RADAR TULUNGAGUNG – Kisah Sejarah Lembu Peteng selalu menjadi bagian menarik dalam babat Jawa, terutama ketika menelusuri runtuhnya Majapahit dan lahirnya Mataram Islam.
Sosok yang dikenal juga sebagai Bondan Kajawan ini disebut-sebut sebagai darah langsung Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, yang hidup dalam bayang-bayang politik penuh gejolak.
Dalam berbagai sumber tutur, Kisah Sejarah Lembu Peteng bermula dari kelahirannya yang dirahasiakan.
Ia lahir dari Diah Nawang Sasi, putri Ki Ageng Tarub II.
Saat itu, Majapahit di bawah Sri Kertabumi atau Prabu Brawijaya V sedang terdesak oleh kekuatan baru dari Demak.
Situasi politik yang tidak stabil membuat garis keturunan kerajaan harus disembunyikan demi keselamatan.
Sejak awal, Kisah Sejarah Lembu Peteng sudah dibalut ketegangan.
Ia tidak dibesarkan sebagai pangeran istana, melainkan sebagai anak desa di Tarub.
Nama aslinya Bondan Kajawan, tetapi julukan Lembu Peteng yang berarti lembu hitam, melekat karena identitasnya sengaja disamarkan.
Lahir di Tengah Runtuhnya Majapahit
Menjelang akhir abad ke-15, Majapahit perlahan kehilangan pengaruhnya.
Kekuatan Islam pesisir yang dipimpin Kesultanan Demak semakin dominan.
Dalam babat Jawa disebutkan, Lembu Peteng tumbuh dengan kesadaran bahwa dirinya membawa dua beban, darah kerajaan dan ancaman politik.
Ki Ageng Tarub II mendidiknya dengan ilmu keprajuritan, kebijaksanaan Jawa, serta laku spiritual.
Namun satu pesan selalu diingatkan, agar ia tidak menonjolkan garis keturunan Majapahit.
Sebab, nama besar itu justru bisa menjadi petaka di tengah perubahan zaman.
Saat Majapahit benar-benar runtuh, Bondan Kajawan memilih pergi.
Ia hidup sebagai rakyat biasa, berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain.
Dalam beberapa kisah, ia disebut pernah menyusuri daerah pesisir untuk memahami perkembangan dakwah Islam yang dipelopori para wali.
Pertemuan dengan Sunan Ampel
Salah satu episode penting dalam Kisah Sejarah Lembu Peteng adalah pertemuannya dengan Sunan Ampel di kawasan Ampel.
Ia datang sebagai pengembara biasa, bukan sebagai bangsawan.
Di pesantren Ampel, ia sempat terlibat perselisihan dengan seorang pemuda.
Ketika situasi memanas dan keris hampir terhunus, Sunan Ampel turun tangan.
Dalam cerita tutur, keris yang diarahkan tidak mampu melukai sang wali. Peristiwa itu menjadi titik balik batin Bondan Kajawan.
Percakapan mereka disebut berlangsung tanpa paksaan.
Tidak ada catatan resmi detail isi dialog tersebut. Namun banyak babat sepakat, sejak pertemuan itu Lembu Peteng mulai membuka diri terhadap ajaran Islam, tanpa meninggalkan kebijaksanaan leluhur Jawa.
Ia tidak serta-merta berubah menjadi tokoh politik atau ulama.
Sebaliknya, ia kembali ke Tarub dan menjalani hidup sederhana. Pilihan itu justru menjadi fondasi sejarah berikutnya.
Pernikahan dan Lahirnya Garis Mataram
Sekembalinya ke Tarub, Bondan Kajawan dinikahkan dengan Diah Nawangsih.
Pernikahan itu sederhana, jauh dari kemegahan istana.
Namun dari keluarga inilah lahir tiga tokoh penting, Ki Ageng Wanasaba, Ki Getas Pandawa, dan Rara Kasihan atau Nyai Ageng Ngerang.
Nama terakhir memiliki posisi krusial dalam sejarah Jawa.
Dari garis keturunannya lahir Panembahan Senopati, pendiri Mataram Islam.
Dengan demikian, Lembu Peteng tercatat sebagai penghubung antara Majapahit dan Mataram.
Dalam konteks sejarah, ia bukan raja, bukan panglima perang, dan bukan pula penguasa wilayah luas.
Ia lebih dikenal sebagai sesepuh Tarub yang bijaksana.
Namun justru melalui jalur keluarga dan perkawinan inilah kesinambungan politik Jawa terjadi tanpa benturan besar.
Makam di Grobogan Jadi Titik Ziarah
Lembu Peteng wafat dan dimakamkan di Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan.
Pada awalnya, makamnya sederhana tanpa cungkup megah.
Baru setelah Mataram Islam berdiri dan silsilah kerajaan dirunut, namanya kembali disorot.
Peziarah datang bukan semata untuk ritual, melainkan untuk menapaktilasi sejarah.
Ia dikenang sebagai figur yang mampu menjaga keseimbangan di tengah peralihan dari Hindu-Buddha ke Islam.
Kisah Sejarah Lembu Peteng menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari medan perang.
Kadang ia tumbuh dari keputusan sunyi, menyembunyikan diri, membangun keluarga, dan menerima perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Dari Tarub yang tenang, seorang anak yang dulu disembunyikan karena alasan politik justru menjadi akar bagi dinasti besar.
Ia bukan bayangan sejarah. Ia adalah jembatannya.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan