Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Asal Usul Kota Banyuwangi: Kisah Tragis Raden Banterang dan Surati, Sumpah Sungai Harum yang Jadi Sejarah

Edo Trianto • Senin, 23 Februari 2026 | 21:50 WIB

Asal Usul Kota Banyuwangi: Kisah Tragis Raden Banterang dan Surati, Sumpah Sungai Harum yang Jadi Sejarah
Asal Usul Kota Banyuwangi: Kisah Tragis Raden Banterang dan Surati, Sumpah Sungai Harum yang Jadi Sejarah

 

RADAR TULUNGAGUNG - Asal usul Kota Banyuwangi menjadi salah satu legenda paling populer dari Jawa Timur. Kisah ini menceritakan tentang cinta, fitnah, dan penyesalan yang berujung pada lahirnya nama Banyuwangi, yang berarti air yang harum.

Dalam cerita asal usul Kota Banyuwangi, dikisahkan pada zaman dahulu berdiri sebuah kerajaan besar di ujung timur Pulau Jawa. Kerajaan itu dipimpin raja yang adil dan bijaksana. Sang raja memiliki seorang putra gagah bernama Raden Banterang, yang gemar berburu ke hutan.

Suatu hari, Raden Banterang pergi berburu bersama para pengiringnya. Di tengah perburuan, ia melihat seekor kijang melintas dan mengejarnya hingga masuk jauh ke dalam hutan. Tanpa disadari, ia terpisah dari rombongan dan tersesat.

Pertemuan di Sungai Bening

Saat kehilangan jejak buruannya, Raden Banterang menemukan sebuah sungai dengan air yang sangat jernih dan segar. Setelah menghilangkan dahaga, ia dikejutkan oleh kemunculan seorang gadis cantik di tepi sungai.

Gadis itu memperkenalkan diri sebagai Surati, putri dari Kerajaan Klungkung. Ia mengaku melarikan diri ke hutan setelah ayahnya gugur dalam peperangan. Mendengar kisah tersebut, Raden Banterang merasa iba dan membawa Surati ke istana.

Singkat cerita, keduanya saling jatuh cinta dan menikah. Kehidupan rumah tangga mereka berjalan bahagia. Surati dikenal sebagai istri yang setia dan lemah lembut.

Kedatangan Rupaksa dan Awal Fitnah

Konflik bermula ketika Surati didatangi seorang lelaki berpakaian compang-camping. Lelaki itu ternyata Rupaksa, kakak kandung Surati. Ia datang untuk mengajak adiknya membalas dendam karena menganggap Raden Banterang sebagai pembunuh ayah mereka.

Namun Surati menolak ajakan tersebut. Ia merasa berutang budi kepada suaminya yang telah menyelamatkannya. Rupaksa yang kecewa kemudian memberikan sebuah ikat kepala kepada Surati dan memintanya menyimpan benda itu di bawah tempat tidur.

Tak berhenti di situ, Rupaksa menyusun siasat licik. Ia menemui Raden Banterang di hutan dan memperingatkan bahwa Surati berniat membunuhnya. Ia bahkan menyebutkan adanya ikat kepala di bawah bantal sebagai bukti perselingkuhan dan rencana pembunuhan.

Amarah yang Membutakan

Mendengar tuduhan tersebut, Raden Banterang pulang ke istana dan memeriksa kamar istrinya. Benar saja, ia menemukan ikat kepala seperti yang dikatakan lelaki misterius itu. Tanpa berpikir panjang, ia menuduh Surati berkhianat.

Meski Surati telah menjelaskan bahwa ikat kepala itu pemberian kakaknya, Raden Banterang tetap tidak percaya. Amarah dan rasa curiga menguasai pikirannya.

Ia kemudian membawa Surati ke sebuah sungai dengan niat menghabisi nyawa istrinya sebelum dirinya dicelakai. Di tepi sungai, Surati kembali menjelaskan kebenaran. Namun Banterang tetap bersikukuh pada keyakinannya.

Sumpah dan Lahirnya Nama Banyuwangi

Mengetahui ajalnya sudah dekat, Surati mengucapkan sumpah terakhir. Ia berkata akan melompat ke sungai. Jika air berubah menjadi bening dan harum, berarti ia tidak bersalah. Namun jika tetap keruh dan berbau busuk, maka ia memang bersalah.

Tanpa belas kasihan, Raden Banterang menghunus keris. Surati menghindar dan melompat ke tengah sungai. Tak lama kemudian, keajaiban terjadi. Air sungai yang semula biasa saja mendadak memancarkan aroma harum dan terlihat semakin jernih.

Saat itu pula Raden Banterang tersadar. Ia telah termakan fitnah. Penyesalan mendalam menghantam hatinya. Ia meratapi kepergian istrinya dan menyadari kesalahan fatal yang telah dilakukan.

Sejak peristiwa tersebut, sungai itu dikenal sebagai Banyuwangi. Dalam bahasa Jawa, “banyu” berarti air dan “wangi” berarti harum. Dari situlah asal usul Kota Banyuwangi berasal.

Pesan Moral Legenda Banyuwangi

Legenda asal usul Kota Banyuwangi mengandung pesan moral tentang bahaya fitnah dan pentingnya kepercayaan dalam rumah tangga. Amarah yang tak terkendali dapat menghancurkan cinta dan menimbulkan penyesalan seumur hidup.

Hingga kini, cerita Raden Banterang dan Surati tetap hidup dalam tradisi lisan masyarakat Jawa Timur. Nama Banyuwangi bukan sekadar penanda wilayah, tetapi simbol kesucian yang terbukti lewat pengorbanan.

Kisah tragis ini menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Banyuwangi dan terus diceritakan lintas generasi.

 

 

Editor : Edo Trianto
#banyuwangi #sejarah #Legenda Banyuwangi #asal usul #Raden Banterang