Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Asal Usul Banyuwangi: Kisah Raden Banterang dan Putri Surati, Perang Blambangan hingga Cinta yang Mengubah Sejarah

Edo Trianto • Senin, 23 Februari 2026 | 21:37 WIB

Asal Usul Banyuwangi: Kisah Raden Banterang dan Putri Surati, Perang Blambangan hingga Cinta yang Mengubah Sejarah
Asal Usul Banyuwangi: Kisah Raden Banterang dan Putri Surati, Perang Blambangan hingga Cinta yang Mengubah Sejarah

RADAR TULUNGAGUNG - Asal usul Banyuwangi tak hanya dikenal sebagai legenda romantis, tetapi juga berakar pada kisah perang, ambisi, dan cinta antara Raden Banterang dan Putri Surati. Cerita rakyat dari tanah timur Jawa ini mengisahkan bagaimana konflik Kerajaan Blambangan dan Klungkung berujung pada pertemuan dua insan yang kelak mengubah sejarah.

Dalam kisah asal usul Banyuwangi, Raden Banterang digambarkan sebagai penguasa Blambangan yang ambisius namun bijak. Ia mewarisi cita-cita ayahnya, Raja Dedali Putih, untuk memperluas wilayah kekuasaan hingga Nusa Lembangan dan Semenanjung Purwa. Di sisi lain, Kerajaan Klungkung yang dipimpin Gusti Agung Rake masih menyimpan luka lama akibat peperangan berdarah.

Konflik berkepanjangan antara Blambangan dan Klungkung memicu perang gerilya di hutan perbatasan. Selama tiga bulan, kedua pasukan saling serang dalam pertempuran senyap yang melelahkan. Strategi militer dan tekanan terhadap desa-desa membuat Klungkung semakin terdesak. Hingga akhirnya, Banterang memimpin langsung serangan besar ke istana Klungkung.

Perang yang Mengubah Takdir

Serangan itu berlangsung dahsyat. Istana Klungkung terbakar, namun Raja Rake berhasil meloloskan diri melalui jalur rahasia bersama keluarganya. Dalam strategi penyelamatan garis keturunan, rombongan kerajaan dipecah. Putri Surati, adik Rake, diperintahkan menyamar sebagai rakyat biasa dan menyeberang ke wilayah musuh: Blambangan.

Keputusan itu berat, tetapi Surati menaatinya. Setelah perjalanan panjang menyeberangi selat dan menyusuri hutan, ia memilih menetap di Alas Benua—wilayah dalam kekuasaan Blambangan. Bersama embannya, ia membangun gubuk sederhana, jauh dari identitas bangsawannya.

Takdir kemudian mempertemukannya dengan Raden Banterang.

Pertemuan di Hutan Alas Benua

Suatu hari, saat Banterang berburu kijang, anak panahnya melesat dan mengenai sasaran. Namun di samping kijang yang roboh, berdiri seorang perempuan berpakaian putih yang tengah mencabut anak panah tersebut. Dialah Surati.

Pertemuan itu menjadi titik balik dalam legenda asal usul Banyuwangi. Banterang terpikat oleh kecantikan dan ketenangan Surati. Ia memerintahkan sang perempuan misterius itu dibawa ke istana demi keselamatannya. Tanpa mengetahui identitas asli Surati sebagai putri Klungkung, Banterang justru jatuh cinta.

Tak butuh waktu lama, Banterang mengumumkan kepada rakyat bahwa Surati akan menjadi permaisuri Blambangan. Pernikahan agung digelar meriah. Bagi Banterang, pernikahan ini bukan sekadar cinta, tetapi juga simbol penyatuan dua kerajaan yang lama bermusuhan.

Baca Juga: Sejarah Suku Madura dari Zaman Proto Melayu hingga Era Modern: Asal Usul, Perlawanan, dan Tradisi Karapan Sapi yang Mendunia

Cinta, Penyesalan, dan Harapan Damai

Empat tahun berlalu dalam keharmonisan. Surati akhirnya membuka identitasnya sebagai putri Klungkung. Banterang tidak murka. Sebaliknya, ia melihat peluang damai. Ia mengakui bahwa peperangan di masa lalu adalah kesalahan yang lahir dari ambisi dan ego.

Banterang bahkan berencana mendatangi Klungkung untuk meminta maaf dan mengakhiri dendam turun-temurun. Baginya, kemenangan sejati bukan menaklukkan wilayah, melainkan menaklukkan hawa nafsu dan kebencian.

Namun, di tengah harapan itu, Surati jatuh sakit. Batuk yang tak kunjung reda melemahkan tubuhnya. Muncul kabar tentang tabib sakti bernama Mandara yang konon mampu menyembuhkan segala penyakit. Banterang berniat memanggilnya, berharap kesembuhan Surati menjadi awal perjalanan damai menuju Klungkung.

Di saat bersamaan, ancaman misterius mulai tercium. Ki Empu Dharma, penasihat spiritual Banterang, memperingatkan adanya bahaya besar di istana. Sang raja diminta meninggalkan istana untuk sementara waktu demi keselamatannya.

Awal Legenda Banyuwangi

Kepergian mendadak Banterang membuat Surati terpukul. Ia memilih menunggu suaminya di halaman istana dalam tenda sederhana, berdoa tanpa henti. Keteguhan hati dan kesetiaan Surati menjadi inti dari kisah asal usul Banyuwangi yang kelak dikenal luas.

Legenda ini berkembang dengan berbagai versi, namun benang merahnya sama: cinta yang diuji oleh fitnah, pengorbanan, dan kesucian hati. Dari kisah inilah muncul nama “Banyuwangi” yang berarti air yang harum—simbol kemurnian dan ketulusan.

Hingga kini, cerita Raden Banterang dan Putri Surati tetap hidup dalam tradisi lisan masyarakat Jawa Timur. Kisah tersebut bukan sekadar dongeng, melainkan refleksi nilai moral tentang bahaya ambisi, pentingnya kepercayaan, dan arti pengampunan.

Asal usul Banyuwangi menjadi bagian penting dari identitas sejarah Blambangan, mengingatkan bahwa dari luka peperangan dan cinta terlarang, lahirlah sebuah nama yang harum sepanjang masa.

 

 

Editor : Edo Trianto
#Kerajaan blambangan #banyuwangi #Putri Surati #Legenda Banyuwangi #asal usul