Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Jejak Lontar Merapi Merbabu Bukan Lari ke Bali, Filolog Ungkap Fakta Mengejutkan Pasca Runtuhnya Majapahit

Edo Trianto • Senin, 23 Februari 2026 | 23:28 WIB

Jejak Lontar Merapi Merbabu Bukan Lari ke Bali, Filolog Ungkap Fakta Mengejutkan Pasca Runtuhnya Majapahit
Jejak Lontar Merapi Merbabu Bukan Lari ke Bali, Filolog Ungkap Fakta Mengejutkan Pasca Runtuhnya Majapahit

RADAR TULUNGAGUNG - Lontar Merapi Merbabu kembali menjadi sorotan setelah seorang filolog muda, Rendra Agusta, mengungkap fakta mengejutkan tentang keberlanjutan tradisi penulisan naskah Jawa pasca runtuhnya Majapahit. Selama ini, banyak buku sejarah menyebut para pujangga dan penulis lontar melarikan diri ke Bali setelah keruntuhan kerajaan besar itu. Namun, penelitian terbaru menunjukkan Lontar Merapi Merbabu justru menjadi mata rantai penting yang membuktikan tradisi literasi Jawa tetap hidup di pegunungan Jawa Tengah hingga abad ke-17.

Dalam perbincangan di Solo, Rendra menegaskan bahwa naskah-naskah Merapi Merbabu diproduksi di kawasan pegunungan, mencakup rentang abad ke-15 hingga akhir abad ke-17. Artinya, tradisi tulis-menulis tidak terputus begitu saja setelah Majapahit runtuh, melainkan terus berkembang bahkan pada masa Mataram Islam dan Kartasura.

“Ini menjadi bukti bahwa sastra Jawa kuno tidak mati. Justru ada penyambung antara Jawa Kuna dan Jawa Baru,” jelas Rendra.

Mata Rantai yang Hilang dalam Sejarah

Selama ini, narasi umum menyebut pusat kebudayaan klasik berpindah ke Bali. Namun, penelitian terhadap Lontar Merapi Merbabu menunjukkan bahwa di lereng Gunung Merapi dan Merbabu tetap berlangsung produksi pengetahuan, baik berbentuk kakawin, primbon, hingga teks keagamaan.

Menariknya, dalam satu naskah ditemukan dua jenis aksara sekaligus, yakni aksara Kawi dan aksara Jawa Baru. Bahkan terdapat aksara serapan Pegon yang menunjukkan pengaruh Islam. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa proses Islamisasi di Jawa berlangsung secara gradual dan damai, terutama di wilayah pegunungan.

Beberapa naskah bahkan memuat kalimat pembuka seperti “Bismillahirrahmanirrahim” dalam teks berbahasa Jawa Kuna. Ini menjadi indikasi kuat bahwa komunitas penulis di Merapi Merbabu sangat terbuka terhadap perkembangan agama dan budaya baru.

Naskah Dibawa Kolonial, Desa Kehilangan Ingatan

Tantangan terbesar penelitian Lontar Merapi Merbabu adalah keterbatasan akses. Sejak pertengahan abad ke-19, banyak naskah dibawa ke Batavia oleh pemerintah kolonial Belanda, lalu tersebar ke Belanda, Jerman, Prancis, hingga Inggris.

Akibatnya, desa-desa asal penulisan naskah kehilangan memori kolektifnya. Kini, sebagian besar masyarakat tidak lagi mampu membaca lontar yang mereka sakralkan. Ada satu naskah tersisa di lereng barat Merbabu yang hanya boleh dibuka dua kali setahun, tepat pada 2 Sapar dan 2 Syawal.

Naskah itu sempat tak bisa dibuka selama empat setengah tahun karena dalang penjaganya wafat. Saat akhirnya diperiksa kembali, kondisi lontar sudah lembap dan berjamur. Komunitas filolog harus melakukan konservasi manual dengan cara diangin-anginkan dan dibersihkan secara tradisional.

Baca Juga: Asal Usul Suku Madura dari Prabu Truno dan Jokotole, Epos Pulau Madu yang Jadi Cikal Bakal Peradaban Tangguh

Dari Primbon Obat hingga Ruwatan Wayang

Isi Lontar Merapi Merbabu tidak hanya berkutat pada ajaran keagamaan. Ada naskah primbon padukungan yang memuat ratusan resep obat tradisional berbahan tanaman. Bahkan tercatat metode organik untuk mengusir hama wereng di sawah.

Selain itu, terdapat teks mantra kematian jenis putru, yang memetakan perjalanan jiwa setelah wafat. Tradisi serupa masih dikenal dalam ritual Bali sebagai prosesi mamutru.

Penelitian juga menemukan keterkaitan dengan tradisi ruwatan wayang, seperti lakon Sudamala yang reliefnya bisa dilihat di Candi Sukuh. Hal ini menunjukkan kesinambungan tradisi spiritual dari masa klasik hingga era Islam.

Lontar Islam dan Pertukaran dengan Kambing

Fakta lain yang tak kalah mengejutkan adalah ditemukannya 32 lontar bernuansa Islam di kawasan Merapi Merbabu. Sebagian menggunakan aksara Jawa Kuna, namun memuat ajaran sufistik dan kisah nabi.

Ada pula kisah manuskrip yang hampir dikubur karena dianggap tak berguna. Komunitas peneliti akhirnya menukar lima manuskrip dengan seekor kambing saat menjelang Idul Adha demi menyelamatkan teks tersebut dari kolektor luar negeri.

Rendra menyebut tugas filolog bukan sekadar alih aksara dan terjemahan, tetapi juga menjembatani masyarakat dengan warisan intelektualnya. Ia mendorong peneliti muda untuk turun langsung ke desa dan gunung, bukan hanya bekerja di perpustakaan.

  1. Menjungkirbalikkan Teori Lama

Temuan Lontar Merapi Merbabu seakan menjungkirbalikkan teori lama bahwa Jawa kehilangan tradisi tulis setelah era klasik. Bahkan beberapa naskah Merbabu bertarikh lebih tua dibandingkan koleksi lontar di Bali.

Artinya, Jawa tidak sepenuhnya bergantung pada Bali dalam pelestarian sastra kuno. Justru kawasan pegunungan menjadi benteng terakhir yang menjaga kesinambungan literasi Nusantara.

Kini, tantangan terbesar adalah distribusi pengetahuan sebelum naskah fisiknya hancur dimakan usia. Sebab, yang harus abadi bukan medianya, melainkan isi dan nilai yang dikandungnya.

 

 

Editor : Edo Trianto
#majapahit #Islamisasi Jawa Timur #filologi #kisah #naskah jawa kuno