Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Asal Usul Banyuwangi: Kisah Tragis Raden Banterang dan Putri Surati yang Berakhir di Telaga Wangi

Edo Trianto • Senin, 23 Februari 2026 | 21:30 WIB

Asal Usul Banyuwangi: Kisah Tragis Raden Banterang dan Putri Surati yang Berakhir di Telaga Wangi
Asal Usul Banyuwangi: Kisah Tragis Raden Banterang dan Putri Surati yang Berakhir di Telaga Wangi

RADAR TULUNGAGUNG - Asal usul Banyuwangi tak bisa dilepaskan dari kisah tragis cinta Raden Banterang dan Putri Surati yang melegenda di tanah Blambangan. Cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun ini mengisahkan tentang pengkhianatan, fitnah, hingga penyesalan mendalam yang melahirkan nama Banyuwangi.

Dalam legenda asal usul Banyuwangi, diceritakan bahwa Kerajaan Klungkung mengalami kekalahan dalam peperangan melawan Kerajaan Blambangan yang dipimpin Prabu Menak Prakoso. Kekalahan itu memaksa putra dan putri Raja Klungkung, Raden Rupaksa dan Putri Surati, melarikan diri ke hutan demi menyelamatkan diri.

Kisah asal usul Banyuwangi semakin dramatis ketika Surati terpisah dari kakaknya. Di tengah pelariannya, takdir mempertemukan dirinya dengan Raden Banterang, putra Prabu Menak Prakoso. Pertemuan keduanya terjadi di sebuah telaga saat Banterang tengah berburu kijang dan tersesat di hutan.

Pertemuan di Tepi Telaga

Raden Banterang yang sedang beristirahat di tepi telaga dikejutkan oleh kemunculan seorang gadis cantik yang tampak kelelahan. Gadis itu adalah Surati. Meski awalnya curiga karena Banterang mengenakan pakaian bangsawan, hubungan keduanya perlahan berubah menjadi cinta.

Beberapa hari bersama di hutan, perasaan di antara mereka semakin kuat. Raden Banterang pun membawa Surati kembali ke Blambangan dan menikahinya. Pernikahan tersebut sempat mendapat penolakan dari Prabu Menak Prakoso karena asal-usul Surati tidak jelas. Namun, seiring waktu, Surati berhasil merebut hati rakyat Blambangan berkat sikapnya yang ramah dan lembut.

Fitnah yang Menghancurkan Cinta

Kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Raden Rupaksa, kakak Surati, akhirnya menemukan sang adik. Ia kecewa karena Surati memilih hidup bahagia bersama putra musuh yang telah mengalahkan ayah mereka. Rupaksa berniat membalas dendam, namun Surati menolak. Ia memilih mengikhlaskan masa lalu demi cintanya pada Banterang.

Sebelum pergi, Rupaksa memberikan ikat kepala khas Kerajaan Klungkung sebagai kenang-kenangan dan meminta Surati menyimpannya di bawah bantal. Rupaksa kemudian menyusun siasat licik. Ia menemui Raden Banterang dan menuduh Surati berselingkuh serta merencanakan balas dendam.

Fitnah itu diperkuat dengan informasi tentang ikat kepala yang disimpan di bawah bantal. Raden Banterang yang diliputi cemburu dan amarah segera pulang untuk membuktikan tuduhan tersebut.

Kebenaran yang Terlambat

Sesampainya di istana, Banterang menemukan ikat kepala itu tepat di tempat yang disebutkan. Emosinya memuncak. Ia merasa dikhianati dan tak lagi mempercayai penjelasan Surati. Meski Surati bersumpah tak pernah mendua dan menjelaskan bahwa ikat kepala itu pemberian kakaknya, Banterang tak mampu meredam amarah.

Surati kemudian dibawa ke telaga tempat pertama kali mereka bertemu. Di sanalah kisah asal usul Banyuwangi mencapai puncaknya. Surati memohon satu permintaan terakhir. Ia bersedia menceburkan diri ke telaga untuk membuktikan kesuciannya.

“Jika air telaga menjadi keruh dan berbau busuk, maka aku bersalah. Namun jika air menjadi jernih dan harum, maka aku tidak bersalah,” ucap Surati sebelum terjun ke dalam telaga.

Sesaat setelah Surati tenggelam, air telaga berubah menjadi sangat jernih dan menyebarkan aroma wangi. Raden Banterang tersadar dari amarahnya. Penyesalan menyergap ketika ia menyadari istrinya tidak bersalah.

Dengan penuh duka, ia terus menggumamkan kata “Banyuwangi” yang berarti air wangi. Sejak saat itulah wilayah tersebut dikenal dengan nama Banyuwangi, sebagai simbol kesucian dan kebenaran Surati.

Makna di Balik Legenda Banyuwangi

Legenda asal usul Banyuwangi bukan sekadar cerita rakyat. Kisah ini mengandung pesan moral tentang bahaya fitnah, pentingnya kepercayaan dalam hubungan, serta dampak buruk dari amarah dan kecemburuan yang tak terkendali.

Hingga kini, cerita Raden Banterang dan Surati masih hidup dalam tradisi lisan masyarakat Jawa Timur. Nama Banyuwangi sendiri menjadi pengingat akan peristiwa tragis yang melatarbelakanginya—air yang harum sebagai bukti kebenaran.

Legenda ini juga memperkaya khazanah budaya Nusantara, mempertegas identitas sejarah Blambangan yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Banyuwangi. Sebuah kisah cinta yang berakhir pilu, namun abadi dalam ingatan masyarakat.

 

 

Editor : Edo Trianto
#Kerajaan blambangan #banyuwangi #sejarah #Legenda Banyuwangi #asal usul