Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Misteri Semar di Candi Majapahit Terbongkar! Benarkah Bukan Dewa, tapi Panakawan Biasa yang “Naik Level” di Era Islam?

Edo Trianto • Senin, 23 Februari 2026 | 23:50 WIB

 

Misteri Semar di Candi Majapahit Terbongkar! Benarkah Bukan Dewa, tapi Panakawan Biasa yang “Naik Level” di Era Islam?
Misteri Semar di Candi Majapahit Terbongkar! Benarkah Bukan Dewa, tapi Panakawan Biasa yang “Naik Level” di Era Islam?

RADAR TULUNGAGUNG - Misteri Semar di Candi Majapahit kembali memicu perdebatan. Selama ini, Semar dikenal sebagai tokoh sakral dalam dunia wayang Jawa, bahkan disebut sebagai Danyang Pulau Jawa dan simbol ketuhanan tunggal. Namun, benarkah figur bertubuh bulat itu memang sudah dianggap dewa sejak zaman Majapahit?

Penelusuran terhadap relief-relief candi era Singhasari dan Majapahit justru menghadirkan fakta berbeda. Misteri Semar di Candi Majapahit mengarah pada kesimpulan bahwa sosok bertubuh pendek dan tambun di relief bukanlah jelmaan Sanghyang Ismaya, melainkan panakawan biasa—abdi setia bangsawan.

Lalu bagaimana prosesnya hingga Semar “naik level” menjadi figur sakral dalam tradisi Jawa Baru dan bahkan dikaitkan dengan dakwah Islam?

Relief Panakawan di Candi Era Klasik

Jejak awal misteri Semar di Candi Majapahit bisa ditelusuri di Candi Jago. Candi abad ke-13 ini dibangun pada masa Singhasari dan dipugar pada era Majapahit. Dalam relief cerita Arjuna Wiwaha dan Partayajna, tampak figur panakawan bertubuh bulat mendampingi ksatria.

Namun ada satu detail penting: ketika Batara Guru turun, panakawan itu ikut menyembah. Jika sosok tersebut adalah Semar—yang dalam versi Jawa Baru dianggap saudara Batara Guru—tentu adegan itu menjadi janggal.

Relief serupa juga muncul di Candi Surowono dan Candi Tegowangi. Di sana, panakawan digambarkan kocak, genit, bahkan lebih sibuk bercanda saat tuannya bertapa atau bertarung. Sifat ini lebih dekat pada abdi pengiring ketimbang figur ilahi.

Kompleks Candi Penataran juga memperlihatkan figur bertubuh pendek dan bongkok di lingkungan istana. Artinya, sosok-sosok ini merupakan bagian dari realitas sosial masa itu.

Rahasia Abdi Istana dan “Kesaktian”

Prasasti Jawa Kuno seperti Prasasti Cane (1021 M) menyebut adanya kelompok pegawai istana bernama Mangilala Drawya Haji. Di dalamnya termasuk abdi dengan kondisi fisik berbeda: pandak (cebol), wungkuk (bungkuk), hingga kadi (transpuan).

Sejarawan seperti M. C. Ricklefs menjelaskan bahwa dalam tradisi Nusantara, kelompok dengan kondisi fisik unik sering dipercaya memiliki kekuatan spiritual. Bahkan di Sulawesi dikenal komunitas Bissu yang dianggap penjaga keseimbangan dunia.

Diduga, kehadiran panakawan bertubuh unik di sekitar raja berkaitan dengan kepercayaan Austronesia tentang kesaktian. Mereka bukan dewa, tetapi manusia biasa yang memiliki peran simbolik dan spiritual.

Dengan demikian, misteri Semar di Candi Majapahit perlahan terurai: figur bulat di relief kemungkinan besar adalah panakawan nyata, bukan inkarnasi dewa.

Kemunculan Nama Smar dalam Sastra

Nama yang mendekati “Semar” pertama kali muncul dalam Kidung Sudamala akhir Majapahit, yakni tokoh Smar—abdi Sadewa. Dalam kisah itu, Smar justru tampil jenaka dan cenderung penakut.

Artinya, pada era klasik, Smar atau panakawan belum diposisikan sebagai figur adikodrati. Ia hanyalah karakter sastra pengiring cerita religius.

Transformasi di Era Jawa Baru

Perubahan besar terjadi setelah runtuhnya Majapahit. Dalam Serat-Serat Jawa Baru seperti Serat Manikmaya dan Serat Purwacarita, Semar ditafsirkan sebagai jelmaan Sanghyang Tunggal atau bahkan penguasa alam.

Ia digambarkan tua sekaligus kanak-kanak, laki-laki sekaligus memiliki payudara, tersenyum namun menyimpan kesedihan. Simbol-simbol ini melambangkan konsep “sunya” atau kekosongan—inti spiritualitas Jawa.

Dalam periode inilah Semar menjadi pemimpin Punakawan: Nala Gareng, Petruk, dan Bagong. Dari abdi istana biasa, ia berubah menjadi figur kosmik yang bahkan ditakuti para dewa.

Dikaitkan dengan Walisongo

Tradisi lisan menyebut wayang sebagai media dakwah Walisongo. Dalam konteks ini, Semar dan Punakawan menjadi jembatan antara cerita ksatria India dengan rakyat kecil.

Makna simbolik pun berkembang. Wajah Semar yang mendongak diartikan sebagai ajakan menghadap Tuhan. Telunjuknya yang terangkat ditafsirkan sebagai simbol tauhid.

Namun klaim bahwa nama Semar berasal dari bahasa Arab seperti “ismar” dinilai tidak memiliki dasar filologis kuat. Lebih mungkin, Semar adalah produk kreatif sastra Jawa yang kemudian diberi makna baru sesuai zaman.

Bukan Tokoh Sejarah, tapi Warisan Budaya

Dari relief candi hingga serat Jawa Baru, misteri Semar di Candi Majapahit menunjukkan satu benang merah: ia bukan tokoh sejarah nyata, melainkan karakter sastra yang terus berevolusi.

Dari panakawan biasa di era Majapahit, menjadi simbol spiritual kosmik di era Jawa Baru, hingga dikaitkan dengan proses Islamisasi Jawa—Semar adalah cermin dinamika budaya Nusantara.

Dan mungkin di situlah kekuatannya: bukan sebagai dewa yang jauh di langit, melainkan sebagai figur sederhana yang mewakili suara rakyat, namun menyimpan makna terdalam tentang kehidupan.

 

 

 

Editor : Edo Trianto
#majapahit #candi jago #candi penataran #kerajaan #sejarah Majapahit