Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Siapa Pewaris Sejati Majapahit? Jejak Warisan Majapahit di Kerajaan Islam Jawa Bongkar Mitos Bali

Edo Trianto • Senin, 23 Februari 2026 | 23:34 WIB

Siapa Pewaris Sejati Majapahit? Jejak Warisan Majapahit di Kerajaan Islam Jawa Bongkar Mitos Bali
Siapa Pewaris Sejati Majapahit? Jejak Warisan Majapahit di Kerajaan Islam Jawa Bongkar Mitos Bali

RADAR TULUNGAGUNG - Siapa sebenarnya pewaris sejati Majapahit? Pertanyaan ini kembali mengemuka di tengah perdebatan publik soal warisan Majapahit antara Jawa dan Bali. Banyak yang meyakini Bali adalah penerus langsung karena kesamaan agama dan tradisi. Namun, penelusuran sejarah menunjukkan warisan Majapahit justru hidup kuat di kerajaan-kerajaan Islam Jawa.

Warisan Majapahit tidak serta-merta lenyap setelah runtuh pada akhir abad ke-15. Justru, ketika kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak, Pajang, hingga Mataram bangkit, banyak unsur budaya, tata kota, hingga konsep kepemimpinan Majapahit tetap dipertahankan dan dimodifikasi.

Dari arsitektur masjid kuno, tradisi lebaran, hingga wayang kulit, jejak warisan Majapahit terlihat jelas dalam kehidupan masyarakat Jawa sampai hari ini. Lalu, apakah benar Bali satu-satunya pewaris? Atau justru Jawa Islam menyimpan mata rantai yang tak terputus?

Masjid Kuno Jawa, Jejak Arsitektur Majapahit

Salah satu bukti paling nyata adalah arsitektur masjid kuno di Jawa. Di Masjid Agung Demak, misalnya, terlihat ragam hias khas candi seperti medalion, sulur, dan tumpal. Atap tumpang bertingkat tiga yang menjadi ciri masjid-masjid tua diyakini berakar dari konsep kosmologi Gunung Mahameru pada masa klasik.

Konsep tata ruang juga menunjukkan kesinambungan. Kitab Negarakertagama mencatat bahwa istana Majapahit berada di selatan alun-alun Wanguntur. Pola ini identik dengan tata kota keraton Islam di Jawa: alun-alun, keraton, dan Masjid Agung menjadi satu kesatuan.

Pemakaman tokoh-tokoh penting pun masih mengikuti tradisi lama yang memuliakan dataran tinggi. Makam Sunan Giri berada di bukit Gresik, sementara raja-raja Mataram dimakamkan di Imogiri.

Konsep Raja Sejagat dan Asta Brata

Warisan Majapahit juga tampak dalam konsep kepemimpinan. Gelar “Susuhunan” yang digunakan raja-raja Mataram Islam memiliki kemiripan dengan istilah cakrawartin—raja sejagat dalam tradisi Hindu-Buddha.

Menariknya, salinan tertua Pararaton ditulis pada masa pemerintahan Anyokrowati (1601–1613). Dalam teks itu muncul istilah “Anyakrawarti” yang merujuk pada penguasa ideal, seolah menjadi jembatan antara Majapahit dan Mataram.

Konsep Asta Brata—delapan sifat kepemimpinan raja—yang bersumber dari Kakawin Ramayana tetap dipertahankan dalam sastra Jawa baru abad ke-17 dan 18. Artinya, ideologi politik Majapahit tidak hilang, melainkan bertransformasi.

Baca Juga: Asal Usul Pulau Madura dan Legenda Raden Sagoro, Kisah Putri Bendorogung hingga Pusaka Keraton Bangkalan yang Masih Disakralk

Kupat, Lepet, dan Bahasa yang Bertahan

Warisan Majapahit juga hadir dalam tradisi Idul Fitri. Ketupat dan lepet bukan sekadar simbol “ngaku lepat” seperti tafsir modern. Dalam kakawin periode Kadiri abad 11–12, kupat sudah disebut sebagai bagian dari tradisi masyarakat Jawa kuno.

Diduga, ketupat dahulu berkaitan dengan pemujaan Dewi Sri sebagai simbol kesuburan. Bahkan hingga kini, sebagian masyarakat Jawa masih menggantung ketupat di pintu sebagai penolak bala—mirip fungsi simbol tapak darah pada candi.

Bahasa pun menyimpan jejak klasik. Kata “puasa” berasal dari upawasa (Sansakerta), “surga” dari swargaloka, dan “neraka” dari naraka. Istilah ini digunakan jauh sebelum Islam berkembang di Jawa, lalu diserap ke dalam praktik keagamaan baru.

 

Nyadran dan Baca Juga: Sejarah Suku Madura dari Zaman Proto Melayu hingga Era Modern: Asal Usul, Perlawanan, dan Tradisi Karapan Sapi yang Mendunia

Wayang, Warisan yang Dimodifikasi

Tradisi nyadran menjelang Ramadan juga diduga berakar dari upacara serada pada masa Majapahit, yang tercatat detail dalam Negarakertagama. Upacara itu untuk mengenang arwah leluhur, lengkap dengan arak-arakan dan doa bersama.

Sementara wayang kulit, yang sering diklaim sebagai ciptaan Wali Songo, sebenarnya sudah ada sejak abad ke-9. Prasasti zaman Airlangga menyebut istilah “Awayang”, dan relief wayang pipih terlihat di Candi Jago.

Pada masa Islam, wayang dimodifikasi sebagai media dakwah. Tokoh Semar yang awalnya figur jenaka dalam sastra klasik diberi makna spiritual baru. Namun akar budayanya tetap dari tradisi Majapahit.

Jawa atau Bali?

Di Bali, babad-babad lokal memang menegaskan kesinambungan trah Majapahit. Namun di Jawa, Babad Tanah Jawi juga menyatakan kerajaan Islam sebagai penerus Majapahit.

Faktanya, warisan Majapahit tidak semata soal agama atau garis keturunan. Ia hidup dalam arsitektur, konsep kepemimpinan, bahasa, kuliner, hingga tradisi sosial masyarakat Jawa Islam.

Dengan demikian, pewaris sejati Majapahit bukan ditentukan oleh wilayah atau keyakinan, melainkan oleh siapa yang menjaga nilai toleransi, kebudayaan, dan penghormatan pada sejarah.

 

 

Editor : Edo Trianto
#Masjid Agung Demak #warisan majapahit #majapahit #Islam Jawa #tradisi nyadran