RADAR TULUNGAGUNG - Agama Gajah Mada kembali jadi perdebatan publik. Di media sosial, sempat beredar klaim bahwa Mahapatih Majapahit itu beragama Islam bahkan disebut bernama “Gaj Ahmada”. Namun, benarkah agama Gajah Mada seperti itu?
Isu agama Gajah Mada memang kerap memancing rasa penasaran. Sosoknya yang legendaris sebagai arsitek kejayaan Majapahit membuat banyak orang ingin tahu latar belakang spiritualnya. Sayangnya, tidak sedikit narasi yang beredar tanpa berpijak pada sumber primer sejarah.
Padahal, jika menelusuri sumber utama Majapahit seperti kakawin dan prasasti, jawaban tentang agama Gajah Mada justru mengarah pada kesimpulan berbeda. Sejumlah sejarawan menilai, agama Gajah Mada kemungkinan besar adalah Buddha atau dalam istilah Jawa Kuno disebut Sogata.
Menelusuri Sumber Primer Majapahit
Untuk mengetahui agama Gajah Mada, pendekatan yang digunakan adalah metodologi sejarah melalui kritik sumber. Artinya, rujukan utama harus berasal dari sumber primer, bukan babad atau cerita rakyat yang ditulis jauh setelah peristiwa terjadi.
Salah satu sumber terpenting adalah Negarakertagama karya Mpu Prapanca tahun 1365. Dalam naskah ini disebutkan bahwa Gajah Mada menerima daerah lungguh atau wilayah anugerah dari raja, yakni Madakaripura.
Menariknya, Madakaripura dalam teks tersebut disebut sebagai “Dharma Kasogatan”. Istilah Kasogatan merujuk pada komunitas atau wilayah penganut Buddha (Sogata). Sementara kata “dharma” dalam konteks Jawa Kuno sering dimaknai sebagai bangunan suci atau tempat ibadah.
Logikanya, kecil kemungkinan wilayah bercorak Buddha diberikan kepada pejabat tinggi yang berbeda keyakinan. Karena itu, banyak sejarawan menyimpulkan bahwa agama Gajah Mada kemungkinan besar adalah Buddha.
Madakaripura dan Jejak Kasogatan
Nama Madakaripura kini identik dengan air terjun di Probolinggo yang populer sebagai lokasi pertapaan Gajah Mada. Namun, sejumlah peneliti mengingatkan bahwa lokasi tersebut belum tentu identik dengan desa lungguh yang disebut dalam Negarakertagama.
Yang jelas, penyebutan “Dharma Kasogatan” menjadi petunjuk kuat. Dalam tradisi Jawa Kuno, istilah Sogata secara eksplisit merujuk pada Buddha. Artinya, secara tekstual ada indikasi kuat bahwa agama Gajah Mada beririsan dengan ajaran Buddha.
Sayangnya, berbeda dengan raja-raja Majapahit, Gajah Mada bukan raja dan tidak didarmakan dalam candi tertentu. Karena itu, tidak ditemukan arca perwujudan yang bisa menjadi bukti visual tentang afiliasi keagamaannya.
Cara Mengidentifikasi Agama Tokoh Nusantara Klasik
Dalam kajian sejarah Jawa Kuno, ada beberapa cara untuk mengetahui agama seorang tokoh.
Pertama, melalui gelar resmi saat naik tahta (abiseka). Misalnya, raja Kadiri seperti Jayabaya memiliki unsur gelar yang merujuk pada Wisnu, menunjukkan kecenderungan Waisnawa.
Kedua, melalui jabatan keagamaan. Mpu Prapanca sendiri diketahui menjabat Dharmadaksa ring Kasogatan, yang berarti pejabat tinggi urusan Buddha.
Ketiga, melalui arca pendarmaan dan candinya. Dalam Pararaton disebutkan bahwa Anusapati didarmakan sebagai Wisnu di Candi Gidal. Sementara Wisnuwardhana didarmakan sebagai Siwa di Waleri dan sebagai Buddha di Candi Jago.
Dari pola itu terlihat bahwa identifikasi agama tokoh klasik biasanya bersandar pada data tekstual dan arkeologis. Dalam kasus agama Gajah Mada, satu-satunya petunjuk kuat memang berasal dari status Madakaripura sebagai Dharma Kasogatan.
Bantahan Klaim Majapahit Kerajaan Islam
Narasi yang menyebut Majapahit sebagai kerajaan Islam juga bertentangan dengan bukti arkeologis dan sastra. Candi-candi, arca, serta kakawin yang diwariskan menunjukkan dominasi tradisi Hindu-Buddha.
Penemuan koin bertuliskan Arab yang kerap dijadikan dasar klaim dinilai tidak cukup kuat. Sebab, Majapahit juga menggunakan kepeng dari Tiongkok dalam jumlah besar, tanpa berarti menjadi kerajaan Tiongkok.
Dengan demikian, kesimpulan mengenai agama Gajah Mada harus berpijak pada sumber primer. Berdasarkan Negarakertagama dan konteks Madakaripura sebagai wilayah Kasogatan, besar kemungkinan Mahapatih legendaris itu beragama Buddha.
Namun, ada satu hal penting yang juga bisa dipetik dari sejarah. Dalam Negarakertagama, agama Gajah Mada tidak dijadikan sorotan utama. Yang ditonjolkan justru kiprah dan pengabdiannya bagi Majapahit.
Barangkali, pelajaran terpenting dari perdebatan agama Gajah Mada adalah bahwa dalam sejarah Nusantara, kontribusi dan integritas sering kali lebih dikenang daripada sekadar identitas keagamaan.
Editor : Edo Trianto