RADAR TULUNGAGUNG - Kisah Airlangga dan Kerajaan Kediri bukan sekadar cerita sejarah biasa.
Ini adalah drama politik, tragedi berdarah, hingga kebangkitan seorang pangeran muda yang selamat dari pembantaian di hari pernikahannya sendiri.
Dari tragedi mahapralaya hingga membangun peradaban besar di Jawa Timur, nama Airlangga harum hingga kini.
Dalam narasi sejarah, Airlangga dan Kerajaan Kediri selalu dikaitkan dengan peristiwa kelam runtuhnya Mataram Kuno.
Pada tahun 1006 M, pesta pernikahan Airlangga yang baru berusia 16 tahun berubah menjadi pembantaian.
Raja bawahan bernama Wurawari menyerbu istana dan menewaskan Raja Dharmawangsa Teguh beserta keluarganya. Peristiwa ini dikenal sebagai Mahapralaya.
Namun takdir berkata lain. Airlangga selamat dan melarikan diri ke hutan Wanagiri bersama gurunya.
Dari titik nadir inilah kisah besar Airlangga dan Kerajaan Kediri bermula.
Dari Pelarian ke Penakluk Jawa Timur
Airlangga hidup sebagai pertapa sebelum akhirnya pada 1019 M dinobatkan menjadi raja.
Sejak itu, ia memulai serangkaian ekspedisi militer untuk menumpas para pemberontak yang memecah wilayah bekas Mataram Kuno.
Prasasti-prasasti seperti Pucangan dan Kamalagyan mencatat kemenangan demi kemenangan.
Ia mengalahkan Wurawari pada 1032 M, membasmi raja-raja daerah yang memberontak, hingga akhirnya berhasil memulihkan stabilitas politik Jawa Timur.
Dalam berbagai prasasti, Airlangga menyebut dirinya sebagai cakrawarti, penguasa ideal yang melindungi dunia.
Ia bahkan menegaskan legitimasi sebagai titisan Dewa Wisnu, simbol pemelihara alam dalam tradisi Hindu.
Reformasi Ekonomi dan Pembangunan
Tak hanya piawai di medan perang, Airlangga dikenal sebagai raja reformis.
Ia memindahkan ibu kota ke Kahuripan, mendekati aliran Sungai Brantas untuk memaksimalkan pertanian.
Salah satu proyek besarnya adalah pembangunan Bendungan Waringin Sapta untuk irigasi dan pengendalian banjir.
Ia juga mengembangkan pelabuhan Hujung Galuh yang diyakini sebagai cikal bakal Surabaya, serta pelabuhan Kambang Putih di Tuban sebagai pusat perdagangan antarwilayah.
Langkah ini dinilai strategis, terutama setelah Sriwijaya melemah akibat serangan Kerajaan Cola dari India.
Airlangga tampaknya melihat peluang untuk menjadikan Kediri sebagai pusat ekonomi baru di Nusantara.
Kebijakan Status Sima dan Kepemimpinan Dermawan
Ciri khas pemerintahan Airlangga adalah pemberian status sima, pembebasan pajak bagi desa atau kelompok yang berjasa.
Hampir seluruh dari 33 prasasti yang ia keluarkan berkaitan dengan anugerah ini.
Status sima diberikan kepada desa yang membantu perang, merawat bangunan suci, atau menjaga bendungan.
Kebijakan ini membuatnya dicintai rakyat. Ia bukan raja yang menumpuk pajak, melainkan penguasa yang memberi insentif atas kontribusi.
Di bidang keagamaan, Airlangga membangun tempat pertapaan dan mendukung kehidupan spiritual masyarakat.
Ia juga meninggalkan karya sastra monumental, Kakawin Arjuna Wiwaha yang digubah Empu Kanwa, menggambarkan raja ideal melalui sosok Arjuna.
Pembagian Kerajaan dan Warisan Panjang
Pada 1042 M, Airlangga turun takhta dan membagi wilayahnya menjadi dua, Jenggala di timur dan Panjalu (Daha/Kediri) di barat.
Keputusan ini diambil demi mencegah konflik perebutan kekuasaan di antara putra-putranya.
Namun sejarah mencatat pembagian itu justru memicu pertikaian panjang hingga akhirnya disatukan kembali oleh Raja Jayabaya pada 1135 M.
Meski Kerajaan Kediri akhirnya runtuh pada 1222 M setelah dikalahkan Ken Arok dari Singasari, warisan Airlangga tetap dikenang sebagai fondasi kejayaan Jawa Timur.
Kisah Airlangga dan Kerajaan Kediri adalah potret kepemimpinan yang bangkit dari kehancuran, membangun ekonomi, memperkuat legitimasi politik, dan meninggalkan jejak panjang dalam sejarah Nusantara.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan