RADAR TULUNGAGUNG - Asal usul Banyuwangi tak lepas dari legenda tragis Sri Tanjung dan Sidapaksa, kisah cinta yang hancur akibat fitnah dan berakhir dengan lahirnya nama “air yang harum”. Cerita rakyat dari ujung timur Jawa Timur ini menjadi bagian penting sejarah dan identitas budaya masyarakat Banyuwangi hingga kini.
Dalam legenda yang berkembang turun-temurun, Kerajaan Blambangan berdiri sebagai kerajaan strategis di timur Pulau Jawa. Letaknya yang menghadap Selat Bali menjadikannya pusat perdagangan sekaligus incaran kekuatan besar seperti Majapahit, Mataram Islam, hingga kolonial Belanda.
Kerajaan itu dipimpin raja bijaksana bernama Prabu Menak Semuyu. Ia memiliki putri cantik jelita bernama Sri Tanjung, yang terkenal karena kecantikan dan kesantunannya. Banyak bangsawan ingin meminangnya, tetapi sang raja memilih calon yang benar-benar setia dan berjiwa ksatria.
Pilihan itu jatuh kepada Raden Sidapaksa, prajurit tangguh yang telah membuktikan kesetiaannya dalam berbagai peperangan. Pernikahan Sri Tanjung dan Sidapaksa berlangsung meriah dan menjadi kebanggaan rakyat Blambangan.
Fitnah yang Menghancurkan Rumah Tangga
Awalnya kehidupan rumah tangga mereka harmonis. Namun situasi berubah ketika Sidapaksa mulai terpengaruh bisikan jahat. Dalam beberapa versi cerita, musuh kerajaan menyebarkan fitnah bahwa Sri Tanjung berselingkuh saat Sidapaksa bertugas.
Rasa cemburu dan amarah perlahan menguasai hati sang ksatria. Ia yang dahulu gagah dan penuh cinta, berubah menjadi suami yang dipenuhi prasangka. Sri Tanjung yang tak bersalah harus menghadapi tuduhan menyakitkan dari orang yang paling dicintainya.
Meski menangis dan bersumpah atas kesuciannya, Sidapaksa menolak mendengar penjelasan. Ia ingin membuktikan kebenaran dengan cara yang kejam.
Sumpah Kesucian di Tepi Sungai
Dalam puncak tragedi asal usul Banyuwangi ini, Sidapaksa membawa Sri Tanjung ke tepi sungai yang airnya keruh. Di tempat itulah ia berniat mengakhiri hidup istrinya yang dianggap telah mencoreng kehormatan.
Sri Tanjung berdiri tegar. Dengan suara lirih namun penuh keyakinan, ia mengucapkan sumpah terakhir. Jika dirinya benar-benar bersalah, maka darahnya akan membuat air sungai semakin busuk dan keruh. Namun jika ia suci dan setia, air sungai akan berubah jernih dan mengeluarkan aroma harum.
Tanpa memberi kesempatan lebih lama, Sidapaksa menghunus kerisnya. Sri Tanjung gugur di tepi sungai. Keheningan mencekam menyelimuti suasana.
Tak lama kemudian, keajaiban terjadi. Air sungai yang semula keruh perlahan menjadi jernih. Aroma harum menyebar lembut di udara malam. Penduduk desa yang menyaksikan peristiwa itu tertegun.
Saat itulah Sidapaksa tersadar. Ia telah membunuh istri yang suci. Penyesalan menghantam batinnya. Ia menyebut berulang kali kata “Banyu Wangi” yang berarti air yang harum.
Baca Juga: Legenda Leak Bali dan Randa Penguasa Ilmu Hitam, Dendam Berdarah hingga Wabah Mematikan di Desa
Dari Tragedi Menjadi Nama Abadi
Sejak peristiwa tersebut, sungai itu dikenal dengan nama Banyuwangi. Kata “banyu” berarti air, dan “wangi” berarti harum dalam bahasa Jawa. Nama itu kemudian melekat pada wilayah yang berkembang menjadi kota dan kabupaten Banyuwangi seperti yang dikenal sekarang.
Legenda Sri Tanjung tidak berhenti pada kematian tragisnya. Masyarakat setempat percaya arwah Sri Tanjung menjadi simbol kesucian dan perlindungan bagi wilayah tersebut. Setiap tahun, warga mengadakan upacara penghormatan di tepi sungai untuk mengenang pengorbanannya.
Sementara itu, Sidapaksa hidup dalam penyesalan mendalam. Dalam berbagai cerita, ia memilih mengasingkan diri menjadi pertapa demi menebus dosa. Ada pula yang percaya ia terus dihantui bayangan Sri Tanjung hingga akhir hayatnya.
Pesan Moral Legenda Banyuwangi
Asal usul Banyuwangi melalui kisah Sri Tanjung dan Sidapaksa mengajarkan nilai penting tentang kepercayaan dan bahaya fitnah. Cemburu yang tak terkendali dapat menghancurkan cinta dan membawa penyesalan sepanjang hidup.
Legenda ini juga menegaskan bahwa kebenaran pada akhirnya akan terungkap. Kesucian Sri Tanjung terbukti bukan melalui kata-kata, melainkan melalui keajaiban yang menjadi saksi sejarah.
Hingga kini, nama Banyuwangi tetap harum, bukan hanya karena arti bahasanya, tetapi juga karena kisah pengorbanan seorang perempuan yang membuktikan kesetiaannya dengan nyawa.
Editor : Edo Trianto