:30 WIB

 

Asal Usul Suku Madura dari Prabu Truno dan Jokotole, Epos Pulau Madu yang Jadi Cikal Bakal Peradaban Tangguh
Asal Usul Suku Madura dari Prabu Truno dan Jokotole, Epos Pulau Madu yang Jadi Cikal Bakal Peradaban Tangguh

RADAR TULUNGAGUNG - Asal usul Suku Madura selalu menarik ditelusuri. Di balik karakter masyarakatnya yang dikenal tegas, religius, dan pekerja keras, tersimpan epos panjang tentang perpindahan besar dari Kerajaan Medang Kamulan menuju Pulau Madu—yang kini dikenal sebagai Madura.

Kisah asal usul Suku Madura bermula dari sosok Prabu Truno, raja sakti keturunan Sanghyang Ismaya yang memimpin Medang Kamulan di timur Pulau Jawa. Dalam sebuah wangsit, ia bermimpi tentang tanah tandus di seberang lautan yang memanggilnya untuk membangun peradaban baru. Mimpi itu kemudian ditafsirkan oleh Empu Kaileng dari Gunung Penanggungan sebagai takdir besar.

Tak lama, Prabu Truno memutuskan meninggalkan takhta dan memimpin sekitar 100 keluarga menuju Pulau Madu. Perjalanan laut selama tujuh hari tujuh malam penuh badai menjadi ujian pertama dalam sejarah asal usul Suku Madura. Ombak besar, kelaparan, dan kehabisan air tawar nyaris menggagalkan misi tersebut. Namun, mereka selamat dan akhirnya mendarat di tanah berkarang yang keras dan panas.

Pertemuan dengan Jokotole

Sesampainya di Pulau Madu, rombongan Prabu Truno dihadang sosok raksasa penjaga pulau bernama Jokotole. Dalam legenda, Jokotole digambarkan sebagai penguasa asli pulau yang kuat dan disegani.

Alih-alih bertarung dengan senjata, Prabu Truno memilih menghadapi Jokotole dengan kecerdikan. Ia dan para pengikutnya berhasil membajak tanah berbatu, memancarkan mata air, dan menebang pohon besar dengan teknik tepat. Kecerdikan dan kerja sama itu membuat Jokotole takluk dan akhirnya bergabung membangun peradaban baru.

Dari titik itulah, berdirilah permukiman pertama bernama Aing Mata, yang berarti mata air kehidupan. Tempat ini menjadi simbol bahwa kerja keras dan kebersamaan mampu mengubah tanah tandus menjadi sumber penghidupan.

Lahirnya Tanean Lanjang dan Sistem Sosial

Dalam perjalanan membangun komunitas, masyarakat awal Madura membentuk pola permukiman khas bernama tanean lanjang. Rumah-rumah dibangun memanjang dalam satu pekarangan besar, dihuni satu keluarga besar yang dipimpin seorang kokol atau sesepuh.

Sistem ini menekankan persatuan, gotong royong, dan pengawasan sosial yang kuat. Di tingkat desa, kepemimpinan dipegang oleh klebun yang dipilih melalui musyawarah. Model kepemimpinan kolektif ini menjadi fondasi budaya Madura yang menjunjung kehormatan dan mufakat.

Falsafah hidup mulai terbentuk, salah satunya berbunyi “lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup menanggung malu.” Nilai harga diri atau kehormatan menjadi elemen sentral dalam karakter masyarakat.

Tradisi Merantau dan Pilar Kehormatan

Seiring bertambahnya populasi dan keterbatasan lahan, lahirlah tradisi merantau. Jiwa perintis Prabu Truno mengalir dalam generasi berikutnya. Mereka menyebar ke wilayah tapal kuda Jawa Timur hingga ke berbagai penjuru Nusantara.

Perantau Madura berpegang pada empat pilar: bupa (orang tua), babuk (tanah kelahiran), guru (agama), dan rato (pemimpin). Filosofi ini menjaga identitas mereka tetap kuat meski berada di tanah orang.

Solidaritas antarperantau pun dikenal sangat erat. Komunitas-komunitas Madura tumbuh di kota-kota besar dengan etos kerja tinggi, terutama di sektor perdagangan, tambak, hingga jasa transportasi.

Islam dan Penguatan Identitas

Masuknya Islam ke Madura tidak menghapus adat lama, melainkan memperkuatnya. Ajaran agama menyatu dengan sistem sosial yang telah terbentuk. Pesantren berkembang menjadi pusat pendidikan dan moral masyarakat.

Falsafah “abantal syahadat, asapo iman” menjadi pegangan hidup. Artinya, sebelum mengandalkan kekuatan fisik atau senjata seperti keris dan celurit, seseorang harus bersandar pada iman.

Dalam konteks budaya, lahir pula kesenian khas seperti ludruk, saronen, dan tradisi kerapan sapi yang menjadi identitas Madura hingga kini.

Warisan yang Terus Hidup

Epos panjang asal usul Suku Madura bukan sekadar cerita legenda, melainkan fondasi karakter kolektif. Dari keberanian menyeberangi lautan, kecerdikan menghadapi Jokotole, hingga membangun sistem sosial berbasis kehormatan dan musyawarah, semuanya membentuk masyarakat yang resilien.

Kini, semangat itu tetap hidup dalam diri petani, nelayan, santri, hingga perantau Madura di berbagai daerah. Madura bukan hanya wilayah geografis, melainkan simbol ketangguhan, kehormatan, dan iman yang tak lekang oleh waktu.

 

 

Editor : Edo Trianto
#Jokotole #Suku Madura #madura #budaya Madura #sejarah madura