Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Jejak Peradaban Klasik di Demak Terungkap! Dari Arca Durga hingga Surya Majapahit di Masjid Agung Demak, Benarkah Kesultanan Demak Warisi Tradisi Hind

Edo Trianto • Senin, 23 Februari 2026 | 23:44 WIB

Jejak Peradaban Klasik di Demak Terungkap! Dari Arca Durga hingga Surya Majapahit di Masjid Agung Demak, Benarkah Kesultanan Demak Warisi Tradisi Hindu-Buddha?
Jejak Peradaban Klasik di Demak Terungkap! Dari Arca Durga hingga Surya Majapahit di Masjid Agung Demak, Benarkah Kesultanan Demak Warisi Tradisi Hindu-Buddha?

 

RADAR TULUNGAGUNG - Jejak peradaban klasik di Demak kembali mencuri perhatian. Di tengah narasi besar tentang Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa, temuan arca Durga, Ganesha, hingga simbol Surya Majapahit di Masjid Agung Demak memantik pertanyaan: benarkah Demak sepenuhnya lepas dari tradisi Hindu-Buddha?

Isu ini mengemuka setelah penelusuran sejumlah situs kuno di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Penelusuran tersebut mengungkap bahwa jejak peradaban klasik di Demak justru cukup kuat dan berlapis, bahkan diduga lebih tua dari berdirinya Kesultanan Demak pada awal abad ke-16.

 

Arca Durga di Tengah Makam

Penelitian lapangan dimulai dari Desa Widodo, Kecamatan Karang Tengah. Di sebuah area makam, ditemukan arca Durga Mahesasuramardini berlengan delapan. Meski sebagian telah rusak, ikonografi khasnya masih jelas: Durga berdiri di atas kerbau Mahesa, memegang senjata seperti cakra dan pedang.

Temuan ini mengejutkan. Selama ini Demak identik dengan kota wali dan pusat penyebaran Islam. Namun keberadaan arca Durga menunjukkan bahwa wilayah ini pernah menjadi bagian dari lanskap religius Hindu klasik, sebagaimana terliBaca Juga: Jejak Lontar Merapi Merbabu Bukan Lari ke Bali, Filolog Ungkap Fakta Mengejutkan Pasca Runtuhnya Majapahit 

di Candi Prambanan yang juga memiliki arca Durga serupa.

 

Situs Dudukan dan Dugaan Struktur Candi

Penelusuran berlanjut ke Situs Dudukan di Desa Blorong, Kecamatan Guntur. Di sana ditemukan Yoni besar, arca Ganesha, lingga semu, serta bata kuno. Meski tak ada bangunan utuh, komponen-komponen ini mengindikasikan keberadaan struktur candi yang telah lenyap.

Arca Ganesha yang ditemukan memperlihatkan ciri klasik: berkepala gajah, duduk bersila, dengan empat tangan memegang kapak, modaka, aksamala, dan danta. Detail ini menguatkan dugaan bahwa kawasan tersebut merupakan pusat pemujaan Hindu, kemungkinan dari masa Medang abad ke-9 atau era Kediri abad ke-11.

Artefak-artefak ini bahkan telah dicatat pemerintah kolonial Belanda sejak 1910–1914, menandakan keberadaannya bukan temuan baru, melainkan warisan lama yang terlupakan.

Baca Juga: Jejak Lontar Merapi Merbabu Bukan Lari ke Bali, Filolog Ungkap Fakta Mengejutkan Pasca Runtuhnya Majapahit

Masjid Agung Demak dan Simbol Klasik

Jejak peradaban klasik di Demak semakin menarik ketika penelusuran beralih ke Masjid Agung Demak. Masjid yang diyakini didirikan para Wali Songo ini menyimpan simbol-simbol yang akrab dalam tradisi Hindu-Buddha.

Di bagian mihrab terdapat hiasan Surya Majapahit, simbol kosmologis yang lekat dengan Kerajaan Majapahit. Surya Majapahit berakar pada konsep astadikpalaka, yakni delapan dewa penjuru mata angin dalam kosmologi Hindu.

Atap masjid berbentuk tumpang tiga juga menarik perhatian. Struktur ini menyerupai konsep Meru bertingkat dalam arsitektur klasik Jawa, yang melambangkan triloka: bhurloka (alam bawah), bhuvarloka (alam tengah), dan swarloka (alam dewa). Model atap semacam ini juga terlihat di sejumlah masjid kuno lain seperti Menara Kudus.

Catatan Sumber Sezaman

Kekosongan sumber primer dari internal Demak membuat sejarawan mengandalkan catatan asing. Salah satunya adalah Tomé Pires dalam karya Suma Oriental. Ia mencatat bahwa pada abad ke-16, para pendeta Siwa-Buddha masih aktif di Jawa, bahkan ketika Demak telah berdiri sebagai kerajaan Islam.

Hal ini menunjukkan bahwa transisi dari era klasik ke Islam tidak berlangsung secara abrupt, melainkan melalui proses akulturasi panjang.

Gunung Muria dan Konsep Mahameru

Secara geografis, Demak berada dekat Gunung Muria yang pada masa lampau dipisahkan selat dari Pulau Jawa. Dalam kosmologi Jawa kuno, konsep Mahameru—gunung suci di pusat jagat—sangat penting. Sebagian peneliti menduga nama Muria berasal dari kata “Meruya” atau Meru.

Jika hipotesis ini benar, maka kawasan Demak dan sekitarnya telah memiliki signifikansi religius sejak masa klasik, jauh sebelum munculnya Kesultanan Demak.

Akulturasi, Bukan Penghapusan

Jejak peradaban klasik di Demak memperlihatkan bahwa lahirnya Kesultanan Demak bukanlah titik putus dari masa lalu Hindu-Buddha, melainkan fase transformasi. Tokoh seperti Sunan Kalijaga dikenal mengadaptasi budaya lokal—wayang, simbol kosmologis, hingga arsitektur—sebagai media dakwah.

Arca Durga, Ganesha, hingga simbol Surya Majapahit bukan sekadar artefak, tetapi bukti bahwa sejarah Jawa dibangun di atas lapisan-lapisan peradaban yang saling bertaut.

Demak memang kota wali. Namun di balik identitas Islamnya, tersimpan warisan klasik yang memperkaya, bukan menegasikan, jati dirinya.

 

 

 

Editor : Edo Trianto
#majapahit #surya majapahit #asal usul #kerajaan #kisah